Polisi Dikeroyok, Saksi Diintimidasi

308

PEKALONGAN-Ratusan pedagang merasa geram, saat menghadiri sidang kasus pengeroyokan terhadap pedagang pasar tiban di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pekalongan, Kamis (3/7) siang kemarin. Pasalnya, salah seorang saksi yang juga tersangka, Ardi, 17, mengakui bahwa dirinya memukul anggota Polisi yang dikiranya pedagang pasar tiban, karena disuruh seseorang dan dijanjikan dibayar Rp 100 ribu.
Sidang kedua ini menghadirkan 6 orang saksi. Adalah, Aiptu Ardi Sulistyo, 39, dan Aipda Kompyang, 47 dari anggota Polresta Pekalongan. Salim, 33 dan Yanto, 39, saksi dari pedagang. Serta Ardi, 17, dari buruh serabutan, serta Edy Purwanto, 22, mahasiswa STAIN Kota Pekalongan.
Sidang yang dipimpin oleh Ketua Pengadilan Negeri Pekalongan, Akhmad Rosidin yang menjadi ketua majelis hakim. Sidang tersebut diawali dengan mendengarkan keterangan saksi Aiptu Ardi Sulistyo, 39, dan dilanjutkan dengan mendengarkan 5 saksi lainnya yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Pekalongan, Ida Nurliana.
Aiptu Ardi dalam kesaksiannya mengungkapkan bahwa saat itu dirinya bersama beberapa rekan anggota Polresta Pekalongan sedang melakukan pengamanan pedagang pasar tiban di Jalan Veteran, Kota Pekalongan. Pasalnya, dalam sebulan terakhir sering terjadi bentrok antara pedagang dengan petugas Satpol PP Kota Pekalongan.
Menurutnya, tak berapa lama, ketika pedagang sedang bernegosiasi dengan Satpol PP, terjadi bentrok antara pedagang pasar tiban dengan orang tak dikenal yang belakangan diketahui jika mereka preman.
“Ketika saya melerai bentrokan antara pedagang pasar tiban dan preman, saya justru dipukuli dua orang preman Ardi dan Hadi. Meski saya mengatakan, saya anggota polisi, para preman tersebut terus memukuli saya. Hingga akhirnya saya mengeluarkan pistol dan meletuskan satu kali tembakan peringatan ke atas, bentrokan baru berhenti,” ungkap Aiptu Ardi yang saat itu mengalami luka lebam pada mata sebelah kanan dan tangan hingga harus dirawat di RS Budi Rahayu selama 2 hari.
Yanto, 39, pedagang pasar tiban, warga Kelurahan Kraton, sebelum memberikan kesaksian di persidangan meminta perlindungan saksi dari Pengadilan Negeri (PN). Menurutnya, selama seminggu terakhir, dirinya didatangi orang yang mengaku PNS Pemkot Pekalongan dan mengancam keselamatannya dirinya.
”Saya minta perlindungan saksi, Pak Ketua Hakim. Saya merasa terancam keselamatan saya. Saya didatangi orang yang mengaku PNS Pemkot Pekalongan, baru saya mau memberikan keterangan saksi,” kata Yanto dengan wajah ketakutan.
Ketua Majelis Akhmad Rosidin menegaskan bahwa dalam persidangan, semua saksi sudah disumpah, silahkan menyampaikan apa yang terjadi, tapi jangan bohong. ”Silahkan anda sampaikan, jangan takut. Karena anda juga sudah disumpah dan jangan emosi,” tegas Rosidin.
Sebelum sidang diakhiri, Ardi, 17, warga Yosorejo, Kecamatan Pekalongan Selatan, saksi yang juga tersangka, secara mengejutkan mengatakan bahwa dirinya memukuli Aiptu Ardi karena dijanjikan uang Rp 100 ribu oleh seseorang. Namun, meski ketua majelis hakim mendesak siapa yang menjanjikan uang Rp 100 ribu tersebut, Ardi bersikukuh, tidak tahu. “Saya belum sempat menerima uang Rp 100 ribu dari teman saya itu. Karena sorenya saya sudah ditangkap polisi,” kata Ardi.
Penasehat hukum para terdakwa, Arif NS dan Sokhe menjelaskan bahwa dalam sidang mendengarkan para saksi tersebut pihaknya tidak mengajukan eksepsi atau keberatan. Sehingga, sidang akan dilanjutkan Selasa depan. ”Kami tidak mengajukan eksepsi,” kata Sokhe.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Pasar Tiban (Parti) Bersatu, Kota Pekalongan, Arifiyanto menandaskan bahwa seluruh pedagang pasar tiban serta warga masyarakat Kota Pekalongan dan mahasiswa akan terus mengawal jalannya sidang kasus pengeroyokan terhadap pedagang pasar tiban.
“Sidang ini harus dikawal, agar terungkap siapa dalang atau atasannya. Kami akan mengadukan delik aduan pidana ini, sebelum ada kesepakatan dengan Pemkot Pekalongan. Hukum harus ditegakkan, mari kita hormati bersama agar proses persidangan berjalan lancar dan tolong jangan diintimidasi,” tandas Arifiyanto yang didukung oleh ratusan pedagang lainnya. (thd/ida)