Puasa, Pilpres, dan Piala Dunia

330

Oleh Mishbah KZ
Mahasiswa Magister Perbandingan Agama Qatar Faculty of Islamic Studies

Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Hal ini karena berbarengan dengan pemilihan presiden (pilpres) dan piala dunia. Di sisi lain, hal ini akan menjadi tantangan bagi kaum muslim untuk memilih antara mengoptimalkan ibadah selama Ramadan, larut dalam keriuhan piala dunia, atau bahkan sibuk dalam suksesi pilpres.
Apakah ketiga peristiwa penting tersebut memecah perhatian, dengan fokus pada satu hal dan menyampingkan yang lain? Atau ketiganya bisa berjalan berdampingan tanpa mengurangi kekhusyukan satu dengan yang lain?
Ada empat persamaan antara puasa, pilpres dan piala dunia. Persamaan ini menjelaskan adanya prinsip universal dalam setiap aktivitas dan peristiwa dalam kehidupan.
Pertama, kompetisi meraih juara. Tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi juara. Kepribadian juara diraih melalui menahan lapar dan dahaga, mulai fajar hingga petang. Lapar dan dahaga hanya tirakat fisik. Yang utama adalah tirakat batin dan tirakat sosial, yakni dengan perilaku jujur, sabar, dan ikhlas, serta tidak mendholimi orang lain. Juara Ramadan disebut dengan kata “faizin”, karena ia berhasil memenangkan “perang batin” melawan nafsu dan sukses “perang sosial” dengan mengalahkan dorongan negatif yang merugikan orang lain. Mereka merupakan pribadi bina damai secara personal, maupun sosial. Sementara Presiden terpilih adalah mereka yang memenangi hati rakyat dengan memperoleh suara terbanyak. Juara piala dunia adalah mereka yang berhasil melewati babak penyisihan sampai final, dan berhasil keluar sebagai juara dalam laga terakhir. Juara adalah gelar penuh perjuangan, bukan diraih dengan santai tanpa antusias.
Kedua, membutuhkan antusias. Para supporter rela mendukung tim kesayangannya, meski harus terbang jauh ke Brazil, menghabiskan waktu untuk begadang, dan membeli atribut tim kesayangan.
Para simpatisan dan pendukung pilpres tak kalah antusias. Mereka bersemangat menyanyikan yel-yel, menyosialisasikan program kerja, memberi donasi, dan sebagainya. Sementara umat Islam, antusias melaksanakan ibadah dan amal shalih. Antusias merupakan ekspresi ketulusan, buah dari kepercayaan dan kecintaan seseorang terhadap sesuatu. Antusias membuat hal yang berat terasa ringan, yang susah menjadi menggembirakan, dan yang panjang prosesnya terasa pendek untuk dijalani.
Ketiga, adanya proses dan tahapan. Piala dunia punya beberapa babak: gugur; 16 besar; perempat final; semifinal; dan final. Selalu ada tim yang gugur dalam setiap tahapan. Hanya tim tanggung yang berhasil melaju sampai babak final. Pemilihan presiden juga punya tahapan; mulai pendaftaran; pemeriksaan kesehatan; kampanye dan pemilihan. Presiden terpilih harus berjuang meyakinkan rakyat. Meski masing-masing calon berhasil sampai tahapan akhir, namun hanya calon presiden yang berhasil meraih suara terbanyak yang terpilih.
Sementara Ramadan punya tiga tahapan; sepuluh hari pertama adalah rahmat; sepuluh hari kedua merupakan maghfiroh; dan terakhir adalah pembebasan dari neraka. Ketiga tahapan ini adalah keberlanjutan. Untuk sampai ke tahapan ketiga, seseorang harus melampaui tahapan pertama dan kedua.
Seleksi Ramadan juga berlangsung secara alamiah. Sepuluh hari pertama, masjid ramai. Namun, di sepuluh hari terakhir, keramaian masjid berpindah ke pusat perbelanjaan. Tujuan utama dari tahapan tersebut adalah seleksi berbasis kualitas.
Keempat, berjuang demi kualitas. Kualitas puasa diukur dari seberapa besar puasa membentuk karakter seseorang pasca Ramadan. Jika puasa hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan, maka tujuan berpuasa hanya untuk menggugurkan kewajiban (bara’ah al-dzimmah).
Kualitas pilpres dilihat dari tingginya partisipasi rakyat dan terpilihnya presiden yang konsisten melaksanakan visi dan misinya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Sementara kualitas piala dunia bisa dinilai dari infrastruktur yang baik, tingginya animo suporter dan kesuksesan laga pertandingan dari awal sampai akhir.
Tidak alasan untuk absen berpuasa,
Ikut pemilu dan bergembira dengan piala dunia. Ketiganya bisa berjalan beriringan. Manajemen waktu mutlak dibutuhkan. Pagi hari bisa ikut kampanye dan tetap berpuasa. Malam hari, kegiatan diramaikan dengan tadarus, menonton sepak bola dan persiapan sahur.
Spirit Ramadan sebaiknya menjadikan nuansa pilpres dan piala dunia lebih berwarna dengan beberapa hal. Pertama, kampanye positif dan menjadi pendukung yang arif. Kedua, menjaga tutur kata, baik dalam komunikasi langsung maupun di media sosial. Ketiga, menerima hasil pilpres dan piala dunia dengan sabar dan ikhlas. Setiap pertandingan selalu ada yang menang dan kalah.(*/ric)