Ditemukan Piagam Abal-Abal

337

Dongkrak Nilai Prestasi

CANDISARI – Verifikasi pendaftar penerimaan peserta didik (PPD) SMA Kota Semarang 2014 kemarin (24/6) mulai dilakukan. Sejumlah pendaftar diketahui menggunakan sertifikat atau piagam prestasi abal-abal alias palsu untuk mendongkrak nilai prestasi (NP).
Ketua penyelenggara PPD Kota Semarang 2014, Taufik Hidayat, mengakui ada sejumlah calon siswa yang melakukan pemalsuan sertifikat prestasi saat mendaftar di SMA yang dipilih. Namun Taufik tidak menyebut jumlah pastinya.
”Memang ada beberapa (yang pakai piagam prestasi palsu), tapi untuk jumlah pastinya berapa siswa, kami tidak tahu. Sehingga saat minta legalisir ke Dinas Pendidikan langsung kami tolak,” ujar Taufik kepada Radar Semarang, Selasa (24/6).
Kepala SMA Negeri 3 Semarang, Bambang Nianto Mulyo, mengatakan, pihaknya telah menginstruksikan kepada panitia PPD SMA 3 untuk tetap hati-hati dalam proses penyaringan uji kompetensi terkait piagam prestasi yang dilampirkan. ”Saya tegaskan ke panitia jangan segan menolak jika ada pendaftar yang meragukan atau tidak lulus saat uji kompetensi,” kata Bambang.
Senada dengan Bambang, Kepala SMA Negeri 1 Semarang, Kastri Wahyuni mengatakan, hingga hari kedua berlangsungnya PPD, pihaknya belum menerima laporan terkait sertifikat maupun piagam dari pendaftar yang dipalsukan. ”Tim kami memang selektif, karena kalau kita menerima siswa yang menggunakan piagam prestasi abal-abal, yang rugi juga sekolah kita sendiri,” katanya.
Menurut Kastri, pendaftar yang sudah melakukan verifikasi, nantinya tetap akan diuji kompetensi sesuai dengan piagam prestasi yang dilampirkan saat verifikasi. ”Panitia sudah mempersiapkan segalanya, jika dalam uji kompetensi kemampuan siswa tidak sesuai dengan piagam ataupun sertifikat yang dilampirkan pada saat verifikasi, maka siswa tersebut akan didiskualifikasi,” tegas Kastri.
Terkait kuota rayon, Kastri mengatakan, dari tahun sebelumnya, SMA yang dipimpinnya selalu memenuhi kuota. ”Dari tahun kemarin, kita malah lebih-lebih, artinya untuk memenuhi kuota rayon, baik itu dalam rayon, luar rayon maupun luar kota, SMA 1 selalu terpenuhi,” katanya.
Adapun kuota yang disediakan setiap sekolah untuk pendaftar dalam rayon sebesar 60 persen, luar rayon 35 persen, dan luar kota 5 persen.
Berdasarkan pantauan Radar Semarang di situs PPD online, Selasa (24/6) pukul 19.00, jumlah pendaftar terbanyak yang sudah verifikasi terjadi di SMA Negeri 13 Semarang mencapai 568 calon siswa, disusul SMA Negeri 15 sebanyak 553 calon siswa, SMA Negeri 9 (526), SMA Negeri 11 (518), dan SMA Negeri 12 sebanyak 469 calon siswa.
Seperti diketahui, untuk proses verifikasi pendaftaran dibutuhkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) atau Surat Keterangan Hasil Ujian Sementara (SKHUS). Sebelumnya, para siswa dipastikan sudah mengisi formulir pendaftaran online sebelum datang ke sekolah pilihan masing-masing untuk melakukan verifikasi.
Tahun ini, penerimaan perserta didik baru tak melalui tes masuk, kecuali untuk SMK. Di samping itu, tak hanya nilai ujian nasional (unas) atau ujian sekolah (US) saja yang dipertimbangkan, tapi nilai rapor selama berada di jenjang pendidikan sebelumnya juga diperhitungkan sebagai dasar penerimaan peserta didik.
Di jenjang SMP dan SMA, nilai rapor berpengaruh 30 persen. Sedangkan nilai unas dan US berpengaruh 70 persen. Sementara, untuk seleksi jenjang SD berdasarkan usia. Pertimbangan lain adalah tambahan penilaian, berupa nilai kemaslahatan (NK) untuk anak pendidik atau guru dan anak tenaga kependidikan. Juga tambahan nilai lingkungan (NL) dan tambahan nilai prestasi (NP). NK, NL dan NP diberikan secara terukur dan diatur dalam peraturan wali kota. Perhitungan sedikit berbeda pada PPD SMK. 70 persen nilai unas dan 30 persen nilai sekolah digabung menjadi nilai ujian sekolah. Gabungan nilai itu berpengaruh 65 persen, di samping 35 persen nilai tes khusus serta NK, NL, dan NP. (mg1/aro/ce1)