15 Tahun Jadi Bonbin

1151

KEBERADAAN Hutan Wisata Tinjomoyo ini tidak lepas dari sejarah kebun binatang (bonbin) Semarang. Eksistensi hutan Tinjomoyo hanya bertahan kurang lebih 15 tahun. Tepatnya saat hutan yang berlokasi di Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati ini menjadi Taman Marga Satwa (TMS).  
Ya, sebelum dipindah ke Mangkang, TMS Kota Semarang berlokasi di hutan Tinjomoyo. Sebelum itu, pada 1955 kebun binatang pertama Kota Atlas berlokasi di Tegal Wareng, yang saat ini menjadi Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) dan Taman Hiburan Keluarga Wonderia.
Saat itu, lahan dan satwa yang ada di dalamnya dikelola oleh perorangan. Seiring perkembangan, satwa-satwa tersebut diserahkan ke pemkot untuk dijadikan Taman Hiburan Rakyat (THR). Karena di kawasan tersebut lahannya terlalu sempit dan dianggap tidak cocok untuk habitat satwa, maka pemkot mencarikan solusi tempat lain yang lebih luas dan sesuai untuk perkembangan satwa.
Saat itu, ada dua lokasi alternatif, yakni di daerah Watugong, dan Tinjomoyo. Setelah dikaji, lahan di Tinjomoyo lebih representatif. Saat itu, lahan di Tinjomoyo belum seperti sekarang, masih berupa alang-alang atau semak belukar. Dari situ, pemkot bersama elemen masyarakat, seperti TNI, Polri, pelajar, mahasiswa, dan SKPD (satuan kerja perangkat daerah) berniat menjadikan lahan Tinjomoyo sebagai hutan.
“Sekitar tahun 1985 mulai ditanami berbagai jenis dan macam pohon. Dari data yang ada saat itu ada sekitar 48 jenis pohon yang ditanam,” terang Hera Dwi Wahyu Nusantara, mantan Kepala UPTD Tinjomoyo kepada Radar Semarang.
Menurut pria kelahiran Pati, 30 Oktober 1964 itu, pemkot memilih lokasi Tinjomoyo sebagai tempat relokasi bonbin karena melihat kontur dan geografis Tinjomoyo yang begitu luas sangat cocok untuk perkembangan satwa. Selain itu, juga jauh dari kebisingan kendaraan dan lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Sehingga mudah diakses. 
“Saat itu direncanakan lahan untuk bonbin seluas 400 hektare. Namun pemkot saat itu hanya mampu membebaskan 65 hektare saja. Karena saat itu lahan di Tinjomoyo milik perorangan, bukan aset pemkot,” cerita PNS yang sempat bertugas mengelola hutan Tinjomoyo  mulai 1992 sampai 2009 ini. “Tapi dari luasan itu semakin berkurang karena ada lahan yang ditukargulingkan. Jadi sekarang tinggal 57,5 hektare,” imbuhnya.
Enam tahun setelah penanaman, pohon-pohon pun mulai tumbuh besar. Dirasa sudah cocok untuk habitat satwa, maka pada 1 Februari 1991, satwa dari Tegal Wareng dipindah ke hutan Tinjomoyo. Saat itu, untuk mengelola THR dibentuklah unit pelaksana daerah (UPD) Pengelola Taman Marga Satwa dan Kebun Raya.
Namun seiring waktu berjalan, kondisi lahan di Tinjomoyo mulai menunjukkan pergerakan. Tepatnya 15 tahun setelah digunakan sebagai bonbin, sejumlah pondasi kandang mulai ambrol, karena tanah bergerak. Kandang buaya yang lokasinya dekat dengan aliran sungai juga mengalami kerusakan, karena terus tergerus air sungai hingga pondasi kandang pun semakin keropos.
Khawatir puluhan buaya yang ada di dalamnya lepas, maka pemkot pun mulai memikirkan alternatif tempat lain untuk menampung predator mematikan tersebut. Niatan untuk merelokasi satwa ke tempat lebih aman semakin kuat setelah jembatan Tinjomoyo sebagai akses utama ambrol. Jembatan sepanjang kurang lebih 100 meter itu ambrol sekitar 2004. Kondisi tersebut sempat menghambat operasional bonbin.
“Suplai makanan dan karyawan terpaksa lewat belakang. Lewat Gombel Lama Kelurahan Tinjomoyo. Kemudian, untuk akses sementara akhirnya diberi jembatan belly,” katanya.
Pada 2004-2005 satwa mulai dipindah secara bergiliran ke TMS Mangkang. Buaya dipindah ke Taman Lele, karena saat itu kandang buaya di Bonbin Mangkang belum terbangun. “Yang pertama dipindah itu buaya, karena kandangnya terus tergerus sungai, jadi dititipkan ke Taman Lele dulu sambil menunggu kandang yang di Mangkang selesai,” kata pria yang menjadi CPNS dan bertugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) sejak 14 November 1992 ini.
Setelah semua satwa dipindahkan, hutan Tinjomoyo sempat mangkrak. Kemudian oleh pemkot kawasan tersebut dijadikan sebagai tempat outbond, camping, bermain airsoft gun, painball, tracking mengelilingi dan tempat pemotretan saja.
“Dalam perjalanan waktu, sekitar tahun 2008 masyarakat yang memanfaatkan hutan Tinjomoyo sebagai destinasi wisata atau tempat bermain airsoft gun dan lainnya mulai menurun. Hal itu juga berdampak terhadap PAD (pendapatan asli daerah) yang masuk ke pemkot. Biaya operasional dengan pendapatan tidak sebanding. Yang masih bertahan saat ini adalah camping dan permainan airsoft gun, tapi perputaran pendapatannya sangat lambat,” ujarnya.
“Sebenarnya sekarang yang bisa kita usahakan itu menjual tempat,” kata pria yang saat ini bertugas menjadi pengelola taman wisata Sodong, Kelurahan Purwosari, Mijen ini. (zal/aro)