Jadi Tempat Mesum, Investor Tak Tertarik

2603

Eks Bonbin Tinjomoyo, Nasibmu Kini

Hutan Wisata Tinjomoyo merupakan salah satu aset wisata milik Pemkot Semarang yang kondisinya tidak terawat. Potensi wisata di lahan seluas 57,5 hektare itu seakan lenyap seiring dengan kepindahan Taman Marga Satwa (TMS) Tinjomoyo ke kawasan Mangkang (Kebun Binatang Mangkang) pada 2006 silam.

SEPI. Begitulah suasana ketika Radar Semarang memasuki hutan wisata Tinjomoyo, Kamis (26/6) lalu. Hanya ada beberapa orang yang hilir mudik masuk ke kawasan bekas kebun binatang (bonbin) Tinjomoyo ini. Rata-rata mereka adalah warga RW 08, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunung Pati. Kebetulan hutan wisata ini menjadi salah satu akses masuk ke kampung yang berada di belakang objek wisata alam tersebut.
Saat masuk ke hutan wisata seluas kurang lebih 57,5 hektare itu, pengunjung yang bukan warga kampung setempat, ditarik retribusi tiket sebesar Rp 3 ribu, sudah termasuk premi asuransi. Tarifnya relatif murah, karena di lokasi ini setiap pengunjung memang ’hanya disuguhi’ rimbunnnya pepohonan, segarnya udara, serta beberapa kandang mangkrak yang sudah rusak dan kosong tak ada koleksi hewannya.
Saat menyusuri jalan beraspal maupun cor beton di kawasan ini suasananya cukup senyap. Kalau Anda datang sendirian, dijamin Anda akan diliputi perasaan ketakutan. Apalagi di jalan yang tak dilewati warga kampung sekitar.
Khamid, 45, warga kampung Tinjomoyo RW 08, Kelurahan Sukorejo, Gunung Pati mengaku, setelah tidak menjadi kebun binatang, Tinjomoyo seperti mati suri lantaran tidak ada aktivitas lain. “Harusnya dibikin wahana baru, contohnya penambahan wisata outbond dan wisata alam tentunya,” katanya kepada Radar Semarang.
Menurutnya, dengan pembangunan beberapa fasilitas dan wahana permainan. Tinjomoyo akan kembali hidup dan bisa mengangkat perekonomian warga sekitarnya. “Dulu sih cukup ramai, banyak warga yang datang, sehingga kita bisa berjualan. Kalau sekarang ya seperti ini, sepi,” paparnya.
Abul Ghofur, 55, warga lainnya meminta agar Pemkot Semarang segera membangun beberapa fasilitas dan wahana di Tinjomoyo. “Kalau dibuat wahana baru pasti bisa jadi magnet wisata, sehingga warga sekitar bisa kembali berjualan dan mengurangi pengangguran yang ada,” harapnya.
Kasubag Tata Usaha Hutan Wisata Tinjomoyo, Suparno, mengatakan, sejak berubah fungsi menjadi hutan wisata, Tinjomoyo memang hanya ramai pada akhir pekan. Itupun terkadang tak ada pengunjung sama sekali. “Ramainya ya akhir pekan, paling yang datang komunitas airsoft gun, dan kalangan fotografi yang melakukan hunting foto dan prewedding,” katanya kepada Radar Semarang.
Menurut Suparno, pengunjung yang datang biasanya untuk sekadar foto di jembatan gantung yang disebut jembatan merah. Ada juga yang datang rombongan untuk camping. ”Tapi itu jarang-jarang,” ujarnya.
Saiful, warga Tinjomoyo mengaku, eks Kebun Binatang Tinjomoyo itu juga kerap dipakai pasangan muda-mudi untuk memadu kasih. Bahkan, kawasan tersebut kerap dijadikan tempat mesum kalangan remaja. Maklum saja, lokasinya memang sepi, dan jauh dari permukiman warga. Selain itu, di kawasan ini banyak lokasi yang tertutup pepohonan dan rimbunnya daun. “Warga sekitar geram karena kerap memergoki beberapa remaja melakukan tindakan mesum di lokasi hutan wisata Tinjomoyo,” kata Saiful.
Namun pengakuan Saiful itu dibantah oleh Suparno. Ia menampik jika lokasi taman wisata Tinjomoyo dijadikan tempat pacaran dan mesum. “Kalau yang pacaran paling hanya nongkrong, mereka tidak berani berbuat mesum. Soalnya, jalan masuk Tinjomoyo ini juga akses jalan menuju perkampungan. Jadi, pasti ada warga yang lewat,” kilahnya.

