Bangkai Ayam Dijual Bebas

444

Di Pasar Kembangsari, Kabupaten Semarang

UNGARAN – Tim gabungan Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Semarang dan Kepolisian selama Ramadan mengintensifkan operasi peredaran produk peternakan tak layak konsumsi di sejumlah pasar. Sebab, pada awal Ramadan saja, Jumat (27/6) lalu, telah ditemukan 8 kilogram bangkai ayam atau biasa disebut ayam tiren (mati kemaren) yang dijual di Pasar Kembangsari, Kecamatan Tengaran.
Selain itu, hingga saat ini, tim operasi masih menemukan ayam yang disembelih tidak sesuai syarat halal serta daging sapi gelonggongan di sejumlah pasar tradisional.
Kepala Disnakan Kabupaten Semarang, Agus Purwoko Djati mengatakan, menjelang dan selama Ramadan, Disnakan dan Kepolisian melakukan pengawasan di tujuh pasar tradisional, seperti Pasar Projo Ambarawa, Suruh dan Kembangsari. Operasi pemantauan dan pengawasan peredaran bahan asal hewan (BAH) tersebut dilakukan agar tidak ada lagi pedagang yang menjual BAH tidak layak konsumsi. Sebab, peredaran BAH akan meningkat saat Ramadan dan peringatan hari raya.
”Sebenarnya operasi seperti itu rutin dilaksanakan. Tidak hanya bulan Ramadan saja. Tetapi pada bulan Ramadan lebih diintensifkan. Sebab, peredaran BAH meningkat dan tingkat konsumsinya tinggi. Sehingga banyak pedagang nakal yang menjual bahan asal hewan yang tidak layak konsumsi,” tutur Agus, Kamis (3/7) kemarin.
Dari hasil pantauan di sejumlah pasar tradisional hingga saat ini, masih ditemukan peredaran daging gelonggongan. Selain itu, masih ditemukan sejumlah pedagang daging ayam yang teknik pemotongannya tidak sesuai standar halal. Bahkan di Pasar Kembangsari ditemukan 8 kilogram bangkai ayam yang dijual.
Kepala Seksi Kesmavet (kesehatan masyarakat dan veteriner) Disnakan Kabupaten Semarang, drh Asto, mengatakan, diprediksi seminggu sebelum Lebaran akan meningkat jumlah penjualan daging. Dimungkinkan penjualan daging yang tidak aman, sehat utuh dan halal (ASUH) juga akan meningkat pada seminggu menjelang Idul Fitri.
”Pada tahun 2013 saja ada daging gelonggongan yang ditemukan 40 kilogram. Selain itu juga ada temuan daging campur celeng. Jadi, seminggu menjelang Idul Fitri kita intensifkan operasi, karena dikhawatirkan masih ada daging gelonggongan dan ayam tiren. Di tahun ini untuk penjual daging campur celeng kelihatannya tidak ada, karena penjualnya sudah tidak jualan lagi,” ungkap Asto.
Untuk mencegah masih adanya penjualan produk asal hewan yang tidak ASUH, Disnakan melakukan sosialisasi tentang cara memilih daging yang ASUH pada masyarakat melalui PKK Kecamatan dan Kelurahan se-Kabupaten Semarang. Selain itu, juga memberikan pembinaan kepada juru sembelih tentang teknik penyembelihan yang halal.
”Ciri-ciri daging sapi sehat yakni warna merah cerah, aroma tidak amis atau bau, lapisan lemak tipis, serabut otot besar dan kenyal serta tidak berair. Jika dicampur daging babi atau celeng bisa diperiksa karena daging babi atau celeng seratnya lebih lembut, warna merah keputihan, lapisan lemaknya tebal,” jelas Asto.
Sementara untuk daging ayam sehat, kulit berwarna putih bersih mengkilat dan tidak memar, serta tidak berlendir. Sedangkan untuk ayam tiren ciri-cirinya kulit ada bercak merah, berdarah pada bagian kepala dan leher, bagian dalam karkas warnanya kemerahan, serta berbau anyir.
”Waspadai juga daging yang diawetkan dengan formalin. Ciri-cirinya kulit keset atau peret, lalat tidak suka hingga di karkas daging,” tuturnya. (tyo/aro/ce1)