Belajar Otodidak lewat Literatur dan Internet

305

Mengenal Lebih Dekat AR. Sugeng Riyadi, Pakar Astronomi Solo

Penentuan awal Ramadan bisa dilihat secara rukyat untuk melihat hilal (bulan). Ada sosok yang cukup berpengaruh di Kota Solo terkait penentuan 1 Ramadan. Dia adalah AR. Sugeng Riyadi.

EDY WIDODO, Solo

SAAT penentuan awal Ramadan, AR. Sugeng Riyadi tak menunjukkan kelelahan. Padahal, dia harus menaiki ratusan anak tangga hingga mencapai lantai enam di salah satu gedung Assalaam Center di kompleks Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam. Di lantai enam itulah lokasi Observatorium Club Astronomi Santri Assalaam (CASA) PPMI Assalaam.
Di tempat itu, Sugeng – sapaan AR. Sugeng Riyadi – selama dua hari (27–28/6) melakukan rukyah hilal untuk penentuan awal Ramadan 1435 H. Dengan menggunakan peralatan pendukung canggih, citra penampakan hilal belum terlihat pada hari pertama, baik oleh mata maupun teleskop. Sehingga, awal Ramadan 1435 H secara rukyat dipastikan jatuh pada Minggu ini.
Berdasar hasil pengamatan Sugeng bersama timnya dan pihak terkait, menjadi bagian pertimbangan oleh pemerintah. Bahkan, hasil rukyatnnya juga dipublikasikan dijejaring online internasional.
”Khusus di Indonesia perbedaan penentuan awal Ramadan tak disebabkan karena faktor keilmuan. Artinya, secara ilmu pengetahuan penentuan 1 Ramadan maupun 1 Syawal yang ditentukan oleh siapa pun sebenarnya hasilnya pasti sama. Namun, kalangan Muhammadiyah dan pemerintah punya dasar penentuan yang berbeda,” papar koordinator Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak-Rukyatulhilal Indonesia (RHI) Surakarta, ini.
Perbedaan itu, terutama dalam hal tempat pengamatan dan batas minimal ketinggian hilal, yakni ketinggian di atas 0 derajat dan minimal 2 derajat. Tapi dengan cara yang sama, maka penentuan 1 Syawal jatuhnya akan sama.
Berawal dari ekstrakurikuler astronomi yang dibentuknya pada 2005, hingga akhirnya berkembang menjadi besar. Puncaknya, pada 2012 ketika pihak Yayasan Majelis Pengajian Islam men-support dengan pembuatan observatorium yang dilengkapi sejumlah teleskop canggih. Sugeng pun didaulat sebagai Pembina CASA PPMI Assalaam.
”Saat ini sudah tahun keempat kita dipercaya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI, untuk melakukan live streaming pengamatan hilal Ramadan dan Syawal. Dan saya pribadi sudah empat kali diikutkan dalam rapat kerja badan hisab rukyat Kementerian Agama untuk menyusun kalender nasional yang diterbitkan pemerintah,” jelas pria kelahiran 1 Desember 1972, ini.
Tak hanya diakui di tingkat nasional, Sugeng kini makin dikenal di tingkat regional. Terbukti, dirinya menjadi salah satu wakil delegasi Indonesia untuk hadir dalam pertemuan ahli falak se-Asean. Bahkan dari ”tangan dingin”-nya mengembangkan observatorium CASA, kini tempat tersebut jadi destinasi rujukan sejumlah institusi untuk mempelajari astronomi. Mulai dari TK hingga universitas, baik Kota Solo maupun luar kota, seperti dari Ciamis, Jogjakarta, Ponorogo dan Semarang.
”Untuk memperdalam ilmu astronomi, saya dapatkan secara otodidak lewat sejumlah literatur dan browsing internet. Dari internet, saya kenal dan berkomunikasi dengan ahli astronomi di Indonesia dan dunia,” jelas alumnus IKIP Jogjakarta (sekarang UNY, Red) jurusan Pendidikan Fisika, ini.
Obsesi dia sederhana, yakni agar seluruh pelajar di Indonesia mengenal astronomi. Harapannya, seluruh pesantren di Indonesia punya sebuah pusat studi ilmu falak. (*/un)