Pengembang Keluhkan Tata Ruang

258

SEMARANG – Dilaporkannya sejumlah pengembang ke kejaksaan dan ke kepolisian oleh Menteri Perumahan Rakyat, Djan Fariz, terkait pelanggaran kewajiban pengembang yang harus membangun hunian berimbang, menyebabkan sejumlah pengembang di Jawa Tengah berpikir ulang untuk membangun rumah mewah.
Ketua Real Estate Indonesia (REI) Jateng Bidang Tata Ruang dan Lingkungan, Djoko Santoso mengatakan, hingga kini belum ada pengembang di Jawa Tengah yang bisa mengikuti aturan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan Hunian Berimbang tersebut. Hal ini dikarenakan terbentur dengan masalah tata ruang.
“Kita bukan menolak aturan tersebut, tetapi salah satu kendalanya adalah tata ruang. Tidak mungkin suatu wilayah yang memang bisanya untuk membangun rumah mewah dibangun untuk rumah sederhana. Akan terkendala dengan harga lahannya,” katanya, beberapa waktu lalu.
Selain itu, lanjutnya, kendala lainnya adalah kemampuan pengembang untuk membangun rumah sederhana juga tidak sama. Kondisi ini terkait kemampuan modal pengembang yang satu dengan yang lain juga berbeda-beda. “Sekarang belum tentu teman-teman yang biasa membangun rumah mewah bisa bisa membangun rumah sederhana. Demikian pula sebaliknya apakah pengembang yang biasa membangun rumah sedehana bisa membangun rumah mewah? Jadi semua harus dibicarakan,” ujarnya.
Djoko berharap, pemerintah dan pengembang bisa duduk bersama untuk membicarakan aturan ini lebih jauh, agar penerapannya tidak menimbulkan kendala di lapangan. Dikhawatirkan, jika masalah ini tidak segera diselesaikan maka akan memicu penambahan jumlah backlog. (aln/jpnn/smu)