Kubu Supriadi Bantah Palsukan Dokumen

300

SEKARAN – Polemik pemilihan Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) periode 2014-2018 kian memanas pasca dilaporkannya salah satu calon rektor, Prof Dr Supriadi Rustad, MSi ke Polrestabes Semarang. Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unnes, Prof Dr Wiyanto MSi, yang merasa risi akhirnya angkat bicara.
Ia dengan tegas menolak tuduhan jika calon Rektor Unnes Semarang Supriadi Rustad melakukan pemalsuan dokumen keterangan untuk menjadi bakal calon Rektor Unnes. Menurut dia, surat keterangan itu ditulis berdasarkan keputusan dari dua surat keputusan yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tertanggal 16 Mei dan 6 Juni 2014.
Wiyanto menjelaskan, Supriadi Rustad tercatat masih mengampu beberapa mata kuliah di program S1 dan S2 Unnes. Di antaranya, mengajar mata kuliah Fisika Bumi Antariksa, Fisika Matematika, dan Bahasa Inggris.
”Jadi, tidak benar jika dikatakan memalsukan keterangan sebagai dosen PNS aktif. Surat pernyataan itu berdasarkan keputusan resmi yang dikeluarkan Kemendikbud, jadi tidak ada pemalsuan,” tegas Wiyanto.
Wiyanto yang juga anggota Senat Unnes mengatakan, Surat dari Kemendikbud dikeluarkan pada 16 Mei bernomor 73937/A4.2/KP/2014. Surat itu menjawab keinginan Supriadi Rustad untuk mundur dari jabatannya karena keinginannya untuk mengikuti pencalonan menjadi Rektor Unnes. Oleh Kemendikbud, Supriadi Rustad hanya dibebaskan sementara.
Senat Unnes yang masih belum yakin, akhirnya meminta penjelasan langsung ke Kemendikbud. Kemudian direspons dengan surat balasan Kemendikbud tertanggal 6 Juni Nomor 74033/A4.2/KP/2014. Penjelasan istilah dosen PNS aktif yang ditujukan kepada Ketua Senat Unnes. Isinya yang dapat diangkat rektor  perguruan tinggi yang diselenggarakan pemerintah adalah dosen PNS aktif.
”Dari situlah Prof Supriadi Rustad berani membuat pernyataan jika masih dosen PNS aktif. Itu pun muncul karena pihak senat tetap bersikukuh jika Prof Supriadi Rustad bukan dosen PNS aktif, meski sudah ada surat dari Kemendikbud,” tegasnya.
Wiyanto mengaku cukup riskan dengan berbagai isu dan laporan ke Polrestabes Semarang. Apalagi Supriadi Rustad dilaporkan menjelang detik-detik terpilih menjadi Rektor Unnes.
Ia cukup kecewa terkait langkah sebagian Badan Pekerja Senat Unnes yang membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Padahal mestinya semua keputusan Badan Pekerja harus diketahui pihak Senat Unnes. Mestinya, kata dia, jika ada polemik, bisa diselesaikan secara institusi atau dilaporkan ke Kemendikbud.
”Saya kaget, tiba-tiba (Prof Supriadi Rustad) dilaporkan ke polisi. Mestinya bisa diselesaikan dengan duduk bareng atau musyawarah,” tegasnya.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menegaskan, akan menyelidiki kasus itu sampai tuntas. Untuk mengusutnya, pihaknya akan memanggil sejumlah saksi.
”Kami akan memanggil saksi untuk dimintai keterangan. Karena bukan delik aduan, jadi akan terus diusut. Apakah benar ada pemalsuan dokumen atau tidak,” katanya.
Terpisah, Presiden Mahasiswa Unnes Prasetyo Listiaji mengingatkan kepada para calon rektor untuk meluruskan orientasi mereka dalam kontestasi pemilihan Rektor Unnes periode 2014-2018. “Kami mendesak para calon rektor agar bisa meluruskan orientasi dalam pencalonan demi aktualisasi diri dalam pengabdian kepada negara dan almamater, bukan hanya untuk kekuasaan semata,” katanya.
Prasetyo juga mengingatkan Senat Unnes sebagai penyelenggara pemilihan untuk bersikap tegas terhadap setiap calon yang terindikasi melanggar etika akademik. “Sebab, sejatinya pemilihan rektor merupakan kompetisi akademik, bukan politik,” tandasnya.
Selain itu, pihaknya juga mengajak semua elemen masyarakat kampus untuk senantiasa mengawal pemilihan rektor, sehingga lahir pemimpin yang dapat membawa Unnes ke arah yang lebih baik.
Seperti diberitakan, sejumlah anggota Badan Pekerja Senat Unnes melaporkan seorang calon rektor, Prof Dr Supriadi Rustad MSi ke Mapolrestabes Semarang, Selasa (24/6). Dalam laporan dengan registrasi LP/B/1010/VI/2014/Jateng/Restabes itu disebutkan kalau terlapor diduga membuat pernyataan palsu terkait pernyataannya yang masih menjabat sebagai dosen PNS aktif. Padahal diketahui terlapor sudah tidak aktif melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi setelah menjabat sebagai Direktur Tenaga Pendidik dan Kependidikan Dirjen Dikti di Jakarta sejak 1 Oktober 2010. Saat ini, proses pemilihan Rektor Unnes sudah memasuki tahap penyaringan.
Mereka yang melaporkan adalah dari Badan Pekerja Senat Unnes. Yakni, Prof Dr Achmad Slamet Msi, Prof Dr Rustono MHum, Drs Salehatul Mustofa MA, serta Rektor Unnes yang masih menjabat Prof Fathur Rochman MHum. (fth/aro/ce1)