Pemkot Siap Tertibkan Bangunan Mangkrak

346

BALAI KOTA – Pemkot Semarang masih akan mempelajari Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bangunan Gedung. Dan apakah perda tersebut memang belum memiliki Peraturan Wali Kota (Perwal)? Pemkot juga akan mencari celah untuk menertibkan bangunan-bangunan mangkrak, dengan mengacu ketentuan yang ada.
”Bangunan atau gedung kuno beda dengan bangunan mangkrak. Perda tahun 2009 itu tentang bangunan kuno. Kalau tentang bangunan kuno sudah ada perwal-nya. Tapi, kita akan pelajari kembali kalau memang Perda tahun 2009 tentang bangunan gedung itu belum ada perwal-nya,” kata Sekda Kota Semarang, Adi Tri Hananto, kemarin (3/6).
Adi menegaskan, pihaknya akan  mempelajari Perda Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bangunan Gedung yang belum dilengkapi perwal-nya. Pemkot akan berusaha semaksimal mungkin mengaplikasikan aturan tersebut dalam proses pembangunan kota. ”Kami akan pelajari dan siapkan perwal-nya yang disesuaikan dengan kondisi sekarang. Secara kondisi, bangunan kuno di Kota Lama sangat baik dan bisa dikembangkan jadi objek wisata. Ini saya juga sepakat agar kota lebih indah dan tertata. Tapi memang ada ketentuan, aturan jadi pedoman, dan kendala yang harus bersama-sama diselesaikan,” tegasnya. 
Menurutnya, penilaian mangkrak tergantung sudut pandang orang yang melihat. Kalau dari segi arsitektur pasti memperburuk estetika kota, tapi kalau menjadi kawasan hijau atau konservasi tentu tidak memengaruhi keindahan. ”Prinsipnya kita sepakat menjadikan Kota Semarang ini lebih indah dan tertata. Tetapi ketentuan dan aturan tetap menjadi pedoman,” katanya.
Adi juga sepakat atas semangat perbaikan gedung-gedung mangkrak yang ada di Kota Semarang. Hanya saja ada beberapa kendala dalam proses ini, di antaranya investasi tinggi, aturan tentang cagar budaya, dan kepemilikan gedung. Gedung-gedung mangkrak di Kota Semarang, ada beberapa yang dikategorikan sebagai bangunan kuno. Sehingga penanganannya pun berbeda dengan gedung mangkrak biasa. ”Kami sepakat dengan semangat memperbaiki. Beberapa kali pemilik gedung juga sudah kami ingatkan untuk memberdayagunakan gedung ataupun merawatnya. Karena kami (pemerintah, Red) tak bisa melakukan perbaikan karena aset tersebut bukan aset pemkot,” tegasnya.
Ditanya terkait rendahnya minat investasi pihak swasta untuk pengembangan Kota Lama, diakuinya, hal itu tak lepas dari nilai investasi yang tinggi. Selain itu, ada aturan tentang renovasi bangunan kuno, khususnya bangunan cagar budaya dari kementerian yang harus ditaati investor.
”Sebenarnya bangunan kuno di Kota Lama sangat baik dan bisa dikembangkan jadi objek wisata. Dengan ketatnya aturan tentang bangunan kuno dan cagar budaya itulah, banyak investor yang kemudian menarik diri berinvestasi mengelola aset bangunan kuno yang ada,” tandasnya.  
Banyaknya bangunan dan lahan mangkrak di Kota Semarang tentu sangat mengganggu keindahan kota. Pemkot sendiri hanya bisa memberikan imbauan kepada pemilik untuk melakukan perawatan. Meski begitu, inventarisasi terhadap bangunan-bangunan tua yang tidak terurus tetap dilakukan oleh pemkot, seperti yang sudah dilakukan terhadap bangunan di kawasan Kota Lama.
Asisten Bidang Perekonomian, Pembangunan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Semarang Ayu Entys mengatakan, pemkot sifatnya hanya mendorong pemilik bangunan untuk segera merenovasi atau memfungsikan bangunan itu. ”Pertama, apa pun menjadi pemandangan yang kurang sedap dipandang. Kedua, kalau bangunan itu dimanfaatkan maka bisa menambah perputaran roda ekonomi,” katanya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2009 tentang Bangunan Gedung yang telah disahkan pada 2009 silam, ikut mangkrak seperti gambaran banyaknya gedung tua yang mangkrak di Kota Semarang. Dikarenakan Perda Bangunan Gedung itu tak bisa dijalankan karena hingga kini perwal untuk menjalankan perda tersebut belum juga dibuat. (zal/aro/ce1)