Manajemen Maraf dan Maaf

317

Raiatu qushuran musyrifatan ‘ala al-Jannah, faqultu li Jibril liman hadzihi? Qala li al-kadhimin al-ghaidh wa al-‘afina an al-nas. Artinya “Wahai Jibril, tadi aku melihat istana megah di surga. Untuk siapakah gerangan tempat itu?”, Tanya Nabi. Jibril menjawab: “Ia dipersiapkan untuk siapa saja yang berhasil mengendalikan marah dan yang suka memaafkan”(HR. Muslim).
Dialog antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad tersebut mempertegas firman Allah “Bergegaslah kamu sekalian menuju kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya adalah seluruh langit dan bumi, yang disediakan untuk mereka yang bertaqwa. Yaitu mereka yang menderma, baik keadaan senang ataupun susah, dan yang menahan amarah serta pemaaf kepada semua manusia. Allah mencintai mereka yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran/4: 133-134).
Menahan marah dan mudah memaafkan merupakan dua akhlak mulia yang berkaitan dengan interaksi antara manusia. Keduanya menggambarkan kualitas kemanusiaan hakiki yang tidak terpisahkan, ibarat mata uang logam yang memiliki dua sisi yang berbeda yang sama-sama pentingnya. Marah dan maaf adalah bagian dari kenyataan kehidupan. Saat ini, banyak dijumpai dalam realitas kekinian bahwa marah seolah menjadi kebiasaan dan rutinitas. Dalam literatur Arab disebutkan al-ghadlab amr jabali “marah adalah kenyataan naluriyah”.
Marah atau terkadang disebut amarah diambil dari perkataan Arab ammarah, yang artinya sesuatu yang bersifat memerintah dan mendorong. Pengertian ini sejalan dengan QS. Yusuf/12: 53 yang menjelaskan pembelaan seorang istri Fir’aun ketika digosipkan tergoda dan menyeleweng dengan Yusuf: “Aku tidaklah membiarkan lepas nafsuku, karena sesungguhnya nafsu itu pastilah sangat mendorong kepada kejahatan”. Jadi marah disebut “marah” karena ia tidak lain adalah dorongan nafsu kea rah kejahatan. Marah tidak lain merupakan gejolak jiwa yang mengarah kepada tindak kekerasan, yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Karenanya, kemampuan menahan marah menjadi faktor penting dalam menciptakan suasana damai dan tenteram dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu lebih baik ditahan dan diganti dengan sikap pemaaf, sebab karakter memberi maaf terbukti merupakan sikap yang sehat dan menyehatkan. Hal ini diperkuat dengan sebuah fakta bahwa tidak ditemukan satu ayat pun dalam al-Qur’an yang menganjurkan agar meminta maaf, tetapi yang ada adalah perintah untuk memberi maaf. “Hendaklah mereka memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (QS. al-Nur/24: 22). Ayat-ayat tersebut mengandung kesan bahwa perlunya memberi maaf kepada orang sebelum diminta bukan anjuran untuk menanti permohonan maaf dari orang yang bersalah. Mereka yang sulit memberi maaf pada dasarnya sulit pula memperoleh pengampunan dan Allah Swt. Tidak ada alasan untuk berkata, “Tiada ada maaf bagimu”, karena segalanya telah dijamin dan ditanggung oleh Allah Swt.
Memberi maaf bukan menunjukkan seseorang itu lemah, tidak mampu membalas atau tidak berdaya. Akan tetapi, kebiasaan memaafkan justru menggambarkan sifat keutamaan dan kemuliaan seseorang. Hal ini merupakan bagian dari mencontoh sebagian akhlak Tuhan yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Maka, seberapa besar kesalahan dan kekhilafan orang lain, memberikan maaf dan menerima pengakuan kesalahan orang lain menunjukkan sebah sikap yang terpuji yang dikehendaki oleh Allah.
Seorang yang mampu memberikan maaf dibanding marahnya akan menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya. Seorang pemimpin yang mudah tersinggung, mudah tersulut nafsu marahnya, tidak akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Pasangan suami-isteri yang sering emosional dan tidak membiasakan hidup saling memafkan akan sulit melayarkan laju bahtera hidupnya menuju kebahagaiaan. Karena itu, setiap muslim seyogyanya mentradisikan sikap memberi maaf bersamaan dengan menahan marah untuk membangun kedewasaan dan ketenangan hati.
Bulan puasa ini merupakan momentum paling efektif mengelola marah menjadi pemberian maaf kepada seseorang, untuk menghadirkan kenyamanan dan ketentraman kehidupan. Dengan mengintegrasikan managemen marah dan maaf akan terbangun kehidupan yang lebih baik penuh damai dan tentram dalam ridla Allah SWT. (*)