Seluruh Orang Utan TSTJ Dievakuasi

327

Demi Hindari Penularan Penyakit Satwa

SOLO–Kepastian kondisi kesehatan satwa-satwa di Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) Solo bakal segera diketahui setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Dalam waktu dekat, pengelola TSTJ juga akan mengevakuasi orang utan yang masih ada di kebun binatang itu ke tempat lain.
Pemeriksaan kesehatan para satwa penting dilakukan menyusul kematian sejumlah satwa yang terjadi beberapa waktu terakhir. Dalam waktu yang tak terpaut jauh, dua orang utan, yakni Kirno dan Peby, yang ditempatkan di pulau buatan di TSTJ mati lantaran sakit. Salah satunya, belakangan diketahui telah menderita hepatitis.
Lantas, satu-satunya singa yang ada di TSTJ selama hampir 12 tahun juga mati pada pekan kemarin sebelum sempat dilakukan suntik mati. Singa bernama Oni mati karena usia yang sudah tua dan sakit-sakitan.
Direktur Utama (Dirut) TSTJ Lilik Kristanto mengatakan, ke depan segera melaksanakan pemeriksaan kesehatan para satwa yang ada di TSTJ. Pemeriksaan akan melibatkan sejumlah ahli. Di antaranya dari ahli hewan liar, patologi hewan, mikrobiologi, dan lainnya.
”Dengan pemeriksaan tersebut, nantinya bisa diketahui bagaiamana kondisi kesehatan satwa. Apakah memang ada yang mulai terlihat gejala penyakit atau tidak,” tutur Lilik, kepada wartawan, kemarin (28/6).
Antisipasi lain yang akan dilakukan pengelola, yakni bakal mengevakuasi seluruh orang utan yang ada di TSTJ. Setelah kematian Kirno dan Peby, masih tersisa lima orang utan di kebun binatang itu. Tiga orang utan yang merupakan satu keluarga tinggal di pulau buatan yang juga menjadi tempat tinggal Kirno dan Peby, dan dua orang utan lain masih berada di kandang.
Dengan evakuasi itu, alhasil tak ada lagi koleksi orang utan yang bisa dilihat di TSTJ. Namun, Lilik menilai evakuasi itu diperlukan untuk menghindari adanya penularan penyakit yang mungkin bisa terjadi. Meski, dari hasil pemeriksaan sementara, lima orang utan yang masih hidup dinyatakan sehat dan tak tertular penyakit hepatitis.
”Evakuasi itu untuk menghindari penularan penyakit ke satwa lain, semisal sudah ada bibit penyakit dari orang utan. Nantinya, evakuasi juga untuk memastikan kondisi orang utan itu sendiri. Sebelum dievakuasi, kami akan lakukan karantina dulu untuk penyesuaian,” papar dia.
Mengenai tempat evakuasi, Lilik belum bisa memberi jawaban. Saat ini, pihaknya masih terus berkonsultasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng. Diakuinya, proses evakuasi tidak bisa cepat karena perlu mempertimbangkan lokasi-lokasi tujuan evakuasi yang memungkinkan. ”Memang tidak mudah (evakuasi, Red). Tapi, soal evakuasi itu, kami intens konsultasi dengan BKSDA,” ucap dia.
Sebelumnya, BKSDA Jateng telah memutuskan bakal menyetop penitipan satwa ke TSTJ. Itu dengan pertimbangan kondisi kandang di kebun binatang yang dinilai sudah tak layak. Alhasil, dalam rentang waktu yang belum bisa dipastikan, TSTJ tak akan memiliki tambahan koleksi satwa. BKSDA meminta pengelola melakukan perbaikan kandang dan kondisi keseluruhan tempat konservasi satwa tersebut.
”Terlepas dari kematian satwa, dari hasil evaluasi kami, kondisi kandang TSTJ memang sangat memrihatinkan. Sebagian juga sudah tidak layak. Jadi mesti butuh perbaikan atau pembangunan kandang terlebih dahulu,” ujar Kepala Satuan Kerja Wilayah I BKSDA Jateng Johan Setiawan. (ria/un)