Dituntut Tampil Feminim

366



Bekerja sebagai resepsionis hotel membuat Chintya Ade Riasati dituntut untuk berpenampilan menarik. Tamu mungkin saja akan membatalkan niatnya untuk tinggal apabila melihat penampilan karyawan yang tidak profesional, tidak sesuai dengan kode etik perhotelan.
Hal itu disadari betul oleh wanita kelahiran Pekalongan 25 Agustus 1993 tersebut. Sebisa mungkin Chintya demikian Chintya Ade Riasati akrab disapa, dituntut untuk memakai pakaian yang menunjukkan sisi feminim. Meskipun hal itu sebenarnya 180 derajat dari apa yang menjadi kebiasaannya yang tomboy. “Setiap hari kegiatan kerja menuntut aku jadi feminim, membuat jenuh ditambah dengan make up tebal di wajahku. Ya tapi harus profesional nikmatin aja,” kata Chintya.
Sebagai resepsionis, selain harus bersikap ramah. Tampilan menarik dan prima memang utama. Karena sebagai ujung tombak pelayanan terhadap tamu hotel, resepsionis adalah tempat pertama yang dituju tamu. Kesan yang baik menjadi poin utama saat masuk sebuah hotel.
Walaupun diakuinya tampil feminim bukan karakter aslinya. Sehingga jangan heran ketika bertemu dengannya di luar jam kerja. Sepatu high heels atau rok mini yang biasa digunakan saat kerja akan berganti dengan celana jins, sepatu kets, serta kaus oblong. “Kalau pas kerja ya mau gak mau harus tetap feminim. Selepas kerja baru kembali jadi diri sendiri. Namun tetap harus menahan diri, tidak tomboy berlebihan,” katanya. (han/ric)