BKB Kembali Mangkrak

377

BALAI KOTA — Keindahan pemandangan bantaran sungai Banjir Kanal Barat (BKB) ternyata bertahan sebentar. Hanya beberapa bulan setelah proyek pembangunan selesai, kini kondisinya kembali kumuh, semrawut, dan beberapa fondasi juga terlihat rusak. Potensi wisata kawasan BKB yang begitu besar tidak tergali dan dikelola dengan serius.
Pantauan koran ini kemarin, kondisi kumuh terlihat mulai bantaran Ngemplak Simongan (Tugu Suharto) hingga jembatan Kali Garang. Rumput liar tumbuh tanpa ada pemangkasan hingga menutupi jogging track. Hanya ada beberapa spot yang memang masih terlihat rapi dan bersih, seperti di kawasan Lemah Gempal.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Subarda menyatakan, saat ini hingga November 2014, kawasan BKB masih dalam masa perawatan BBWS. ”Setelah itu operasional dan pemeliharaan akan dilakukan rutin oleh tim pengelola terpadu dari pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan BBWS sendiri,” terang Subarda kepada Radar Semarang, Kamis (26/6).
Subarda menjelaskan, tim pengelola telah terbentuk melalui nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani oleh tiga elemen, yakni pemprov, pemkot, dan BBWS pada November 2013 lalu. MoU tersebut mengamanahkan agar pihak yang terlibat di dalamnya supaya membuat perjanjian kerja sama. ”Hari ini (kemarin, Red) kami sedang menggelar rapat untuk membentuk kerja sama pengelolaan BKB. Perjanjian kerja sama kami lakukan untuk mengatur lebih detail kewenangan pengelolaan antara pemprov, pemkot, maupun BBWS. Tahun ini semoga bisa selesai dan tahun depan bisa efektif berjalan,” terangnya.
Disinggung mengenai masa perawatan yang tidak efektif karena kondisi di lapangan masih semrawut, Subarda mengklaim, selama ini pihaknya telah menerjunkan petugas untuk merawat bantaran BKB. Mulai dari pemangkasan rumput liar, pembersihan sampah, hingga memperbaiki kerusakan sarana dan prasarana yang ada di dalamnya. Meski begitu, ia mengakui masih ada beberapa spot yang belum bisa tertangani. Mengingat petugas yang diterjunkan sangat terbatas.
”Petugas yang kami turunkan untuk memelihara bantaran ada 15 orang, sementara yang harus dirawat di sisi kanan kiri bantaran panjangnya mencapai 10 kilometer, sehingga tidak semua lokasi ter-cover. Ketika petugas memangkas rumput di spot yang bagian utara, di bagian selatan sudah tumbuh lagi,” katanya.
Subarda juga mengakui jika ada spot BKB di Ngemplak Simongan yang dimanfaatkan masyarakat untuk lahan pertanian. Menurut Subarda hal itu menyalahi aturan. ”Mereka tidak memiliki izin, karena selama ini kami tidak mengeluarkan izin untuk itu. Kalau menurut struktur lahan di BKB tidak boleh untuk pertanian,” tandasnya.
Terpisah, Ketua DPRD Kota Semarang Wiwin Subiyono meminta BBWS konsisten untuk merawat bantaran BKB. Sebab biaya perawatan sudah dianggarkan dalam proyek pembangunan. ”Memang sekarang tidak serapi dan seindah dulu saat selesai dibangun. Saya minta BBWS konsisten dalam melakukan perawatan. Karena semua biaya perawatan sudah ada hitung-hitungannya,” terangnya.
Menurut legislator dari Partai Demokrat ini, minimnya personel bukan menjadi alasan untuk tak mengoptimalkan perawatan. ”Mestinya dalam masa perawatan, hitung-hitungan anggarannya ada. Karena ketika proyek itu jadi, biaya perawatan dalam waktu satu-dua tahun sebelum penyerahan sudah dihitung,” tandasnya. (zal/ton/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.