Posisi Bergeser, Nyaris Roboh, Warga Nekat Melewati

372

Menilik Jembatan Kalijambe yang Rusak Tiga Bulan Lalu

Lantaran tergerus arus Sungai Sragi, pondasi Jembatan Desa Kalijambe, Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan, rusak berat dan bergeser hingga 30 sentimeter sejak 3 bulan lalu. Namun hingga kini tak kunjung diperbaiki. Seperti apa?

TAUFIK HIDAYAT, Kajen

JEMBATAN sepanjang 88 meter dengan lebar 9 meter ini, menghubungkan Kecamatan Sragi dan Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan. Namun kerusakan yang terjadi sejak 3 bulan lalu, jembatan tersebut tak lagi bisa dilalui kendaraan roda empat. Kalaupun menggunakan kendaraan motor roda dua, harus ekstra hati-hati. Pasalnya, jembatan tersebut selalu bergetar ketika dilalui.
”Kalau nekat lewat jembatan tersebut, rasanya seperti mau putus dan roboh. Selalu goyang dan mengeluarkan suara berdenyit,” kata Siti Romlah, 56, pedagang sayur keliling, Senin (23/6) siang kemarin.
Warga Desa Pantianom RT 03 RW 02, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, tak lagi berani naik sepeda motor di atas jembatan tersebut. Karena Jembatan Kalijambe merupakan satu-satunya jembatan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Sragi dan Bojong, dia terpaksa melewatinya. ”Kalau jembatannya sampai putus, mungkin saya tidak lagi jualan sayur keliling. Karena muternya terlalu jauh,” kata Romlah.
Kepala Desa Kalijambe, Kecamatan Sragi, Bambang Hersubeno, ketika dimintai konfirmasi mengaku prihatin dengan kondisi jembatan di desanya itu. Jembatan rusak 3 bulan lalu, sejak adanya hujan besar yang turun tiada henti. ”Jika jembatan ini putus, warga Desa Kalikambe harus memutar sejauh 20 kilometer, menuju Kecamatan Bojong,” kata Bambang.
Menurutnya, rusaknya jembatan tersebut, karena arus Sungai Sragi langsung mengalir menatap pondasi jembatan. Akibatnya, ketika hujan turun deras, arus sungai menggerus pondasi jembatan. ”Perlu dibangun talud untuk menahan arus sungai, untuk meminimalisasi terjadinya longsor,” katanya.
Dia katakan, sebulan lalu pihak desa sudah membuat laporan ke Dinas Pengairan Sumber Daya Air (PSDA), Kabupaten Pekalongan. Namun hingga kini belum mendapatkan tanggapan. Sementara itu, Kepala Dinas PSDA, Kabupaten Pekalongan, Bambang Pramukanto, membenarkan rusaknya Jembatan Kalijambe, tersebut. Bahkan, pihaknya sudah melakukan kajian dan evaluasi untuk melakukan upaya pencegahan awal. Harapannya, agar tidak terjadi kerusakan lebih parah lagi.
”Rencananya akan kami buat bronjong dari batu kali sepanjang 120 meter dengan ketinggian 5 meter. Namun hingga saat ini belum ada dana untuk pembuatan bronjong tersebut,” jelas Bambang.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kabupaten Pekalongan, Bambang Jatmiko, mengatakan bahwa rusaknya Jembatan Kalijambe termasuk salah satu bencana yang terjadi 3 bulan lalu. Pihaknya sudah mengajukan anggaran perbaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng sebesar Rp 1 miliar, namun belum juga cair.
”Kerusakan Jembatan Kelijambe ini termasuk bencana. Jika tidak segera diperbaiki, kasihan warga harus memutar hingga 20 kilometer lebih. Kami juga sudah melakukan pengukuran ulang, karena posisi jembatan mulai bergeser,” tandas Bambang. (*/ida)