Penjualan Mebel Masih Lesu

283

MAGELANG – Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, penjualan mebel mengalami penurunan menjelang puasa ini. Kondisi ini disebabkan, puasa bersamaan dengan tahun ajaran baru. Sehingga konsumen lebih mementingkan kebutuhan sekolah dibandingkan membeli produk mebel.
“Kalau barengan dengan kebutuhan sekolah, pasti mengalami penurunan. Biaya sekolah adalah dana wajib, sedang mebel bukan termasuk kebutuhan pokok,” ungkap Store Manager Surya Abadi Mebel, Nurul Izza kemarin (27/6).
Peningkatan penjualan dirasakan bila sudah memasuki pertengahan puasa. “Biasanya orang yang pulang kampung beli ke sini, seperti sofa, meja makan, dan almari,” ujarnya ketika ditemui di tokonya Jalan A Yani no 112 Magelang.
Nuril juga menambahkan, saat ini mebel pabrikan atau buatan lokal kalah bersaing dengan buatan Tiongkok. Dilihat dari desain, dan penggarapan cukup bagus, ditambah harganya lebih murah sehingga banyak peminatnya.
“Lokal kalah di finishing juga. Kalau lokal hanya dilapisi melamin, kalau buatan China finishingnya sudah pakai cat ducu dan lapisi cat antigores,” imbuhnya.
Dibandingkan dengan produk lokal, harganya terpaut cukup banyak. Misalnya sofa kulit Tiongkok terpaut sekitar Rp 10 juta lebih murah dibandingkan produk lokal.
Nurul menyebutkan omzet per hari apabila sepi rata-rata Rp 17 juta, sedang kalau ramai Rp 25-30 juta/hari.
“Bulan ini amblek 50 persen, karena berbarengan dengan agenda besar. Tahun sebelumnya, omzet mendekati puasa bisa tiga kali lipatnya omzet yang sekarang,” ungkapnnya.
Ia juga mengatakan, pada pertengahan puasa biasanya harga mebel meningkat. Hal itu disebabkan sulitnya mendapatkan barang baik dari lokal maupun impor. “Kenaikan bisa mencapai 10-15 persen,” terangnya.
Untuk melayani pembeli dan pengunjung di tokonya, Nuril mengaku tetap buka hingga malam takbiran. “Semoga penjualan selama puasa bisa seperti tahun sebelumnya, syukur-syukur bisa meningkat,” imbuhnya. (mg4/lis)