Bahan Pokok Bertahan Tinggi

407

TEMANGGUNG—Harga bahan makanan pokok di pasaran Kabupaten Temanggung masih tinggi. Tingginya harga barang pada pekan pertama Ramadan ini berdampak pada penurunan omzet penjualan hingga 20 persen dibandingkan sebelum puasa. Harga sembako diprediksikan akan semakin meningkat menjelang Idul Fitri.
Kholifah, 42, salah satu penjual sembako di Pasar Kliwon Rejo Amertani Temanggung menuturkan, sejak sebulan sebelum Ramadan harga sembako sudah mulai merangkak naik, hingga kini harga masih cenderung tinggi bahkan untuk komoditas tertentu harga terus merangkak naik.
“Kalau yang harganya turun belum ada, tapi kalau yang naik ada, seperti tepung ketan, tepung beras dan telur,” katanya.
Ia menyebutkan, untuk harga beras jenis  IR 64 saat ini harganya Rp 9 ribu per kilogram, minyak goreng Rp11 ribu sampai Rp13.500 per kilogram tergantung merek dan kualitas, harga gula Rp 9 ribu per kilogram.
Sedangkan untuk harga, tepung beras mengalami kenaikan dari harga semula Rp128.000 per kardus isi 10 kilogram naik menjadi Rp136.000. Telur naik menjadi Rp18 ribu dari harga sebelumnya Rp17.500  per kilogram.sedangkan harga tepung ketan juga mengalami kenaikan Rp 8 ribu dari Rp128.000 menjadi Rp136.000 per kardus isi 10 kilogram.
Ia menuturkan, naiknya harga telur dan jenis tepung ini karena saat ini kebutuhan masyarakat cukup tinggi. Biasanya pada saat bulan puasa seperti ini kebanyakan warga membuat kue atau roti dan jajanan lainnya untuk berbuka puasa. “Hampir semua bahan untuk pembuatan kue atau roti naik, yang tidak hanya gula pasir saja satu kilogramnya masih Rp 9 ribu per kilogram,”tuturnya.
Kondisi ini katanya, membuat omzet dagangannya sejak awal Ramadan lalu terus mengalami penurunan. Apalagi ditambah dengan harga yang tidak stabil omzet penjualan turun hingga 20 persen. “Biasanya kalau awal Ramadan ini ramai pembeli, sekarang paling banyak dalam sehari saya hanya melayani 40 hingga 50 pembeli saja padahal sebelumnya dalam sehari minimal saya biasa melayani pembeli hingga 70 pembeli,”ujarnya.
 Terpisah penjual sembako di pasar darurat Parakan, Nur Koirun, 38, juga menuturkan hal yang sama. Tingginya harga sembako ini tidak diiringi harga dari hasil  pertanian sehingga pasar menjadi sepi.
“Sebagian besar masyarakat di Temanggung ini kan petani, kalau harga hasil pertanian tidak ada yang bagus, secara otomatis tingkat kunjungan di pasar menjadi menurun, warga lebih memilih belanja di desanya,” katanya.
Pihaknya berharap, harga sembako di pasaran bisa secepatnya stabil, sehingga roda perekonomian di pasar-pasar bisa kembali bergeliat. (zah/lis)