Pantau Kinerja Jaksa Maksimal Penggunaan IT

380

Jacob Hendrik P, Asisten Bidang Intelijen Kejati Jateng

Bagi masyarakat Jawa Tengah, mungkin masih asing dengan sosok yang satu ini. Namanya Jacob Hendrik P, SH, MH. Ia cukup populer di Sleman, DI Jogjakarta di mana ia bekerja sebelumnya. Sebab, pada 2013, ia sukses membawa Kejari Sleman menjadi Kejari terbaik se-Indonesia berkat inovasi dan kebijakannya.
 
AHMAD FAISHOL, Pleburan

SAAT ini, Jacob Hendrik P menjabat Asisten Bidang Intelijen (Asintel) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Tengah. Sebelumnya, Jacob Hendrik adalah Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sleman pada 2012-2014. Ia belum lama mendapat promosi jabatan di Kejati Jateng, yang kebetulan juga meraih juara pertama Sidha Karya di tahun yang sama. Sehingga Jacob Hendrik termasuk the right man on the right place (orang yang tepat di tempat yang tepat).
Kepada Radar Semarang, Hendrik –sapaan akrabnya— menuturkan, apa yang ia lakukan merupakan bentuk pengabdian kepada negara. Menjadi jaksa, kata Hendrik, merupakan cita-citanya sejak kecil. Adapun jabatan yang disandangnya saat ini merupakan kelebihan yang patut disyukuri.
”Salah satu bentuk cara bersyukur adalah dengan memberikan kontribusi banyak orang dan institusi. Jika tidak mau berkontribusi berarti tidak menghargai anugerah Tuhan,” ungkapnya.
Karena mensyukuri karunia Tuhan itulah Hendrik melakukan semua pekerjaan dengan sepenuh hati. Tidak hanya di tempat dulu di mana ia bekerja, tetapi di mana pun ia berada. Termasuk ketika dipercaya menjadi Asintel Kejati Jateng.
”Menjadi intelijen sangat menunjang pada bidang-bidang lainnya. Intel kini lebih fleksibel dalam mendekati sumber informasi tanpa harus diketahui. Selain mencari DPO (Daftar Pencarian orang) baik pidana umum dan pidana khusus, penyelamatan asset recovery juga kami optimalkan untuk mendukung pelaksana fungsi bidang lain,” beber suami dari Yulis Widhowati ini.
Terkait upaya pemberantasan tindak pidana korupsi, Hendrik mempunyai pandangan yang mungkin sedikit berbeda dengan lainnya. Menurutnya, upaya pemberantasan korupsi harus dititik beratkan pada upaya pencegahan (preventif). Sebab, upaya penindakan (represif) yang kini gencar dilakukan keefektifannya belum begitu maksimal. ”Tindakan represif perlu dan harus, tapi yang harus disadarkan adalah personnya,” katanya.
Hendrik menambahkan, tujuan penindakan adalah mengembalikan keuangan negara yang hilang akibat dicuri oleh koruptor. Dalam upaya pencegahan, kesempatan untuk menyelamatkan uang negara lebih besar karena tidak dikorup.
”Menurut saya, tindakan repersif perlu, tapi biar hanya untuk shock therapy saja, agar orang takut melakukan korupsi,” ujar penyuka musik ini.
Ia menceritakan, upaya preventif yang dilakukan sewaktu menjadi Kajari Sleman cukup efektif. Yakni, dengan memberikan penyuluhan hukum sebanyak-banyaknya dengan cara yang inovatif. Ia sengaja mendatangi Taman Kanak-Kanak (TK) untuk memberi penerangan lewat permainan dan kegiatan yang menyenangkan.
”Pengenalan sikap antikorupsi harus dilakukan sejak usia dini. Sehingga saat bertambah usia, pikiran mereka menjadi kritis. Mereka sudah tahu mana yang kategori korupsi dan tidak. Terus terang cara ini saya adopsi dari Polri dengan program polisi sahabat anak. Kalau memang baik why not?,” ungkapnya.
Menurut Hendrik, korupsi itu berasal dari mental dan watak. Hal ini yang harus dibentuk sejak dini. Dan itu sudah menjadi tugas dan kewajibannya. Justru, menurutnya, memberikan penyuluhan di tempat birokrasi kurang efektif karena mereka sudah pandai, termasuk pandai mencari celah.
”Metode melalui acara konser musik, olahraga, kantin kejujuruan dengan bahasa hukum yang tidak kaku akan lebih efektif dibandingan tindakan hukuman,” ujar ayah dari empat anak, Rianty Indah Handayani, Novita Everdina Permatasari, Dara Febrianti Maharani, dan Christian Marcelino Immanuel ini.
Salah satu inovasi lain yang berhasil diterapkan Hendrik saat di Sleman adalah program Sikenes yang merupakan singkatan dari Sistem Informasi Manajemen Kejaksaan Negeri Sleman. Program tersebut akan mencatat semua perkara yang masuk, sedang ditangani, hingga selesai dan bisa diakses oleh masyarakat. Sistem ini juga dilengkapai dengan SMS gateway yang mengingatkan jaksa terkait perkara yang ditangani.
”Hal ini dilakukan sebagai pemantau atas kinerja kejaksaan yang selalu memberikan informasi secara terbuka kepada masyarakat,” jelasnya.
Menurut Hendrik, upaya mengembalikan citra kejaksaan di mata masyarakat adalah dengan cara bekerja keras tanpa banyak berteori dan beretorika. Yang terpenting adalah perubahan mindset dan perilaku. Selain itu, pemanfaatan IT (teknologi informasi) dan fungsi kehumasan untuk propaganda hasil kerja perlu ditingkatkan.
”Dengan komunikasi yang baik dengan masyarakat, mereka akan percaya bahwa kejaksaan memberikan kinerja yang positif,” ujar pria yang mengaku paling berkesan saat ditugaskan di Papua dan Maluku Utara ini. (*/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.