Bubur India Pekojan, Lestarikan Tradisi

313

SEMARANG – Berbagai macam takjil khas Ramadan bisa dinikmati di bulan suci ini. Salah satunya menu takjil Bubur India yang selalu disediakan oleh Masjid Jami’ Pekojan di Jalan Petolongan Semarang.
Bentuknya sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan bubur beras biasa, namun bubur India khas Pekojan ini selalu diburu para penikmatnya. Tak sedikit masyarakat di luar Pekojan yang khusus berbuka puasa di Masjid Jami’ Pekojan, khusus untuk mendapatkan semangkuk bubur nikmat ini.
Konon resep bubur India ala Masjid Jami’ Pekojan dibawa oleh saudagar India ke Semarang puluhan tahun lalu, lantas menunya ditularkan kepada warga Pekojan, yang kebetulan saat itu tengah Ramadan. Karena itulah bubur India hanya ada dan dibuat saat Ramadan saja.
Saat ini, ‘koki’ bubur India sudah masuk ke generasi ke empat, Achmad Tohir, 52, menuturkan, sebenarnya pembuatan bubur India tersebut tidak terlalu rumit, hanya saja membutuhkan Waktu yang lama. “Kami mulai belanja resepnya jam 08.00 pagi. Setelah itu pukul 12.00 siang mereka mulai memasak. Yang sangat butuh kesabaran adalah proses memasaknya yang hampir tiga jam dan harus selalu diaduk,” terangnya.
Soal resepnya, Tohir menyebutkan hanya menggunakan resep rempah biasa seperti santan kelapa, garam, bawang merah, bawang putih, jahe, serai, pandan wangi, kayu manis, dan cengkeh. Ada juga daun bawang, dan wortel. “Selain rempahnya, Selain yang membuat rasa bubur India berbeda karena di masak dengan api kayu bakar. Masak dengan api kayu bakar memang membuat masakan lebih sedap dibanding dengan gas,” imbuhnya.
Makanya, karena rasa khas tersebut bubur India tidak pernah sepi peminat. Masyarakat kampung Petolongan maupun para musafir yang kebetulan melintas selalu menyempatkan untuk mencicipi bubur India. “Sehari sekitar 16 kg bahan pokok bisa kita habiskan, dan bisa 200-an orang yang datang untuk berbuka bubur India disini, selain ingin merasakan bumbu khas bubur India kebanyakan mereka ingin melestarikan tradisi ini,” lanjutnya.
Bubur India sendiri biasanya dipadu dengan sayur tahu, gulai kambing, lodeh, atau sop yang disediakan oleh dermawan Masjid. Selain itu disediakan pula air putih, tehmanis dan juga Kurma sebagai menu takjil.
Bahan baku bubur sendiri mulai disediakan oleh masyarakat sekitar ataupun dermawan sejak lima hari menjelang bulan Ramadan. Tak ketinggalan kayu bakar juga mulai dikumpulkan di dapur Masjid tersebut. “Intinya kami semua berusaha menjaga tradisi bubur India yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu,” pungks Tohir. (bas/smu)