Perempuan Kerap Terseret Konflik

267

BENDAN DUWUR – Perempuan seringkali menjadi korban dalam konflik yang penuh kekerasan seperti perang. Ada yang terpaksa menjadi janda karena kematian suaminya dan menjadi orang tua tunggal yang harus membesarkan anaknya seorang diri.
Tabita Kartika C, salah satu narasumber dalam seminar bertajuk Pemberdayaan Perempuan dalam Dialog Antikonflik Antarumat Beragama, di Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata mengatakan, perempuan kerap terlibat dalam konflik yang penuh kekerasan. ”Bisa juga sebagai penghasut, penyampai propaganda, pengorganisasi massa, penyedia logistik, penyerang, dan pembunuh,” tutur Dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Jogjakarta ini, Selasa (24/6).
Terkait hal itu, tingkat kehidupan beragama di tingkat kota juga kurang diperhatikan oleh pemerintah setempat. ”Yang penting dapat uang, dan bisa hidup,” katanya.
Hal tersebut, menurutnya, dikarenakan belum banyaknya peran organisasi perempuan dalam menangani konflik antarumat beragama. ”Misalnya banyak pula sekolah dengan suatu dasar agama tertentu mengajarkan fanatisme, itu kan sebuah keironisan,” katanya.
Dosen Unika Brigitta Renyan mengatakan, mengalami tindakan-tindakan kekerasan merupakan warna hidup perempuan. ”Di tengah-tengah konflik antarumat beragama, perempuan ditantang untuk tidak terseret dalam tindak kekerasan,” kata Brigitta.(mg1/ton/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.