Pengembang Wajib Bangun IPAL Komunal

591



BALAI KOTA — Setiap pengembang perumahan di Kota Semarang wajib untuk mendirikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal. Utamanya perumahan yang memiliki luas 1 hektare atau 100 unit rumah. Ketentuan ini juga berlaku untuk semua usaha komersial seperti perhotelan dan mal. Aturan tersebut terdapat dalam Perda Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang.
Kasubdit Perencanaan Pengembangan Infrastuktur, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Arwita Mawarti mengatakan, IPAL sangat penting untuk sanitasi air limbah domestik di masyarakat. Terutama banyak warga yang belum punya WC karena lahan yang terbatas. ”Ditambah sikap sebagian masyarakat masih menganggap urusan ’ke belakang’ itu tidak penting. Masalah sanitasi ini belum jadi urusan bersama terutama masyarakat kelas menengah,” katanya kemarin.
Dari semua pengembang perumahan berizin di Kota Semarang, belum diketahui jumlah yang sudah memiliki IPAL. Jika luas perumahan minimal 1 hektare atau ada 100 unit rumah, maka seharusnya menyediakan IPAL komunal. Kecuali perumahan lama sebelum adanya Perda RTRW. Namun pemilik rumah di perumahan lama disarankan untuk secara rutin menguras tempat pembuangan limbah domestik setiap 2-3 tahun sekali.
Berdasarkan catatan Bappeda, sudah ada 104 IPAL di seluruh wilayah Semarang. Pada tahun ini, akan dibangun lagi di 78 lokasi dan tahun 2015 di 50 lokasi. ”Kami sosialisasikan kepada masyarakat penting menjaga lingkungan dengan sistem sanitasi yang baik. Baik kami lakukan melalui kampanye-kampanye maupun publikasi di media,” kata Arwita.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang sudah memeriksa dampak sanitasi yang kurang diperhatikan oleh masyarakat. Dari 57 titik yang diperiksa, ada 15 titik yang telah terpapar bakteri coliform penyebab diare. Bakteri ini masuk bercampur dengan air untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat. Kebanyakan melalui tangan yang tidak dicuci dengan sabun langsung membuka keran air. ”Selain kontak langsung juga antara lain melalui peralatan seperti tandon air, gayung, ember yang tidak bersih, dan bisa juga melalui rembesan dari septictank ke sumur,” staf Dinkes Kota Semarang Wahyoto.
Bakteri coliform, jelasnya, merupakan golongan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai sinyal menentukan suatu sumber air telah terkontaminasi oleh patogen. Bakteri coliform menghasilkan zat etionin yang dapat menyebabkan kanker di usus besar atau pencernaan. Bakteri pembusuk ini juga memproduksi bermacam-macam racun yang dapat menimbulkan penyakit bila jumlahnya berlebihan di dalam tubuh. (zal/ton/ce1)