Warga Usir Alat Berat

407

Rusak Mata Air dan Lingkungan       

MUNGKID– Sejumlah warga di Desa/Kecamatan Sawangan Kabupaten Magelang mengusir sebuah alat berat yang beroperasi di wilayahnya, kemarin. Selain merusak lingkungan, backchoe itu juga membuat mata air hilang.
Menurut informasi yang dihimpun, penambangan alat berat itu sudah berlangsung sejak sepekan. Mereka mengambil pasir di tebing-tebing sungai Pabelan.
“Kemarin kita sudah hentikan itu. Warga sempat mau mendemo tapi kita coba tengahi dulu,” kata Kades Sawangan, M Johan Wahyudi, kemarin.
Dia kemudian mengajak delapan kepala dusunnya untuk mendatangi alat berat dan memintanya untuk berhenti. “Karena sudah meresahkan dan membuat debit air turun,” katanya.       
“Apalagi ini kan musim kemarau jadi sumber air berkurang tapi sekarang diperparah dengan kerusakan mata air akibat alat berat itu,” tegas dia.
Namun, persoalan itu, kata dia bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak operator alat berat mau memindahkan lokasi penambangannya.
Sementara itu, sejumlah alat berat yang beroperasi di sungai-sungai berhulu Merapi dinilai sebagai salah satu penyebab turunnya debit air warga. “Karena penambangan ini semakin memperdalam sungai sehingga membuat mata air hilang,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Kabupaten Magelang, Joko Sudibyo, kemarin.     
Di sekitar sungai yang berhulu di Merapi, ada beberapa desa yang mengalami kekeringan di musim kemarau. Seperti Desa Gondosuli dan Tamanagung (Kecamatan Muntilan), Desa Mranggen (Srumbung), Desa Jumoyo dan Sirahan (Salam), Desa Bojong (Mungkid), Desa Banyudono (Dukun), dan Desa Gondowangi (Sawangan), dikarenakan beberapa faktor. “Penambangan juga berpengaruh besar,” katanya.       
Selain itu, juga faktor alam dimana, air bawah tanah banyak yang rusak karena terkena banjir lahar hujan. Hal itu, ujar Joko, berdampak pada keringnya sumur-sumur di lereng Merapi saat musim kemarau.
“Selain itu, di beberapa desa, belum ditemukan lagi sumber-sumber air itu,” ujarnya.    Untuk mengantisipasi kekeringan, dropping air merupakan agenda rutin yang dilakukan pihaknya saat musim kemarau tiba. Wilayah di lereng Merapi, merupakan daerah yang rawan dengan kekeringan.
“Maka, setiap tahun ada anggaran khusus untuk dropping air. Termasuk biasanya ada dana siap pakai dari pusat,” ujar Joko.     Joko memaparkan, BPBD juga sudah melakukan koordinasi dengan Bakorwil II Kedu, terkait kucuran dana untuk dropping. Dia mengakatan, pihak Bakorwil siap untuk membantu melakukan dropping air, seperti tahun lalu.  “Ada Rp 30 juta yang disiapkan tahun ini,” pungkas dia. (vie/lis)