Televisi Dilarang Tayangkan Goyang Erotis

325

MUGASSARI – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jateng mengimbau stasiun televisi untuk menghormati bulan suci Ramadan dengan menyiarkan tayangan yang tidak mengganggu kekhusyukan umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa. Lembaga tersebut terutama me-warning sejumlah program yang kerap menayangkan goyangan erotis serta mengeksploitasi bagian-bagian tubuh wanita.
Ketua KPID Jateng Budi Setyo Purnomo mengatakan pihaknya kembali mengingatkan lembaga penyiaran untuk menyiarkan acara yang mendukung pelaksanaan ibadah puasa, bukan acara yang merusak kekhusyukan beribadah. ”Lembaga penyiaran baik radio maupun televisi yang bersiaran di Jateng kami ingatkan untuk menjadikan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran KPI Tahun 2012 sebagai acuan utama dalam menayangkan sebuah program siaran,” katanya.
Kendati di awal Ramadan ini suasana berpuasa masih bernuansa pesta demokrasi pilpres, dia berharap lembaga penyiaran bisa menciptakan iklim kondusif dengan menjaga netralitas dan menghormati bulan Ramadan.
Tayangan yang dilarang disiarkan adalah yang mengandung goyangan erotis dan mengeksploitasi bagian-bagian tubuh wanita, adegan-adegan yang seronok atau vulgar, pakaian yang minim dan memperlihatkan bagian-bagian tubuh wanita seperti dada, paha dan bokong, serta adegan yang mengarah kepada hubungan seks atau keintiman pria dan wanita seperti ciuman.
Dosen ilmu komunikasi sebuah perguruan tinggi swasta itu berharap datangnya bulan puasa ini dapat menjadikan lembaga penyiaran semakin bisa memerankan sebagai pilar ke-4 demokrasi. Selain itu juga tidak menyiarkan tayangan yang di dalamnya terdapat adegan pria berperilaku dan berpakaian seperti wanita, adegan kekerasan dan candaan kasar.
Tayangan yang juga dilarang disiarkan adalah yang mengungkapkan secara terperinci aib atau rahasia seseorang, konflik secara eksplisit dan provokatif, serta siaran yang bermuatan mistik, horor, dan supranatural yang menimbulkan ketakutan dan kengerian pada khalayak di bawah pukul 22.00 waktu setempat.
”Walaupun ditayangkan di atas pukul 22.00, lembaga penyiaran wajib mematuhi ketentuan pelarangan dan pembatasan program siaran yang bermuatan mistik, horor, dan supranatural,” katanya.
KPID Jateng juga mengimbau televisi tidak menjadikan Ramadan sebagai bulan komoditas atau jualan. Salah satunya dengan tidak menyisipkan iklan niaga saat azan. Menurut Budi KPID melakukan kerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam melakukan pemantauan siaran selama Ramadan. KPI dan MUI akan memantau seluruh program acara di lembaga penyiaran.
”Selama Ramadhan nanti, KPI bersama MUI tidak akan segan-segan meminta penghentian siaran jika ditemukan pelanggaran dan berpotensi merusak kekhusyukan ibadah,” katanya.
KPI dan MUI akan memberikan penghargaan bagi program acara yang isi siarannya memiliki nilai keagamaan dan mendukung pelaksanaan Ramadan. (ric/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.