Dari Hobi Game, Lahirkan Permainan Baru

438

Lebih Dekat dengan Paguyuban Caksa Semarang

Anggota Paguyuban Caksa Semarang (Pak Semar) tak sekadar hobi bermain game. Tapi, dari kegemarannya tersebut, juga melahirkan permainan baru. Namanya catur aksara. Seperti apa?

NURUL PRATIDINA

SEJUMLAH pria tampak asyik berkumpul mengitari papan yang menyerupai catur. Sekilas apa yang mereka mainkan mirip catur lengkap dengan bidak dan papan. Namun bila diamati ternyata ada banyak perbedaan.
”Kita menyebutnya caksa (catur aksara). Sekilas memang orang mengiranya permainan catur, tapi sebetulnya banyak perbedaannya,” kata Ketua Paguyuban Caksa Semarang (Pak Semar) Novan Mulia Mahason kepada Radar Semarang belum lama ini.
Caksa merupakan hasil kreasi tiga penggemar game, yakni Novan Mulia Mahason, Mikhael dan Septian. Berawal dari kegemaran mereka bermain game, iseng mengutak-atik hingga akhirnya menginspirasi untuk membuat satu permainan baru.
”Kami bertiga ini memang hobinya ngegame. Lama-lama berpikir, kenapa kita nggak bikin game baru, tapi yang lebih ada nuansa Indonesianya,” ujar Novan.
Permainan catur dari Jepang bernama Shogi yang menggunakan aksara Kanji inilah yang awalnya menginspirasi untuk permainan caksa. Hanya saja, caksa didesain lebih tradisional dengan menggunakan aksara Jawa.
Tadinya, jelas Novan, ia ingin membuat permainan tersebut ke dalam game software. Namun sebelumnya mereka ujicobakan dulu dalam papan. Ternyata, ketimbang bermain melalui komputer, lebih asyik bermain menggunakan papan dengan lawan teman sendiri.
”Malah pada keasyikan bermain langsung di papan. Ya, sudah kita teruskan dulu saja seperti ini. Yang penting kan keasyikan bermainnya,” katanya.
Caksa terdiri atas papan berisi 7x 9 kotak mengadaptasi Catur Jepang disebut Xiangqi. Sedangkan, jumlah bidak sebanyak 36 buah. Masing- masing bidak memiliki nama dengan cara bergerak berbeda. Bidak bertuliskan alfabet A (Abdi), R (Pendekar), T (Prajurit), PU (Empu), Adipati (D), P (Patih), K (Ksatria) dan lainnya. ”Nama-nama tersebut diambil dari cerita pewayangan,” sambung anggota Pak Semar, Aris Pristi Wandiro.
Bidak serupa pointer menunjukkan cara bergerak dan cara tangkap. Cara permainan ini sudah dimodifikasi supaya lebih asyik saat menggerakkan bidak. Berbeda dengan catur, tanda pertandingan berakhir dengan skakmat. Permainan caksa lebih menekankan kuantitatif.
”Jika salah satu pemain sudah menyisakan tiga bidak berarti kalah. Inti permainan ini mengandalkan kecepatan dan taktik jitu. Di sinilah serunya,” ujar Aris.
Selain itu, kata dia, cara permainan juga terinspirasi kehidupan modern. Di antaranya, semua orang bisa menjadi pimpinan diaplikasikan ke dalam permainan menjadi semua bidak sama pentingnya. Permainan ini tidak hanya satu pemimpin berkuasa.
Komunitas ini sendiri sudah cukup lama berdiri, sekitar setahun lalu, seiring dengan proses penggodokan caksa. Mulai dari awal ide, hingga bisa dibuat permainan, masing-masing anggota kerap memberi masukan untuk penyempurnaannya.
”Kita biasanya berkumpul di akun Facebook Caksa Indonesia untuk saling berinteraksi. Kadang juga bertemu langsung untuk bermain, tinggal tentukan tempatnya. Sekarang saya rasa sudah cukup banyak yang mengenal permainan ini,” katanya.
Promosi terus dilakukan demi memasyarakatkan caksa. Mereka berinsiatif membuat bidak caksa untuk diperjualbelikan. ”Satu set bidak saja dibanderol Rp 35 ribu sudah berisi cara permainan,” promosi Novan. (*/aro/ce1)