Prof Supriadi Absen, Debat Kurang Greget

285

SEKARAN – Debat visi misi calon Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) periode 2014-2018 yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM-KM) Unnes di ruang C7 Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Kampus Unnes Sekaran kemarin berlangsung kurang seru. Pasalnya, satu dari tiga kandidat calon rektor berhalangan hadir. Debat hanya diiikuti dua calon, yakni calon incumbent Prof Dr Fathur Rokhman MSi dan Dr Suwito Eko Pramono MPd. Satu calon lain, Prof Dr Supriadi Rustad MSi absen. Padahal kehadirannya sangat ditunggu-tunggu ratusan civitas akademika Unnes yang hadir. Apalagi saat ini ”perseteruan” Supriadi dengan Fathur sedang hangat, menyusul kedua pihak saling melaporkan ke polisi.
”Prof Supriadi masih dalam perjalanan pulang dari Jakarta. Tadi pukul 14.00 dari Jakarta. Kemungkinan sampai di sini telat,” papar Presiden BEM Unnes, Prasetyo Lestiaji.
Namun hingga bedah visi misi tersebut selesai, belum terlihat juga keberadaan Prof Supriadi. Menurut humas Unnes Sucipto, Prof Supriadi tidak bisa datang karena mendadak dipanggil Mendikbud, Moh Nuh. ”Rencananya beliau (Prof Supriadi Rustad) sudah akan datang, namun ternyata ada keperluan mendesak tersebut,” papar Sucipto.
Meski demikian, acara bedah visi calon rektor Unnes tersebut berjalan lancar. Kedua calon yang hadir pun secara lugas memaparkan visi misinya di hadapan audiens. Dalam debat juga digelar sesi tanya jawab kepada dua kandidat. Dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh audien, terdapat satu pertanyaan yang bersinggungan dengan aksi lapor-melapor yang melibatkan nama dua calon rektor. Pertanyaan tersebut terlontar dari seorang mahasiswi bernama Dewi Magfiroh dari Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa (BP2M) Unnes.
”Bagaimana tanggapan terkait adanya dua laporan ke polisi yang mencerminkan tidak adanya kultur akademik. Mau dibawa ke arah mana Unnes nantinya jika terpilih menjadi rektor?” tanya mahasiswi jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Unnes angkatan 2010 tersebut.
Menanggapi hal itu, Prof Fathur Rokhman yang saat ini masih menjabat sebagai Rektor Unnes mengatakan, sudah seharusnya kembali ke khitah sebagai akademisi. Pelaporan ke polisi merupakan hak masing-masing warga dan pihaknya tidak berhak melarang.
”Itu hak masing-masing, saya tidak melarang. Tapi saya cukup menyesal kenapa harus sampai melapor ke polisi,” ungkapnya.
Calon petahana tersebut juga menyebutkan jika kejadian tersebut harus juga dilihat secara positif. Adanya sorotan dari berbagai media massa di tengah hiruk-pikuk peristiwa politik (Pilpres 2014, Red) menunjukkan bahwa Unnes masih dianggap sebagai universitas yang berpengaruh.
”Harus ada yang dilihat secara positive thinking. Itu berarti (Unnes) dapat dianggap sebagai universitas yang memiliki pengaruh karena ada sorotan publik selama beberapa bulan. Di samping ingar-bingar pemilihan presiden,” sambungnya.
Sebaliknya, Dr Eko Suwito Purnomo mengaku prihatin dengan langkah pelaporan tersebut. Secara struktural, kata dia, seharusnya ada koreksi bersama, terlebih ada juga Inspektorat Jenderal Pendidikan. Ia juga menyanggah pendapat Prof Fathur dengan mengatakan hal semacam itu bisa dikatakan sebagai dinamika dan hak, tapi cukup sekali saja.
”Silakan kalau mau menganggap itu dinamika dan hak perorangan. Tapi cukup sekali saja Unnes menjadi populer dengan kejadian seperti itu,” sentilnya.
Keprihatinan Eko Suwito juga tampak dari pernyataannya tentang konservasi budaya. ”Pak Gubernur Ganjar Pranowo pernah bilang kalau untuk konservasi lingkungan Unnes menjadi contoh, itu secara fisik. Tapi apakah Pak Ganjar bisa berkata, kalau masalah perilaku tirulah Unnes,” katanya menanggapi tentang makna konservasi di kampus Unnes. (har/jpnn/aro/ce1)