Hasilnya Unik dan Tonjolkan Cinta Budaya Indonesia

340

Mahasiswa Undip Manfaatkan serta Bambu Jadi Sepatu

Membuat furnitur dari bambu, itu sudah biasa. Rumah berbahan baku bambu juga sudah membudaya. Bahkan bahan baku isi lunpia makanan khas Kota Semarang, juga dari bambu muda. Bagaimana dengan sepatu dari serat bambu?

EKO WAHYU BUDIYANTO, Tembalang

INDONESIA merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Berbagai jenis tumbuhan mengakar di tanah air Indonesia. Meski demikian, sumber daya alam ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, empat mahasiswa Jurusan Teknik Industri Undip, yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang lolos pendanaan DIKTI (Pendidikan Tinggi), berusaha memanfaatkan serat bambu untuk dijadikan bahan sepatu.
Tim terdiri atas Felix Pandan N W selaku ketua tim, dan Faesal Adam, Sarsa Surya R serta Nimas Mayangsari.
”Dengan memanfaatkan segala kebaikan dari serat bambu, kami telah menemukan teknik pengolahannya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan sepatu,” kata Felix.
Saat ini, model yang dibuat oleh tim meliputi flat shoes, sandal, wedges, high heels. ”Tapi ke depan kami akan memperbanyak model,” ujarnya.
Dijelaskan Felix, sepatu beserta pengemasannya terbuat dari bambu dan bahan ramah lingkungan lainnya. Sepatu ini memiliki keunikan dan menonjolkan sisi cinta budaya Indonesia. Desain sepatu juga menyesuaikan dengan permintaan konsumen. ”Untuk pembuatan sepatu ini, kami memberdayakan usaha kecil menengah (UKM) di Jawa Tengah,” tuturnya.
Dalam pembuatan sepatu dari serat bambu, diakui Faisal, belum menemui kendala berarti. Menurutnya, dari sisi bahan, bisa didapatkan dari mana-mana. ”Ketika bambu dimanfaatkan untuk membantu konstruksi bangunan, setelah selesai dianggap sebagai limbah buangan. Padahal, memiliki manfaat yang sangat besar dan beragam,” tutur Faisal.
Bambu, imbuhnya, mengandung serat yang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal, terutama di Indonesia. Sama halnya dengan bambu sendiri, serat bambu memiliki beragam sifat yang unik. Antara lain antikuman, antibakteri, menyerap dan menghilangkan bau, menyerap dan mengeluarkan air dan super anti-ultraviolet.
Sedangkan kelebihan serat bambu, menurutnya, ketika diteliti menggunakan mikroskop elektron, bakteri dalam jumlah yang sama pada kain jenis katun dan serat kayu, dapat menggandakan diri dalam jumlah besar. Namun pada produk serat bambu, bakteri tersebut dalam 24 jam kemudian, mati terbunuh sekitar 75 persen.
Struktur pori-pori kecil khusus di bagian dalam serat bambu, tuturnya, juga memiliki daya serap tinggi. Dapat menyerap formaldehyde, benzene, toluene, ammonia dan substansi berbahaya lainnya dan dapat menghilangkan bau tidak sedap. Melalui mikroskop elektron dengan pembesaran 2.000 kali, di permukaan serat bambu terdapat banyak cekungan dan cembungan, membentuk lubang-lubang besar berbentuk oval.
Selain itu, Faisal juga mengatakan, dalam serat bambu menunjukkan daya kapilaritas yang tinggi, dengan cepat menyerap dan menguapkan air. ”Dibandingkan semua serat alami, daya serap dan daya pengeluaran air serat bambu adalah yang paling tinggi. Daya tembus ultraviolet di katun sebesar 25 persen, daya tembus di serat bambu 0.6 persen, atau lebih tinggi 41.7 kali lipat. Produk serat bambu dapat digunakan di segala musim, membuat orang terasa nyaman dan sejuk,” katanya.
Sarsa, anggota tim lainnya berharap inovasi produk sepatu serat bambu dapat dikenal masyarakat luas. Apalagi produk ini lebih menonjolkan sisi budaya Indonesia. ”Sepatu serat bambu ini masih belum banyak dikenal dan dijumpai di pasaran. Peluangnya sangat bagus dan bisa bersaing dengan produk lainnya,” tuturnya. (*/ida/ce1)