Biasanya Pasien Kurang Berkenan, Butuh Kesabaran Tinggi

432

Ketika Pengobatan Medis Holistik Tak Cukup Mudah Dipraktikkan

Melayani pasien dengan sepenuh hati adalah tugas utama seorang dokter. Terlebih dengan pengobatan holistik, sangat berbeda dengan pengobatan konvesional medis. Itulah yang dilakukan Direktur Rumah Sakit Karomah Holistic Pekalongan, Dr Astrid Widyastuti. Seperti apa?

HANAFI, Pekalongan

TAK cukup mudah, menyadarkan pasien yang sedang sakit, kembali ke fitrahnya dengan pola hidup yang wajar dan normal. Namun hal itu, bagi seorang dokter yang menggunakan pendekatan holistik, hal itu harus dilakukan. Yakni, pendekatan dengan pasien yang lebih mendalam sampai sedetail-detailnya. Bahkan terkadang harus berperan layaknya seorang detektif, hanya untuk bisa menyimpulkan penyakit yang diderita pasien.
”Kita harus tahu benar penyebab sakit pasien. Karenanya, kita harus banyak berkomunikasi. Bahkan, kalau perlu dengan orang-orang di sekitarnya, agar data yang diperoleh semakin komplet,” kata Dr Astrid Widyastuti.
Saat menggali data, tuturnya, harus benar-benar sabar menghadapi pasien. Biasanya, awalnya pasien kurang berkenan. Karena itu, butuh kesabaran tinggi. ”Kita harus banyak memberikan pengertian kepada pasien akan pola hidupnya untuk menunjang kesehatannya sendiri,” jelas perempuan kelahiran Madiun 15 Juli 1964 tersebut.
Menurut istri Captain Yayat Priatna ini, dalam pengobatan holistik sebenarnya cukup sederhana. Walaupun terkesan ribet, kalau dilakukan bisa menjadikan tubuh normal kembali. “Kita sebagai dokter, yang utama adalah mengenali diri dulu. Itu modal awal, agar mudah mengobati pasien. Di holistik juga, intinya mengembalikan ke kodrat manusia seutuhnya, karena sumber penyakit datangnya dari kita sendiri,” tambah ibu lima anak ini.
Selama melakukan pengobatan, dirinya perpedoman harus pintar mengajak pasien tahu tubuhnya sendiri. Dan untuk mengerti bahasa tubuh, cukup sederhana. Seperti saat merasa lapar, haus, mengantuk. Itu artinya tubuh mengirimkan sinyal untuk segera makan minum atau istirahat. ”Jangan dipaksakan karena tubuh bisa membiasakan diri menjadi tidak normal. Dan tubuh perlahan akan kekurangan energi dan organ menjadi rusak,” tuturnya.
Alumni Kedokteran Umum di Universitas Kristen Indonesia Jakarta 1990 ini mengaku dirinya tertarik dengan holistik sejak tahun 2013, sehingga bergabung dengan Rumah Sakit Holistic Purwakarta. Mengawali karirnya, sebagai dokter umum di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati tahun 2000 sampai 2003. Lalu berpindah-pindah tempat di Jakarta. Dirinya juga pernah mengenyam berbagai jenis kursus, salah satunya Kursus Akupuntur di FK UI RSCM Jakarta pada tahun 2011.
“Banyak hal menarik yang dipelajari dalam holistik. Namun dalam praktiknya memang butuh kesabaran dari dokter maupun pasiennya. Harus dijelaskan sedetail mungkin, sampai benar-benar paham dan bisa menerima. Bahkan sampai pasien bisa bilang oh iya ya… Berarti kesadaran pasien sudah terbuka,” jelasnya dengan ramah.
Lebih lanjut, tuturnya, pada holistik intinya adalah logika sederhana. Seperti jika kita tidak zalim pada diri sendiri, tentu tubuh juga akan tidak zalim kepada kita. Demikian halnya orang yang tidak mezalimi diri sendiri, tentu tidak akan mezalimi orang lain. Seperti berkata baik pada diri sendiri dan orang lain, juga bisa membuat diri lebih sehat.
Hal itu sudah dibuktikan dengan penelitian sederhana namun nyata. Dicontohkan, jika ada dua buah apel, satunya dimaki-maki diberi kata-kata buruk selama seminggu. Jika dibuka, dalamnya ternyata membususk dan bau. Beda lagi dengan apel satunya selama satu minggu diberi kata-kata yang baik, posotif dan sejenisnya, ternyata setelah dibelah masih tetap segar dan tidak busuk.
“Saya juga punya rahasia bagus, untuk memperbaiki sel-sel tubuh kita yang rusak, cukup mudah. Yaitu, dengan mendengarkan Alquran dan membacanya rutin, ternyata bisa memperbaiki sel tubuh yang rusak. Hal tersebut sudah dilakukan penelitian secara ilmiah, seperti kasus apel dan juga air. Ternyata tubuh kita jika didengarkan kalimat yang baik-baik, sel-sel akan memperbaiki diri,” jelasnya. (*/ida)