Tiga Dibekuk, Dua Kabur

325

Polisi Sita Parang dan Sepeda Motor

DEMAK-Tiga perampok spesialis pengintai orang ambil uang di bank berhasil dibekuk aparat Satreskrim Polres Demak. Adalah Ahmad Habibi alias Ledeng, 34, warga Desa Karangrejo, Kecamatan Wonosalam; Rohadi alias Kuro, 28, warga Desa Donorojo, Kecamatan Karangtengah; dan Hasan Mubarok alias Ngantuk, 31, warga Desa Kalikondang, Kecamatan Demak Kota. Sedangkan, otak perampokan adalah Dudung dan Abah, warga Surabaya yang hingga kini masih dalam pengejaran petugas kepolisian.
Polisi juga mengamankan barang bukti (BB) berupa sepeda motor Suzuki Fitz R nopol N 471 B dan parang berkarat yang biasa digunakan pelaku saat beraksi di jalanan.
Dalam pengakuan mereka kepada petugas, komplotan tersebut sebelumnya melakukan aksi perampasan dengan kekerasan atau merampok nasabah bank BRI Wonosalam di Jalan Raya Desa Kerangkulon, Kecamatan Wonosalam. Jumlah uang korban yang dirampok pada 13 September 2013 tersebut mencapai Rp 215 juta. Uang itu, kemudian dibagi mereka berlima. Rata-rata menerima sebanyak Rp 40 jutaan.
Sedangkan, kejadian kedua adalah kasus perampokan pada awal April 2014 lalu di Jalan Raya Sultan Fatah. Korbannya yaitu anak mantan Kasatpol PP Demak Dachirin Emsa, yakni Himatul Ulya, 24 dan rekannya Anindiyati Sabila Rahma, 23. Ketika itu, pelaku berhasil menggondol uang korban sebesar Rp 18,6 juta. Uang tersebut baru saja diambil dari Bank Mandiri tak jauh dari lokasi kejadian.  
Salah seorang tersangka, Ahmad Habibi mengungkapkan bahwa dirinya bertugas membawa senjata tajam (sajam) parang untuk menakut-nakuti korban. “Posisi saya biasanya diboncengkan teman lainnya,” ujar dia.
Menurutnya, aksi perampokan dilakukan terorganisir secara matang. Abah, pelaku dari Surabaya yang kini masih buron bertugas masuk ke ruangan bank untuk mengawasi gerak-gerik nasabah bank yang diketahui akan mengambil uang banyak. Setelah korban mengambil uang, ia kemudian menghubungi temannya, termasuk Habibi yang posisinya siap di atas kendaraan bermotor di luar kantor bank.
Bila kondisi aman, Habibi dan temannya yang lain termasuk Hasan dan Rohadi langsung bergerak membuntuti motor korban. Dirasa memungkinkan, eksekusi perampasan langsung dilakukan. Namun, bila kondisi tidak aman, skenario lain dilakukan dengan cara memutar kendaraan agar posisinya lebih menguntungkan.
“Kalau parang ini, hanya untuk jaga-jaga. Jika ada perlawanan, baru digunakan untuk membacok korban,” terang Habibi saat dikeler di Mapolres Demak, kemarin.
Menurut Habibi, uang hasil rampasan yang telah dibagi habis untuk foya-foya karaoke dan main perempuan. “Saya ditangkap polisi saat sedang ngojek di Kalikondang,” kata pria bertato di sekujur tubuhnya ini.  
Habibi juga mengaku dirinya pernah mendekam di penjara akibat terlibat kasus pembunuhan di Jakarta pada 2003. Sedangkan, Rohadi yang ditangkap di area lokalisasi Sunan Kuning (SK) Semarang ini mengaku, uang yang diperoleh dari merampok tersebut sebagian dipakai membayar hutang, main judi keplek dan sisanya untuk foya-foya. “Saya dibekuk petugas ketika mengantar teman di SK,” jelasnya.
Rohadi menuturkan, dirinya turut bergabung dalam komplotan itu setelah berkenalan dengan Dudung di Boyolali. Ketika itu, Hasan mengenalkan Dudung kepadanya. Dudung lalu mengajak kerja sama (merampok, red). “Kebetulan waktu itu bisnisan motor bangkrut. Lalu saya terbelit utang sebesar Rp 33 juta di banyak tempat yang harus segera dilunasi. Utang baru hanya terbayar separuh saja,” ungkapnya.
Pelaku lainnya, Hasan Mubarok juga mengaku melakukan aksi perampokan lantaran tidak punya uang dan terbentur kebutuhan keluarga. “Akhirnya ikut bergabung,” jelasnya.
Kapolres Demak AKBP Raden Setijo Nugroho melalui Kasubag Humas AKP Sutomo mengatakan, kasus tersebut hingga kini masih terus dikembangkan. “Pelaku yang belum tertangkap kami kejar terus dan masuk daftar pencarian orang (DPO),” katanya. Mereka dikenai pasal 365 tentang pencurian dengan tindak kekerasan serta ancaman hukuman 7 tahun penjara. (hib/ida)