Membaca Qunut pada Salat Subuh dan Salat Witir

596

Pertanyaan:

Assalamu’alikum Wr. Wb, Bapak KH. Ahmad Izzuddin, M. Ag di Radar Semarang yang saya hormati dan dimuliakan Allah SWT. Sebagaimana yang saya ketahui, pernah ada yang membaca qunut dan tidak pada waktu subuh. Dalam hal ini terkait dengan pertengahan bulan Ramadhan ada kebiasaan pada shalat witir pada rakaat ketiga di bacakan do’a qunut. Pertanyaan saya, bagaimana sih sebenarnya latar belakang di berlakukannya do’a qunut subuh dan witir saat Ramadhan, karena ada pula yang tidak membacanya. Demikian pertanyaan saya, mohan jawaban bapak, Terimaksih. Wassalau’alaikum Wr. Wb

M. Najih, Pati 085225242xxx

Jawaban:

Wa’alaikum salam Wr. Wb, Bapak M. Najih di Pati yang saya hormati dan juga dirahmati oleh Allah SWT. Secara istilah, qunut adalah membaca doa setelah berdiri dari ruku’ dan sebelum sujud. Demikian maknanya secara umum dalam pandangan pakar-pakar huku Islam. Cukup kuat riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW pernah melakukan qunut selama sebulan penuh, mendoakan pada pembangkang dari suku Ru’al dan zakwan, yang membunuh pengajar-pengajar al-Qur’an yang beliau utus mengajar mereka. Beliau juga membaca qunut setelah perjanjian hudaibiyah untuk mendoakan kaum lemah dan orang-orang yang tertindas di kota Mekkah.
Ada lagi riwayat yang menyatakan bahwa beliau juga di samping shalat subuh pernah ber-qunut pada shalat Maghrib, Isya’ Dzuhur, bahkan salat Ashar, dengan demikian Nabi SAW, menurut aneka riwayat, pernah membca qunut pada semua shalat. Dari aneka riwayat itu timbul berbagai pendapat sejalan dengan penilaian tentang ke-shahihan riwayat atau pengompromiannya. Ada yang berpegang pada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi SAW, selalu membaca qunut dalam setiap salat sehingga mereka menganjurkan pembacaannya setiap salat. Ada lagi yang berkata bahwa karena Nabi tidak selalu membaca qunut, maka anjuran berqunut di laksanakan bila ada sebab-sebab tertentu, misalnya ada petaka atau krisis (Qunut nazilah).
Ada lagi yang berpendapat bahwa qunut dilakukan setelah shalat yang dilaksanakan tidak dengan suara nyaring, pendapat lain sebaliknya, yakni tidak membaca qunut kecuali pada shalat yang dilaksanakan dengan bacaan yang di-jahar-kan yakni Subuh, Maghrib, dan Isya. Ada lagi yang menjadikannya khusus pada shalat Subuh, alasannya antara lain adalah firman Allah SWT yang artinya, “peliharalah segala shalat (mu) dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah qanitin” (QS. Al-Baqarah [2]:238). Penganut paham ini memahami shalat wusthaa dalam arti shalat Subuh dan berdirilah qanitin dalam arti berdirilah melaksanakan qunut, bukan seperti pemahaman ulama lain bahwa salat wusthaa adalah shalat Ashar dan berdirilah qanitin dalam arti laksanakanlah salat secara sempurna dan khusyu’. Tentu saja masing-masing masih memiliki alasan-alasan lain yang bukan di sini tempatnya dirinci.
Qunut pada shalat Witir pun demikian. Yang jelas ia boleh, tetapi tidak membatalkan shalat bila di tinggalkan, ada sahabat-sahabat Nabi yang sama sekali tidak ber-qunut dalam shalat Witir sepanjang tahun. Ada ulama yang menganjurkan amalan sahabat kelompok pertama, seperti imam Malik, ada juga yang memilih amalan kelompok sahabat yang kedua seperti imam Syafi’i dan Ahmad, yakni hanya paruh kedua Rhamadhan, dan ada lagi yang mengikuti kelompok ketiga yang ber-qunut dalam shalat Witir sepanjang tahun, seperti imam abu Hanifah. Semuanya benar dan masing-mmasing mempunyai alasannya. Demikian jawaban dari saya, semoga manfaat dan barakah. wallahu a’lam bishshowab. (*)