Al Quran Raksasa jadi Daya Tarik

439

Mengunjungi Masjid Jami Aulia, Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Timur yang Menjadi Cagar Budaya

Taufik hidayat, Pekalongan

Setiap kali bulan Ramadan datang, suasana di Masjid Jami Aulia, Kelurahan Sapuro, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan selalu dikunjungi jamaah dari luar kota dan luar pulau. Sebagian ada yang berziarah dan sebagian ada yang ingin melihat langsung Al Quran ukuran raksasa yang di dalam masjid tersebut.

Adanya Al Quran raksasa dengan ukuran tinggi 235 cm dan lebar 200 cm yang terbuat dari bahan baku kain kanvas dan triplek tebal memang menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Disamping Masjid Jami Aulia Sapuro, adalah masjid tertua di Karesidenan Pekalongan.
Sobari, 34, warga Kota Tegal. Minggu (29/6) siang kemarin mengaku rutin datang ke Masjid Jami Aulia Sapuro setiap awal Ramadan untuk menginap dan salat tarawih selama tiga hari pertama. Menurutnya, salat di masjid itu bisa sangat khusyuk. ”Ini hanya pengalaman pribadi saya saja, namun sudah saya lakukan lebih dari 4 tahun,” ujar pengusaha asal Kota Tegal itu.
Takmir Masjid Jami Aulia, Kyai Dananir mengungkapkan Al Quran tersebut berisi khusus juz 30, dan ditambah surat Al Fathihah. Huruf-hurufnya dibuat dari cat hitam tulisan tangan. Tulisannya cukup bagus, seperti hasil cetakan pada Al Quran biasa.
“Kitab Al Quran raksasa itu sudah ada sejak tahun 1970-an. Kitab itu merupakan pemberian seorang polisi dari Polwil Pekalongan. Untuk merawatnya selalu dibersihkan dari debu, dan kelembapan air, yang dapat membuat lembarannya rusak” ungkapnya.
Kyai Dananir juga mengatakan, bahwa para musyafir yang masuk ke masjid biasanya menyempatkan melihat Al Quran raksasa tersebut. Menurutnya, Masjid Jami Aulia Sapuro merupakan masjid tertua di Karesidenan Pekalongan dan sudah menjadi cagar budaya. Konon, masjid ini dibangun tahun 1035 Hijriyah, oleh empat utusan raja Demak, yakni Kiai Maksum, Kiai Sulaiman, Kiai Lukman, dan Nyai Kudung.
“Dulu sejarahnya, sebenarnya masjid ini akan dibangun di Alas Roban Batang, karena saat itu di Alas Roban sering terjadi konflik atau perang. Maka oleh Kiai Maksum, Kiai Sulaiman, Kiai Lukman, dan Nyai Kudung dipindah seketika ke Kota Pekalongan. Sampai saat ini sebagian warga Kota Pekalongan, masih menamakan Masjid Tiban, atau yang tiba-tiba ada,” ujar Kyai Dananir.
Selain tua, masjid itu memiliki ornamen-ornamen ukiran yang unik. Di depan pintu Masjid terdapat prasasti bertuliskan huruf arab yang terbuat dari kayu. Ada tiga prasasti yang menunjukkan tahun pembangunan dan perbaikan masjid. Tiga tahun penunjuk pembangunan dan perbaikan itu adalah tahun 1035, 1134 dan 1207 Hijriyah. Masjid itu mampu menampung 500 jamaah. Tiang yang berjumlah empat itu terdiri atas kayu jati berukuran sekitar 40 cm x 40 cm. Temboknya terlihat bercorak arsitektur Timur Tengah dengan tiga pintu besar dari kayu.
Sedangkan ruang utamanya mengacu tradisi Jawa, dengan menggunakan empat saka guru yang semuanya menggunakan kayu jati berukuran besar. Lengkap dengan umpak penyangga dari batu. Konon, kayu-kayu untuk bangunan masjid itu berasal dari sisa pembangunan Masjid Demak masa Walisanga. Sedangkan mimbar untuk khotbah seperti bangunan keraton Jawa berornamen ukir-ukiran lengkap dengan trap tangga merupakan hadiah dari Sunan Kalijaga.
Bahkan terlihat adanya prasasti di atasnya bertuliskan tahun 1208 Hijriyah. Mimbar itu memiliki nilai yang tinggi, sehingga tidak semua orang berani masuk ke mimbar, kecuali petugas yang akan menyampaikan khotbah. Namun siapa pembuatnya dan kapan dibuat, tak ada yang tahu. Meski sudah direnovasi hingga 4 kali, sisa kebesaran masjid masih bisa dilihat dari pintu yang kokoh dan ornamen di dalamnya.
Dilingkungan Masjid ami Aulia, juga dimakamkan, beberapa kyai, habib dan ulama. Seperti Habib Ahmad Alatas, Pangeran Adipati Aryo Notodirjo, Bupati Pasuruan R Tumenggung Amongnegoro dan beberapa sesepuh lainnya. (thd/ric)