SD Kurang Murid Akan Dilebur

594

SDN Gunungpati 03 Hanya Dapat 2 Siswa

CANDISARI – Sejumlah sekolah dasar (SD) negeri di Kota Semarang yang kekurangan murid bakal dilebur. Pasalnya, pada penerimaan peserta didik (PPD) 2014, tak sedikit SD yang sepi pendaftar. Bahkan, ada SD yang hanya mendapatkan 2 siswa. Hal ini terungkap setelah Selasa (1/7) kemarin, hasil PPD SD negeri di Kota Semarang diumumkan.
Pantauan Radar Semarang di sejumlah SD negeri, masih banyak sekolah yang jumlah pendaftarnya tidak memenuhi kuota. Di SD Negeri Gunungpati 03 yang memiliki daya tampung 40 siswa, pada PPD tahun ini hanya mendapat 2 siswa. Kondisi yang sama juga terjadi di SD Kandri 02. Pada PPD tahun ini, dari daya tampung 40 siswa, sekolah ini baru mendapat 3 siswa.
Kepala SD Kandri 01, Sayogya, membenarkan, SD Negeri Gunungpati 3 masalahnya sama dengan SD Negeri Kandri 2, yakni sama-sama kekurangan murid. ”Saya dengar kalau SDN Gunungpati 3 hanya ada tiga siswa yang daftar,” ujarnya.
Sayogya patut bersyukur karena kuota siswa di sekolahnya terpenuhi, yakni 38 pendaftar ditambah yang tidak naik kelas dua orang, sehingga total 40 anak.
Kekurangan siswa juga terjadi di SD Negeri Sukorejo 1 yang pendaftarnya hanya ada 14 anak. ”Tempat kita selalu langganan kekurangan murid. Mungkin letaknya yang di pelosok,” ucap Slamet Riyadi, panitia PPD SD Sukorejo 1.
Di dalam kota, SDN Pandean Lamper 04 Kecamatan Gayamsari juga kekurangan siswa. Dari daya tampung 39 siswa, sekolah ini hanya mendapat 9 peserta didik baru. SDN Pleburan 02 juga mengalami nasib serupa. Sekolah ini hanya mendapat 8 siswa baru. Padahal daya tampungnya 40 siswa.
Adanya SD yang kekurangan murid itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin, mengatakan akan melebur sekolah yang bersangkutan untuk dijadikan satu dengan SD lain yang terdekat. ”Kita akan mengevaluasinya kembali,” kata Bunyamin saat ditemui Radar Semarang, Selasa (1/7).
Menurutnya, minimnya siswa SD yang bersangkutan dikarenakan di daerah setempat hanya didominasi oleh warga yang sudah berumur. ”Anak-anak kan jarang, kebanyakan isinya orang tua. Jadi, ya wajar jika siswa SD yang daftar sedikit,” tutur Bunyamin.
Dikatakan, semakin berkurangya anak usia sekolah khususnya di daerah pinggiran membuktikan jika program KB berhasil. ”Bisa dibilang program KB berhasil. Nyatanya anak yang mendaftar SD minim,” katanya. Dari catatan Disdik Kota Semarang, PPD tahun kemarin juga banyak SD negeri yang tidak dapat memenuhi kuota.
Sementara itu, pendaftaran PPD tingkat SMP kemarin memasuki hari ketiga. Berdasarkan pantauan koran ini, peserta yang memiliki nilai rendah, mulai mencabut berkas pendaftaran, dan memindahkan ke sekolah yang peluang diterimanya masih besar.
Meski demikian, ada pula calon siswa yang masih nekat untuk mengadu nilainya dengan peserta lain yang nilainya lebih tinggi. Seperti di SMPN 1 Semarang. Ada pendaftar yang memiliki nilai Ujian Sekolah (US) 19,36 nekat mendaftar di sekolah ini.
Sedangkan di SMP pinggiran, rata-rata nilai peserta PPD yang terdaftar juga mengalami penurunan.
Kepala SMPN 11, L Yekti Setyawati, menduga hal tersebut dikarenakan tingkat kesulitan soal ujian sekolah (US) SD untuk tahun ini mengalami kenaikan. ”Makanya yang daftar ke sekolah negeri nilainya tidak seperti tahun lalu, rata-rata lebih rendah,” kata Yekti.
Di sekolahnya, kata dia, pendaftar dengan nilai tertinggi 28,41. Rinciannya, nilai Bahasa Indonesia (9,20), Matematika (8,50), dan IPA (7,75). ”Jumlah pendaftar hingga hari ketiga 765 siswa, sebanyak 693 peserta di antaranya sudah melakukan verifikasi,” bebernya.
Kepala SMPN 21 Semarang Djoko Suprayitno menambahkan, pada PPD SMP, kuota siswa miskin dibuka seluas-luasnya, dan tidak ada persyaratan khusus. Siswa miskin dapat mendaftar lewat seleksi umum. Berbeda dengan PPD SMA/SMK negeri yang dibatasi 20 persen dari daya tampung, dengan syarat nilai minimal 24, atau rata-rata 6.
”Sekolah kami menyediakan kuota 270 kursi. Untuk siswa miskin, kita sudah ada data siswa kurang mampu di sekitar lingkungan sekolah. Data tersebut juga sudah kita rapatkan dengan Komite Sekolah,” paparnya.
Djoko menambahkan, seusai dengan Peraturan Wali Kota Semarang 6 Tahun 2014 tentang Sistem dan Tata Cara Penerimaan Peserta Didik (PPD) tentang tambahan penilaian, dari nilai lingkungan nantinya siswa miskin di sekitar lingkungan sekolah akan mendapat tambahan 3 poin, sedangkan siswa tidak miskin di sekitar lingkungan sekolah mendapat tambahan 1 poin.
”Selain ada penambahan nilai lingkungan, nantinya siswa miskin juga kita usahakan dapat dana BOS (bantuan operasional sekolah) ataupun bantuan dari program lainnya. Di samping itu kita juga ada program infak dari siswa untuk membantu sesama,” bebernya.
Untuk jumlah siswa miskin yang sudah mendaftar, pihaknya belum bisa memastikan. Sebab, pendaftaran dan proses verifikasi masih berlangsung. (mg1/aro/ce1)