Ajukan Kredit, Tertipu Rp 378 Juta

615

Korban Sindikat Penipuan Perbankan

KAJEN-Mahbub Junaedi, 42, warga Desa/Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, Rabu (25/6) siang kemarin, melapor ke Polres Pekalongan. Dirinya telah ditipu sindikat penipuan jaringan perbankan yang menjanjikan pinjaman lunak dengan bunga ringan. Kini Mahbub menderita kerugian Rp 378 juta.
Kejadian itu bermula pada awal Maret 2013 lalu. Saat, Mahbub menyampaikan rencananya hendak mendirikan pabrik pupuk organik sebagai pengembangan usahanya yang telah jalan kepada Joko Sutanto, 58, seorang pensiunan Perhutani, warga Desa Kebonagung, Kecamatan Kajen, di rumah Mahbub Junaedi.
Karena Joko Sutanto mengaku memiliki menantu, yang bernama Suma Adi Nugroho yang bekerja di BRI Pemalang, akhirnya Mahbub Junaedi dikenalkan kepada Suma Adi Nugroho, yang saat itu menggenakan seragam dan tanda pengenal BRI, untuk mengajukan pinjaman kredit usaha ke BRI. Mahbub Junaedi pun minta bantuan Suma Adi untuk memperlancar pinjaman kredit usahanya.
“Sekitar akhir bulan Maret 2013, berkas administrasi pengajuan kredit senilai Rp 7 miliar, saya serahkan kepada Suma Adi Nugroho di rumah Joko Sutanto,” ungkap Mahbub Junaedi.
Tak lama setelah penyerahan berkas pengajuan kredit, seminggu kemudian, Suma Adi, minta ditransfer sejumlah uang sebesar Rp 5 juta, Rp 3 juta, Rp 8 juta, dan Rp 15 juta ke rekeningnya Heruma Susanto, yang merupakan istri dari Sukma Adi, atau anak Joko Susanto. Uang tersebut, dalihnya, sebagai biaya proses adminitrasi survei ke lokasi tanah agunan milik Mahbub di Desa Paninggaran dan proses untuk pembuatan sertifikat di BPN Kabupaten Pekalongan.
Waktu survei lokasi tanah jaminan, Suma Adi datang dengan mengenakan seragan BRI. Dia datang bersama Firman Hafids yang katanya orang BPN. Mereka kemudian melakukan pengukuran tanah. “Tapi Suma Adi, minta uang lagi sebanyak Rp 12 juta, ditransfer ke Firman Hafids yang mengaku dari BPN Kabupaten Pekalongan. Uang tersebut, dalihnya untuk pembuatan sertifikat tanah jaminan,” jelas Mahbub Junaedi sambil menunjukkan bukti transfer dan tanda terima uang.
Namun tak lama kemudian, Suma Adi datang dengan menyerahkan blangko perjanjian dari notaris sebanyak 9 eksemplar dan kembali meminta uang dengan alasan untuk diberikan kepada pimpinan BRI Cabang Pemalang. Dengan uang tersebut, agar pimpinan BRI segera mengeluarkan Surat Pemberitahuan Pencairan Kredit (SPPK) dan uang pinjaman kredit usaha bisa segera dicairkan. “Adapun uang untuk pimpinan BRI Cabang Pemalang sebesar Rp 30 juta, ditransfer ke rekening BRI atas nama Yeni Arifa,” katanya.
Karena Suma Adi Nugroho minta uang terus hingga jumlahnya mencapai Rp 378 juta, membuat Mahbub curiga. Mahbub pun melakukan pengecekan ke BRI Cabang Pemalang. ”Hasilnya, ternyata tidak ada berkas pengajuan pinjaman dana atas nama Mahbub Junaedi, dan tidak ada karyawan atas nama Suma Adi Nugroho dan Yeni Arifa,” kata Mahbub.
Sementara itu, kuasa hukum Mahbub Junaedi, Nanang SH Mhum, menjelaskan bahwa setelah mengetahui apa yang dilakukan oleh Suma Adi, berindikasi penipuan, akhirnya diadakan mediasi dengan keluarga Joko Sutanto. Hasilnya, Suma Adi berjanji akan mengembalikan uang sebesar Rp 378 juta, sampai akhir Maret 2014. “Namun sampai akhir Maret 2014, apa yang pernah dituangkan dalam perjanjian mediasi, tidak dipenuhi oleh Suma Adi Nugroho. Akhirnya kami menempuh proses hukum,” jelas Nanang.
Nanang juga menegaskan bahwa uang yang ditransfer ke Firman Hafids, ternyata pegawai leasing di Pemalang, Slamet yang mengaku sebagai ADM BRI, ternyata pegawai asuransi, di Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang.
“Dewi Anggraini yang mengaku sebagai orang BRI dan selalu mendampingi Suma Adi dan Slamet Purnomo ternyata bukan orang BRI, tapi orang Pemalang. Semuanya bekerja secara terorganisir, mengaku pegawai Bank BRI Pemalang. Dan ternyata semuanya bohong, karena tidak bekerja di bank tersebut,” tegas Nanang. (thd/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.