Sore ini, Debat Tiga Calon Rektor

399

SEKARAN – Aksi saling lapor yang dilakukan oleh dua calon Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) sangat disayangkan oleh civitas akademika Unnes. Bagaimana tidak, sebagai seorang calon rektor yang berstatus profesor dan guru besar langkah yang diambil seakan tidak mencerminkan pengetahuan akademisnya. Sebagai seorang akademisi, pelaporan yang dilakukan seperti menunjukkan bahwa posisi rektor adalah jabatan ’politis’ dengan mengesampingkan etika akademis.
Pernyataan tersebut tidak keluar dari dua kubu yang terlibat. Namun, hal itu dapat ditafsirkan sejak kemunculan polemik pemilihan rektor mengemuka. Yakni, tentang perbedaan tafsiran mengenai status ”dosen PNS aktif”. Sebab, dari perbedaan tersebut membuat pemilihan rektor tahap pertama mengalami deadlock yang berujung pada pelaporan calon rektor Prof Dr Supriadi Rustad oleh Badan Pekerja Senat Unnes ke Mapolrestabes Semarang. Bahkan pelaporan itu ditanggapi dengan laporan balik oleh kubu Supriadi Rustad.
Tak pelak, berbagai respons pun mengalir dari elemen masyarakat kampus, termasuk Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Unnes Prof Dr Wiyanto MSi. Tidak hanya itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unnes selaku wakil mahasiswa pun meresponsnya dengan melakukan berbagai langkah. Bahkan Rektor Unnes saat ini, Prof Fathur Rokhman, juga buka suara terkait laporan ke pihak polisi tersebut.

”Laporan polisi itu merupakan bagian dari demokrasi. Pak Mendikbud juga tahu soal itu. Hukum berjalan tetapi persaudaraan tetap kita jaga,” ungkap Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman, melalui situs resmi unnes.ac.id beberapa waktu lalu. Dalam situs resminya, pihak Unnes menyatakan jika pernyataan tersebut disampaikan Prof Fathur di hadapan para aktivis mahasiswa pada 27 Juni 2014.
Presiden BEM Unnes, Prasetyo Lestiaji, mengatakan, benar tidaknya laporan yang dibuat oleh kedua calon rektor tersebut tergantung persepsi. ”Kalau benar ya silakan, tapi kalau salah juga jangan diada-adakan. Mahasiswa tidak berani men-judge,” katanya saat ditemui di Kampus Unnes, Sekaran, Gunungpati, Selasa (1/7).
Lebih lanjut dikatakan, permasalahan yang kemudian berujung ke ranah hukum tersebut bersumber dari tafsiran ”dosen PNS aktif”. Menurutnya, kedua belah pihak yang mempermasalahkan hal itu sama-sama memiliki dasar. Satu pihak berdasarkan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan), sedangkan satu pihak lainnya berpegangan pada keputusan Mendikbud.
”Andai sejak awal ada kesepakatan tentang pengertian dosen PNS aktif, hal itu tidak akan terjadi. Kami selaku mahasiswa meminta pihak yang terlibat untuk lebih dewasa,” ujarnya.
BEM Unnes juga mengambil langkah pasti dalam menyikapi polemik tersebut. Langkah-langkah tersebut di antaranya adalah meminta klarifikasi terhadap beberapa pihak yang terlibat karena ada versi yang berbeda. Selain itu, BEM juga mengambil langkah dengan melakukan aksi langsung. Selasa (1/7) siang BEM juga melakukan aksi diam-diam dengan membentangkan spanduk berisi aspirasi terkait pencalonan rektor. Spanduk itu juga dipasang di rektorat menghadap ke ruang rektor. ”Domain kami tidak untuk menyelesaikan tapi mengingatkan. Kami tidak memihak siapa pun, hanya menyampaikan aspirasi terkait tujuan dan syarat dalam pencalonan rektor,” paparnya.
Sore ini, rencananya akan digelar debat tiga calon rektor. Debat akan dilakukan pada pukul 15.00 di gedung C7 Kampus Unnes, Sekaran. Debat sengaja digelar sehari sebelum tanggal pemilihan yang ditetapkan oleh senat. ”Jadwal pemilihan tahap berikutnya dijadwalkan tanggal 3 Juli. Jadi, kami minta debat terbuka dilakukan sebelum itu,” ujarnya.
Sementara penyelidikan terhadap dua laporan yang masuk ke Mapolrestabes Semarang hingga kemarin masih terus dilakukan oleh aparat kepolisian. Laporan pertama dilakukan oleh tiga badan pekerja Senat Unnes dengan terlapor Prof Dr Supriadi Rustad. Kasus yang dilaporkan adalah terkait dugaan pemalsuan surat pernyataan dosen PNS aktif. Sedangkan laporan kedua dilakukan oleh pihak Prof Dr Supriadi Rustad dengan pasal dugaan pencemaran nama baik dan atau pengaduan fitnah. Terlapornya Rektor Unnes Prof Fathur Rokhman dan tiga anggota Badan Pekerja Senat Unnes, yakni Prof Dr Achmad Slamet MSi, Prof Dr Rustono MHum, dan Drs Solehatul Mustofa MA. ”Kami masih dalami kedua laporan tersebut,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Semarang AKBP Wika Hardianto. (har/jpnn/aro/ce1)