Cara Mengganti Puasa Tahun Lalu

315

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb, Saya ingin bertanya, Kalau seandainya puasa kita yang beberapa tahun yang lalu belum terbayar lunas, bagaimana cara kita membayarnya? Tidak berpuasa karena berhalangan (seperti haid, nifas, menyusui, dst bagi wanita). Terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb
Lia – Pekalongan, 089668678620

Jawaban:

Wa’alaikumsalam wr wb, Ibu Lia di Pekalongan yang selalu dirahmati Allah. Terkait pertanyaan yang telah ibu Lia ajukan. Sebagai penjelasan yang lebih jelas. Maka saya akan membedakan beberapa hal terkait alasan dan hukum dalam membayar puasa yang belum terlaksana tersebut.
Pertama, apabila seseorang menangguhkan qodonya sehingga datang tahun berikutnya, maka tentunya apabila dia menangguh-nangguhkan karena malas, maka dirinya berdosa dari sisi menangguhkannya itu yang seyogyanya tidak melewati puasa berikutnya. Kedua, apabila ada sesuatu yang menghalanginya (udzur syar’i) maka baginya tidak berdosa. Dan bagi keduanya masih tetap untuk menggantinya di hari yang lain. Sehingga perlu diperhatikan, jika meninggalkan puasa tahun ini, lebih baik di ganti di hari lain yang masih dalam tahun tersebut.
Dalam firman Allah telah disebutkan yang artinya: “(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin.
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 184). Ayat tersebut menjelaskan bahwa, ketika Allah SWT menyebutkan kewajiban puasa bagi mereka, Dia mengabarkan bahwa puasa itu hanya pada hari-hari yang tertentu atau sedikit sekali dan sangat mudah, kemudian Allah memudahkan puasa itu dengan kemudahan lainnya, Allah SWT berfirman, “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain”. Pada umumnya hal itu karena adanya kesulitan, sehingga Allah memberikan kemudahan bagi keduanya untuk berbuka, dan ketika menjadi suatu keharusan untuk mewujudkan kemaslahatan puasa bagi setiap orang yang beriman, maka Allah memerintahkan agar mengganti puasanya itu pada hari-hari yang lain apabila penyakitnya telah sembuh atau berakhirnya perjalanan dan adanya istirahat.
Selanjutnya maksud dari firman Allah “Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” merupakan sebuah dalil bahwa ia harus mengganti sejumlah hari bulan Ramadan secara sempurna ataupun tidak, dan bahwa ia juga boleh mengganti hari-hari yang panjang lagi panas dengan beberapa hari yang pendek lagi sejuk seperti kebalikannya. Dan firman Allah, “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa)” maksudnya mereka tidak mampu berpuasa, yaitu dengan “membayar fidyah” dari setiap hari yang mereka batalkan, yakni “memberi makan seorang miskin” . Hal ini pada awal-awal kewajiban berpuasa ketika mereka belum terbiasa berpuasa, dan saat itu kewajiban tersebut adalah suatu yang harus dilakukan oleh mereka yang akhirnya sangat berat bagi mereka untuk melakukannya, lalu Allah Rabb yang Maha Bijaksana memberikan jalan yang paling mudah bagi mereka, Dia memberikan pilihan bagi orang yang tidak mampu berpuasa antara melakukan puasa dan memberikan makan kepada orang miskin.
Jadi, pada intinya mengganti puasa pada tahun lalu adalah pada hari-hari yang lain yang masih dalam satu tahun, dalam arti tidak boleh melewati puasa berikutnya. Demikian jawaban singkat dari saya, semoga bermanfaat dan barakah. Waalahu a’lam bishshowaf. (*)