Daya Saing Naik, Kualitas Hidup Lemah

321

MENGAWALI tulisan ini, perkenankan saya mengucapkan ”Selamat Menunaikan Ibadah Puasa” kepada seluruh pembaca Radar Semarang yang menjalankannya. Semoga ibadah puasa selama bulan suci Ramadan ini, makin menjadikan diri kita sebagai pribadi yang berhati mulia, bermartabat dan bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat.
Menjelang akhir tahun pertama masa jabatan Gubernur-Wagub, Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko dalam memimpin Jawa Tengan (Jateng), ada kabar yang cukup menggembirakan bagi pemerintah dan rakyat Jateng terkait daya saing provinsi ini dalam konstelasi nasional.
Berdasarkan hasil analisis daya saing dan strategi pembangunan untuk 33 provinsi Indonesia yang dilakukan Asia Competitiveness Institute (ACI) dalam ACI Policy Paper Series Nomor 10/2014, dilaporkan bahwa daya saing Jateng pada periode 2013/2014 meningkat dari tahun sebelumnya.
Adapun ringkasan hasil analisis daya saing ACI dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, peringkat daya saing Jateng berada pada posisi ke-4 dengan skor 1,326 atau meningkat dua peringkat dibanding tahun sebelumnya. Peringkat 1, 2 dan 3 masing-masing ditempati DKI Jakarta, Jatim dan Kaltim. Skor tersebut menunjukkan ada perkembangan yang signifikan dalam upaya-upaya Pemda untuk meningkatkan daya saing daerah.
Kedua, untuk peringkat Stabilitas Ekonomi Makro, Jateng menempati urutan ke-6 dengan skor 0,465. Jateng berada di bawah DKI Jakarta, Jatim, Jabar, Kaltim dan Kepulauan Riau. Jateng termasuk dalam 11 provinsi yang memiliki skor positif, sementara 22 provinsi memiliki skor negatif. Peringkat ke-6 tersebut sedikit lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
Ketiga, untuk peringkat Perencanaan Pemerintah dan Institusi, Jateng menempati urutan ke-2 (skor 1,523) di bawah DKI Jakarta. Skor tersebut meningkat pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa perencanaan dan tata kelola pemerintah dan institusi di Jateng dalam setahun terakhir semakin membaik dan efektif.
Keempat, untuk peringkat Kondisi Finansial, Bisnis, dan Tenaga Kerja, Jateng juga menempati urutan ke-2 di bawah DKI Jakarta. Jateng mencatat skor 1,971, sementara DKI Jakarta skornya adalah 3.091. Posisi tersebut naik dua peringkat dari tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi finansial, kondisi dunia usaha dan kondisi tenaga kerja selama tahun 2013-2014 di Jateng jauh lebih kondusif dan baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kelima, untuk peringkat Kualitas Hidup dan Pembangun Infrastruktur, Jateng mencatat skor hanya 0,505 dan berada pada posisi ke-13. Posisi tersebut sama dengan tahun sebelumnya. Dari 16 provinsi yang tercatat memiliki skor positif, Jateng hanya sedikit lebih baik daripada Sumut, Jabar dan Riau. Jateng tertinggal jauh dari DIJ, Kaltim, DKI Jakarta, Jatim, Kepulauan Riau dan Kalsel yang tercatat memiliki skor di atas 1,1.
Peringkat tersebut menunjukkan bahwa pembangunan untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat dan infrastruktur yang menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat Jateng masih sangat lemah dan kurang mendapat perhatian dari Pemprov dan Pemkab/Pemkot. Hal ini, tentu saja berimplikasi luas pada seluruh sendi kehidupan ekonomi, sosial, politik dan lainnya.
Secara keseluruhan, ACI melaporkan hasil analisis jaring daya saing median menunjukkan bahwa skor nilai daya saing Jateng lebih besar atau lebih baik daripada nilai median dari 33 provinsi untuk 10 sublingkup daya saing. Yaitu, kedinamisan ekonomi, keterbukaan dalam perdagangan dan jasa, daya tarik terhadap investasi asing, kebijakan
pemerintah dan ketahanan fiskal, institusi, pemerintah dan kepemimpinan, dan juga persaingan, standar regulasi dan penegakan hukum.
Selain itu, Jateng juga lebih baik untuk sublingkup kemampuan finansial dan efisiensi bisnis, fleksibilitas pasar tenaga kerja, infrastruktur teknologi dan infrastruktur fisik. Namun, untuk sublingkup kinerja produktivitas dan kualitas hidup, pendidikan dan stabilitas sosial, skor nilai Jateng lebih kecil dari median 33 provinsi.

Menyikapi secara Arif

Berdasarkan peringkat dan hasil analisis daya saing ACI di atas, maka Pemprov dan Pemkab/Pemkot serta rakyat Jateng boleh berbangga diri terhadap prestasi peningkatan kinerja daya saing Jateng. Karena hal itu merupakan hasil kerja keras, kerja cerdas dan kerja tuntas dari semua pihak.
Namun demikian, Pemda dan semua pihak perlu menyadari dan menyikapinya secara arif dan bijaksana, karena masih ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Dari hasil studi, catatan serta rekomendasi ACI dapat disimpulkan bahwa Pemrov dan Pemkab/Pemkot se-Jateng masih perlu memberikan perhatian yang lebih besar dan serius lagi pada permasalahan pembangunan kualitas hidup manusia dan pembangunan infrastruktur pada tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya. Dua permasalahan itu sangat krusial dan menjadi masalah kronis yang menghambat laju daya saing Jateng.
Peningkatkan kuantitas dan kualitas pembangunan pada lingkup atau sektor tersebut, tentu saja akan membutuhkan perhatian serius, energi dan sumber daya yang besar, serta dukungan dan sinergi yang luas antar para pihak stakeholder. Keseriusan dan kolaborasi tersebut tentu akan berdampak positif meningkatkan kualitas hidup, pendidikan dan stabilitas sosial, kinerja produktivitas, daya tarik investasi asing, stabilitas ekonomi makro dan daya saing Jateng di masa datang.
Selain segera membenahi permasalahan tersebut, pembenahan terhadap sistem dan tata kelola pemerintahan dan pembangunan daerah yang baik dan bertanggung jawab juga menjadi persyaratan penting untuk meningkatkan daya saing Jateng ke depan. Meskipun sudah ada arahan strategis, taktikal dan operasional dalam RPJMD Jateng periode 2013-2018, namun implementasi, kesungguhan dan kesesuaiannya masih dinantikan sekaligus diragukan banyak pihak. Para pelaku ekonomi dan masyarakat Jateng masih menantikan kesungguhan dan bukti nyata dari Gubernur Jateng memenuhi janji kampanyenya untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel dan transparan sehingga hambatan-hambatan dalam dunia usaha dan daya saing investasi yang terjadi selama ini dapat diminimalisir.
Tentu saja berbagai upaya tersebut di atas akan berimplikasi luas pada peningkatan daya saing Jateng. Peningkatan daya saing tersebut tentu akan berdampak positif secara signifikan pada peningkatan kualitas perekonomian dan produk domestik regional bruto (PDRB) serta pendapatan per kapita masyarakat. Juga akan berdampak positif menurunkan jumlah penduduk miskin dan melarat serta menganggur, serta meningkatkan kualitas SDM dan kesejahteraan rakyat Jateng di masa datang. (*/ida/ce1)