Suparno menambahkan, Dinas Pertanian bersama Dinas Pariwisata Kota Semarang telah menggagas pembangunan hutan kota yang dilengkapi dengan berbagai macam pepohonan rindang di kawasan ini. Bahkan sesuai master plan, ke depannya di hutan wisata Tinjomoyo akan ditambah beberapa fasilitas lain.
“Saat ini sudah dibangun musala. Ke depannya, sesuai masterplan akan dibuat hutan kota untuk kegiatan pencinta alam, penelitian, serta wisata alam seperti outbond. Sedangkan pada tahun  2015, pemerintah kota akan merehab gasebo dan gedung kantor agar lebih layak,” katanya.
Dikatakan, sebagai objek wisata, Tinjomoyo juga ditarget pendapatan oleh pemkot. Tahun ini, kata dia, pihaknya ditargetkan pendapatan Rp 8 juta. ”Sampai bulan Juni ini sudah terealisasi 71 persen,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pembina Industri Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Sapto Giarsito Putratmo mengatakan, saat ini pemkot tengah berusaha mengoptimalkan potensi hutan wisata Tinjomoyo dengan melibatkan investor.
“Yang pasti kalau di Tinjomoyo tetap jadi objek wisata yang arahnya ke adventure atau petualangan. Seperti untuk outbond, off road, APV, camping ground, dan untuk ekowisata. Karena di sana banyak tumbuh tanaman-tanaman yang bisa untuk penelitian,” katanya.
Diakui Satpo, yang masih menjadi kendala utama pengembangan hutan Tinjomoyo adalah struktur  tanahnya yang labil. Sehingga dihindari pengembangan yang sifatnya pembangunan infrastruktur.
“Waktu dipakai kebun binatang banyak kandang-kandang yang rusak. Dari situ kita berkeinginan mengalihfungsikan lahan sebagai hutan wisata. Jadi, kita tinggal menambahi fasilitas-fasilitas agar objek wisata hutan lebih menarik pengunjung,” ujarnya.
Penambahan fasilitas infrastruktur akan diarahkan di area bawah. Karena berdasar hasil kajian, area atas struktur tanahnya berlumpur. Sedangkan bagian bawah lebih keras. Sehingga dianggap lebih memungkinkan untuk pembangunan fasilitas, seperti perkantoran, musala, dan fasilitas penunjang lain. “Jadi konsep alam yang kita kembangkan tidak banyak infrastruktur, hanya beberapa fasilitas utama saja seperti musala, gasebo, dan perkantoran saja,” kata Sapto.
Menurut Sapto, bentuk keseriusan pemkot mengembangkan hutan wisata Tinjomoyo yakni dengan membangun jembatan permanen yang lebih lebar dan kokoh. Sebelumnya, hanya berupa jembatan belly, yang setiap tahunnya membayar sewa kepada TNI.
“Rencananya dalam pengembangan hutan wisata Tinjomoyo kita akan melibatkan investor. Sebelum diajukan investor kita buat jembatan permanen, sehingga investor akan lebih tertarik karena aksesnya mudah,” tandasnya.
Selain terkendala kontur tanah, lanjut Sapto, persoalan lain yang harus dicarikan solusinya adalah akses hutan Tinjomoyo masih dijadikan sebagai jalur alternatif penduduk sekitar. “Artinya, kalau kawasan itu dibuat objek wisata, akses permukiman di sebelah selatan harus ditutup. Tidak terbuka untuk umum, karena sebenarnya itu bukan untuk umum, tapi milik pemkot,” katanya.
Selama ini porsi anggaran untuk pengembangan hutan wisata Tinjomoyo seperti apa? Sapto menjelaskan, selama ini anggaran hanya untuk renovasi-renovasi kecil, seperti renovasi fisik gedung yang mengalami kerusakan. Menurutnya, selama masih dikelola oleh unit pelaksana teknis daerah (UPTD), porsi anggaran yang dialokasikan masih minim.  
“Harus diubah pengelolaannya tidak sebagai UPTD tapi BUMD (badan usaha milik daerah), sehingga pengelola memiliki keleluasaan untuk mengembangkan diri. Kalau UPTD anggaran mengikuti dinas, jadi persentasenya kecil. Kalau jadi BUMD ada keleluasaan mengelola dan mendapatkan anggaran,” terangnya.
“Untuk TMS Mangkang sudah kita usulkan menjadi BUMD. Tapi, kalau Tinjomoyo baru sebatas ditawarkan ke pihak ketiga, karena pengembangan belum bisa optimal dan kalau mengandalkan anggaran dari APBD saja tidak mampu. Jadi, belum memenuhi syarat untuk dijadikan BUMND,” imbuhnya.
Apakah sudah ada investor yang tertarik? “Beberapa pihak investor sudah tertarik, tapi realisasinya belum sampai ke kerja sama. Dulu pernah ada investor untuk spa garden atau spa alam. Mungkin mereka menilai dari segi investasi belum bisa menguntungkan, jadi tidak ditindaklanjuti,” tandasnya. (den/zal/aro)