Membangun Kesalihan Sosial

332

Slogan Ramadan penuh berkah, Ramadan penuh hikmah dan atau kalimat lain yang semakna seakan menjadi agenda tahunan media-media massa untuk menyiarkannya ketika memasuki bulan Ramadan. Tidak lain tujuannya adalah untuk menghimbau kepada segenap umat Islam untuk berlomba-lomba mencari, keberkahan tersebut selama berpuasa dalam bulan Ramadan dengan suka cita. Berkah yang dimaksud di sini adalah peningkatan potensi positif dalam pribadi umat Islam itu sendiri dalam segala bidang kehidupan, baik bidang lahiriyah maupun batiniyah, baik potensi spiritual maupun sosial.
Tercapainya integrasi kedua potensi tersebut akan membentuk umat Islam menjadi manusia bertakwa dengan kapasitas saleh spiritual dan saleh sosial. Seseorang tidak mudah tergerak hatinya untuk berbuat baik terhadap sesama jika tidak mempunyai kondisi hati dan jiwa yang baik, karena segala perbuatan yang muncul dari diri seseorang sebenarnya merupakan cerminan dari kondisi hati orang tersebut. Peringatan Rasulullah saw “Ingatlah, bahwa dalam jasad terdapat segumpal darah, jika ia baik maka baiklah semua jasad, jika ia rusak maka rusaklah semua jasad, ingatlah, ia adalah hati,” ini telah menjadi penjelasan hubungan antar dua hal tersebut.
Begitu juga seseorang tidak cukup hanya dengan ritual pribadi untuk mendapatkan kesehatan batiniyah tanpa berusaha untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungannya. Hal ini karena tazkiyatun nafsi, membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran nafsu, yang diwujudkan dalam bentuk mujahadatun nafsi (memerangi kesenangan nafsu) juga menghendaki pemberantasan rasa malas untuk beraktifitas sosial yang ada pada diri seseorang itu sendiri.
Tekun melaksanakan salat, puasa, dan tadarrus Alquran akan tetapi enggan berbagi dan membantu pada sesama merupakan tipuan nafsu yang negatif, sedangkan menuruti ajakan negatif dari nafsu adalah sebab utama dari kotor dan rusaknya hati di dalam pribadi umat Islam itu sendiri. Itulah mengapa, kualitas spiritual seseorang juga dipengaruhi faktor seberapa kuat usahanya untuk meningkatkan kualitas hubungan dia dengan masyarakat sosial. Jadi memang harus saling mendukung satu sama lain.
Kesalihan spiritual dalam bulan Ramadan dapat diusahakan dengan memaksa diri pribadi untuk melaksanakan puasa itu dengan niat semata-mata beribadah kepada Allah (lillah: hanya karena Allah) tanpa ada ‘embel-embel’ atau orientasi selain Allah (li-ghairillah: karena selain Allah), dan dengan kesadaran bahwa perintah puasa itu untuk kebaikan manusia. Mengharapkan imbalan pahala dari Allah boleh-boleh saja asalkan dalam mengharap itu juga dilandasi karena melaksanakan perintah Allah, sebab Allah juga memerintahkan umat Islam untuk hal tersebut. Kemudian dalam menjalankan puasa, seseorang hendaknya menghindari beberapa perbuatan yang dapat menghanguskan pahala puasa, seperti berbohong, mencaci-maki, adu domba, iri, dengki, dendam, marah, dan lain-lain yang secara umum tidak mempunyai nilai kemanfaatan. Di samping itu juga ia meningkatkan amalan-amalan yang dianjurkan dalam bulan Ramadan seperti salat, tadarrus Alquran, dzikir, membaca shalawat dan I’tikaf, dengan tetap dilandasi niat semata-mata karena Allah, tidak karena ingin dipuji, pamer, atau pamrih-pamrih yang lain.
Adapun upaya-upaya untuk meningkatkan kesalihan sosial kiranya dapat dilakukan dengan perenungan dalam-dalam pada saat berpuasa, terutama setelah melebihi separoh hari, di mana rasa lapar dan dahaga telah merasuki tubuh. Bayangkan seandainya kita dalam posisi seperti itu untuk selamanya, bagaimana rasanya hidup serba kekurangan, tidak bisa makan dan minum, bukan karena sebab yang lain melainkan karena memang tidak punya sesuatu yang dapat dimakan ataupun diminum.
Dengan upaya seperti ini kepekaan sosial dapat tumbuh dalam diri kita untuk kemudian mendorong untuk berbuat baik, berbagi, dan melakukan bakti-bakti sosial dengan sesama. Selain itu, juga menyadari sabda Rasulullah saw bahwa “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling memberi manfaat untuk manusia yang lain dan bukan termasuk golonganku orang yang tidak mau meperdulikan urusan umat Islam lainnya,” sehingga diri termotivasi untuk bergegas menjadi pribadi yang lebih salih sosial. (*)