Sudah Biasa Keluar Biaya dari Kantong Sendiri

352

Koesmartono, 5 Tahun Jadi Advokat Masyarakat Kecil

Koesmartono SH sudah 5 tahun mengabdikan hidupnya untuk memberikan bantuan hukum kepada masyarakat kecil. Berbagai kisah suka maupun duka dialaminya. Seperti apa?

MIFTAHUL A’LA, Ketileng

POSTUR tubuhnya gagah, tinggi, besar. Orang yang melihat pasti merasa gentar. Apalagi nada bicaranya keras dan tegas. Tapi siapa sangka, di balik semua itu, Koesmartono memiliki nurani yang baik dan lembut. Pria 46 tahun ini banyak mengabdikan hidupnya untuk memperjuangkan keadilan masyarakat. Keadilan yang selama ini menjadi sesuatu yang sangat mahal.
”Ya, begini kesibukan saya sehari-hari, selalu bergelut dengan laptop dan masalah hukum,” kata Koesmartono saat ditemui Radar Semarang di kantornya kemarin.
Ia mengaku bergabung dengan Biro Bantuan Hukum Kelompok Pelayanan Sosial (BBH-KPS) sejak 2009 silam. Hal itu dilakukan karena dirinya merasa prihatin dengan banyaknya masalah diskriminasi hukum. ”Yang salah bisa menjadi benar, dan yang benar bisa menjadi salah,” ujar warga Jalan Wonodri Baru Gang III No 9, Semarang Selatan ini.
Berawal dari kenyataan itulah, Koesmartono memutuskan untuk menjadi seorang advokat. ”Saya miris, jika melihat realitas hukum sekarang. Makanya saya berusaha untuk ikut memperjuangkan hak masyarakat,” katanya.
Ia mengaku sudah menangani berbagai masalah hukum, baik kasus perdata maupun pidana. Diakui, bekerja secara tim membutuhkan komitmen bersama dan kerja keras. Terlebih harus memadukan satu komitmen untuk melangkah secara bersamaan. ”Kita bergerak lembaga, jadi setiap masalah diselesaikan bersama,” ujarnya.
Mahasiswa semester 3 Magister Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) ini mengaku tidak mudah untuk mendampingi masyarakat ketika tersandung kasus hukum. Tidak jarang, orang yang meminta bantuan dari masyarakat tidak memiliki materi. Alhasil, untuk memperjuangkan kasus tersebut, terpaksa harus mengeluarkan biaya dari kantong sendiri.
”Ya, kami sudah biasa keluar uang. Itu risiko untuk menegakkan keadilan di tengah masyarakat. Ini merupakan komitmen kami untuk terus menegakkan kebenaran,” katanya.
Hampir setiap hari, Koesmartono menghabiskan waktunya di kantor. Karena banyak garapan atau keluhan masyarakat yang harus diselesaikan. Tidak hanya itu, ia harus bolak-balik ke kantor, kepolisian dan pengadilan. ”Kami totalitas. Pendampingan dilakukan mulai dari awal sampai finish,” tegasnya.
Berbagai kisah menarik dialami selama terjun dalam dunia bantuan hukum. Mulai dari yang senang sampai susah. Semua dijalani dengan enjoy dan dijadikan motivasi dalam kehidupannya. Ia mengaku bangga dan senang, jika orang yang didampingi bisa terbebas dari hukum. Sebab, selama ini ia selalu mendampingi orang-orang benar yang terzalimi. ”Jika perkara bebas dan selesai, itu merupakan kepuasan tersendiri,” katanya.
Di sela kesibukannya, Koesmartono masih tetap memprioritaskan keluarga. Untuk menghilangkan rasa penat bergelut dengan masalah hukum, ia memiliki kesibukan sendiri. Yakni, dengan memelihara burung di rumah. ”Saat mendengar kicauan burung, pikiran menjadi fresh. Yang terpenting bagaimana bisa tetap mengedepankan keadilan,” ucapnya.
Ia mengaku akan terus berkomitmen membela kebenaran dan keadilan yang merupakan hak dasar setiap manusia. Ia mengkritisi keberadaan KUHP dan KUHPerdata yang dinilai sudah tidak layak lagi. ”Mestinya sudah ada pembaharuan hukum. Jadi, tidak hanya tertulis, tapi tetap tidak menafikan hati nurani,” katanya. (*/aro/ce1)