17 Perlintasan KA Rawan Kecelakaan

458

KAJEN – Dari 35 perlintasan kereta api (KA), yang ada di Kabupaten Pekalongan, ada 17 titik perlintasan yang tidak berpalang dan tidak memiliki penerangan. Akibatnya, di 17 perlintasan tak berpalang tersebut rawan akan kecelakaan karena tidak ada satu pun petugas yang menjaga. Terlebih sejak pemberlakuan sistem double track, volume lalu lintas KA setiap harinya mencapai sekitar 79 kali lebih.
Kepala Bidang Lalu lintas dan Angkutan, Dinas Perhubungan Komunikasi Informatika (Dishubkominfo), Kabupaten Pekalongan, Wahyu Kuncoro mengungkapkan sebagian jalan perlintasan KA yang tergolong liar itu masih berupa tanah. Tapi beberapa sudah beraspal, dan sering dilalui warga.
Wahyu juga mengatakan, sejak pemberlakuan sistem double track, volume lalu lintas KA setiap harinya mencapai sekitar 79 kali lebih di sepanjang perlintasan di Kabupaten Pekalongan. Menurutnya, 17 perlintasan liar tersebut, rawan akan kecelakaan, karena perlintasan baik liar maupun resmi, tidak dijaga petugas. Padahal, tinggal kurang lebih sebulan lagi, ada peningkatan jumlah kereta yang melintas, terutama pada arus mudik 2014.
“Parahnya, pada 17 kereta api tanpa palang pintu dan penjaga, juga tidak dipasang lampu penerangan. Lampu penerangan hanya ada pelintasan wilayah Tengeng, Kecamatan Siwalan.” Kata Wahyu.
Kepala Dishubkominfo Kabupaten Pekalongan, Eddi Widianto menambahkan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan, pada perlintasan KA yang tak berpalang. Dishubkominfo telah melakukan sosialisasi pada warga dan tokoh masyarakat setempat.
“Sebagai langkah persiapan mengatasi permasalahan tersebut, nanti pada pelaksanaan arus mudik 2014 kami akan berkoordinasi dengan Linmas di masing-masing lokasi perlintasan tak berpalang pintu agar dijaga. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi terjadi kecelakaan di jalur kereta api,” tandasnya.
Sementara itu pengurus RT 09 Desa Dadirejo, Kecamatan Wiradesa, Sumarlin Minggu (29/6) siang menegaskan, perlintasan KA tak berpalang di desa sering terjadi kecelakaan. Terutama setiap menjelang arus mudik. Bahkan tak jarang menewaskan korban. Menurutnya, petugas Linmas yang hendak ditunjuk, untuk menjaga perlintasan tak berpalang harus mendapatkan gaji dari Pemda.
“Ide petugas Linmas Desa untuk jaga perlintasan kereta api tak berpalang, sudah ada sejak dulu. Tapi tidak pernah berjalan, karena petugas Linmas atau Hansip tidak ada yang menggaji, siapa yang bayar selama 24 jam, terlebih masih suasana puasa menjelang lebaran,” tegasnya. (thd/ric)