Bangun Koperasi di Tiap Desa

445

KENDAL—Bupati Kendal, Widya Kandi Susanti memerintahkan kepada Dinas Koperasi dan UMKM untuk mendirikan koperasi di tiap-tiap desa. Hal itu sebagai tindak lanjut program SUSU (Sak Uwong Sak Uwit) yang dicanangkan sejak 2012 lalu.
Menurutnya, pilar terkuat untuk membangun ekonomi masyarakat Kendal adalah koperasi. Sebab jika tidak, maka Kendal akan dikuasai investor asing. “Koperasi menurut saya, solusi terbaik dalam mengatasi masalah ekonomi,” ujar Bupati Widya di sela sarasehan di Pendopo Pemkab Kendal, Rabu (25/6) kemarin.
Apalagi, 2015 mendatang Indonesia akan menghadapi pasar bebas ASEAN. Jika masyarakat tidak dikelola sejak dini dengan manajemen yang baik, dipastikan akan tertinggal dengan pesaing dari luar.
Menurutnya, koperasi di tiap desa tersebut nantinya sebagai langkah maju dari program SUSU. “Yakni mereka yang telah menanam pohon sebagai syarat nikah, ditarik sebagai anggota koperasi di desanya setempat. Dengan begitu, koperasi bisa terbangun,” tandasnya.
Program SUSU sendiri, dicanangkan Pemkab Kendal sejak tahun 2012 lalu. Tiap warga yang akan menikah dan melahirkan, diwajibkan menanam satu pohon di Ruang Terbuka Hijau (RTH) kelurahan/desa setempat, atau di lahan masing-masing.
“Koperasi sudah terbukti menjadi penguat ekonomi bagi bangsa. Sejak krisis ekonomi 1998 banyak usaha yang koleps, tapi koperasi masih bertahan hingga sekarang,” jelasnya.
Bupati berpesan agar sumber daya manusia (SDM) ditingkatkan guna menghadapi persaingan bebas Asean 2015. “Semua harus dipersiapkan secara matang sehingga program akan berjalan sesuai yang diharapkan,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kendal, Sutiyono menyatakan tidak sanggup. Menurutnya berat jika harus mendirikan koperasi di tiap-tiap desa.
“Koperasi di tiap desa, kecil kemungkinannya dapat terwujud. Sebab, idealnya tiap koperasi, minimal memiliki 3.000 anggota, baru bisa dikatakan sehat. Mencari anggota sebanyak itu, tentu tidak mudah apalagi dalam satu desa,” timpalnya.
Menurutnya, perintah bupati bisa dicarikan solusi dengan cara mendirikan satu koperasi di tiga sampai empat desa. “Dengan begitu, tidak sulit mencari anggota. Jika anggotanya sedikit, sedangkan biaya operasionalnya tinggi, dan koperasi berhasil dibangun, akhirnya juga akan bangkrut,” tambahnya.
Sejauh ini, koperasi yang maju dan bisa berkembang di Kendal adalah koperasi simpan pinjam. Sedangkan koperasi yang melayani penjualan kebutuhan bahan pokok dan lainnya, kalah dengan pasar modern yang pertumbuhannya pesat.
”Dinas Koperasi dan UMKM berencana melakukan penutupan atau pembubaran 30 koperasi. Pasalnya, koperasi tersebut sudah tidak aktif dan tidak sehat,” katanya.
Dijelaskan Sutiyono, kebanyakan yang ditutup adalah koperasi serba usaha (KSU) yang melayani penjualan kebutuhan pokok dan barang-barang hasil produksi anggota, simpan pinjam dan pelayanan jasa.
Sutiyono menengarai sebenarnya banyak koperasi mati suri. Dari 541 koperasi,  hanya 301 yang kondisinya sehat dan aktif. 50 koperasi masih dalam pengawasan Dinas Koperasi yang diharapkan bisa tumbuh. “Sedangkan lainnya tidak aktif,” tambahnya. (bud/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.