Waspadai Daging Gelonggongan

282

MAGELANG – Memasuki bulan puasa dan persiapan Lebaran, Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (Dispeterikan) Kota Magelang mewaspadai ulah nakal penjual daging sapi gelonggongan. Selain itu, ayam mati kemaren (tiren) dan ikan laut berformalin ikut serta dalam cacatan pengawasan peredaran di pasaran.
Dikatakan Kepala Dispeterikan Kota Magelang, Sri Retno Murtiningsih, bisa saja daging sapi gelonggongan beredar di pasaran khususnya di pasar tradisional. “Yang kami khwatirkan, jika ada peredaran daging sapi gelonggongan dari Boyolali,” katanya (30/6).
Retno menjelaskan, pengawasan akan dilakukan dua kali dalam bulan Ramadan. Yakni untuk mengawasi daging yang tidak aman, sehat, utuh dan halal (asuh). “Untuk waktunya kami rahasiakan, yang terpenting kami mengimbau kepada masyarakat, apabila menemui kecurigaan terhadap daging ataupun ikan yang dijual di pasaran, bisa melaporkannya kepada kami,” ujarnya.
Sebelum pengawasan dilakukan, pihaknya mengimbau masyarakat untuk lebih teliti dalam membeli. Ia menyebutkan trik untuk memilih daging ataupun ikan yang asuh.
“Daging sapi gelongongan biasanya tidak digantung. Karena daging sapi gelonggongan menyimpan banyak air. Apabila digantung airnya akan menetes terus-menerus. Warnanya juga kurang segar, dan biasanya penjual yang nakal akan memotong daging dan menimbang secara cepat atau buru-buru. Biasanya daging ini susut kalau dimasak,” paparnya.
Selain daging sapi yang diwaspadai, adalah daging ayam yang mulai ditemui juga disuntik air. “Bedanya kalau ayam disuntik air menjadi lebih berat. Warna dagingnya pucat. Kalau ikan laut berformalin biasanya tidak dihinggapi lalat, bola mata ikan pucat atau buram dan tidak berbau amis,” imbuhnya.
Retno menuturkan, tahun lalu pihaknya menyita sekitar 47 kilogram daging sapi gelonggongan. “Untuk saat ini belum ada indikasi ada peredaran daging sapi gelonggongan,” ungkapnya.
Kabid Peternakan Hadiono menambahkan, kadar air daging yang paling bagus adalah 60 persen . “Untuk PH setelah dipotong  antara 5,5 – 6,5 atau mendekati 7. Sebelum dimasak, sebaiknya dilayukan dulu untuk mengurangi darah yang ada di dalam daging,” terangnya kepada Radar Kedu.
Ia juga menyarankan, penyimpanan daging lebih baik difreezer dengan suhu 0 derajat.”Tapi lebih baik di bawah 0 derajat. Jangan sampai disimpan di wadah dengan es batu dan ditutup dengan karung goni. Itu menyebabkan mikroorganisme berkembang dan masuk ke daging,” paparnya.
Wahyu Herwanto selaku Kabid Perikanan menuturkan, Kota Magelang memiliki konsumen yang cukup tinggi dalam mengkonsumsi ikan. Baik ikan laut seperti ikan pindang, bandeng, kembung dan untuk jenis tawar biasanya ikan lele dan nila. “Sebetulnya ikan laut seperti ikan kembung memiliki omega 3 yang setara dengan ikan salmon, harganyapun lima kali lipat dibawahnya harga ikan salmon. Namun karena belum cukup popular, sehingga lebih banyak yang membeli ikan bandenga dan pindang,” terangnya.
Harapannya, saat lebaran nanti tak hanya daging sapi ataupun ayam yang dipilih sebagai menu utama. Namun ikan juga bisa dipilih sebagai menu pengganti, mengingat harga daging sapi tidak murah dibanding ikan. “Semua ada manfaatnya, namun tetap harus teliti dalam membeli,” imbuhnya. (mg4/lis)