Usaha Turun Temurun, Hanya Diproduksi Saat Ramadan

366

Mengenal Serabi Kalibeluk, Makanan Khas Batang

Serabi Putri Mataram atau Serabi Kalibeluk hanya diproduksi pada bulan Ramadan di Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang. Atau khusus kalau ada pesanan saja. Sangat identik dengan cerita legenda putri kejujuran pada Kerajaan Mataram di masa lalu. Seperti apa ?

TAUFIK HIDAYAT, Batang

BANYAK orang penasaran dengan Serabi Kalibeluk ini. Dari bentuknya, sebetulnya tidak ada yang begitu istimewa. Serabi terbuat dari tepung ketan, santan dan gula aren. Bentuknya bulat. Kemudian dijadinya satu tangkep menjadi setengah lingkaran dalam ukuran cukup besar. Bisa dimakan untuk 3 hingga 4 orang sebagai jaburan atau takjil setelah salat Magrib.
Surini, 54, warga Desa Kalibeluk, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, telah menekuni usaha pembuatan Serabi Kalibeluk sejak 30 tahun lalu. Menurut penuturannya, usaha pembuatan serabi sudah turun termurun, sejak zaman nenek buyutnya dahulu.
”Usaha pembuatan Serabi Kalibeluk ini, usaha keluarga yang turun temurun. Dan dibuat hanya pada bulan Ramadan atau kalau ada yang pesan saja,” ungkap Surini ketika ditemui di dapurnya yang sempit, Kamis (3/7) sore kemarin.
Menurutnya yang membeli Serabi Kalibeluk justru masyarakat luar Kota Batang, tapi justru warga dari Kota Pekalongan hingga Kabupaten Pekalongan dan Pemalang. Makanya, serabi biasanya dibuat di pagi hari, namun masih enak saat disantap sore hari.
”Nanti kalau mau dimakan, sebaiknya dikukus lagi, karena lebih enak jika dimakan keadaan panas. Dan pelanggannya kebanyakan dari luar kota, sebagai oleh-oleh saja,” kata Surini.
Nina Novayanti, 25, warga Desa Dadirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, yang menjadi pelanggan tetap Surini mengaku bahwa setiap memasuki awal dan pertengahan puasa Ramadan, orang tuanya yang di Solo selalu minta oleh-oleh serabi tersebut. ”Saya membeli 7 tangkep, satu tangkepnya Rp 7 ribu. Ini oleh-oleh untuk orang tua saya di Solo,” terang Nina
Sekertaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Batang, Suprayitno menjelaskan bahwa berdasarkan legenda, dulu di Desa Kalisalak ada seorang gadis cantik bernama Dewi Rantansari yang hendak dipersunting Sultan Mataram. 
Karena itulah, tuturnya, Sultan Mataram tersebut kemudian mengutus orang bernama Bahureksa, guna melamar Dewi Rantansari. Namun sesudah bertemu Dewi Rantansari, justru Bahureksa merasa jatuh cinta dan ingin mempersunting Dewi Rantasari untuk dirinya sendiri.
”Bahureksa lalu menyuruh gadis lain yang kecantikannya tidak kalah dengan Dewi Rantansari untuk dikirim ke Sultan di Mataram. Dipilihlah perempuan bernama Endang Wiranti, anak penjual serabi dari Desa Kalibeluk,” jelas Suprayitno.
Kata Suprayitno, Sultan Mataram lalu menerima Endang Wiranti dengan gembira, namun Endang tidak kuasa membohongi hati nuraninya sampai akhirnya dirinya pingsan. Akhirnya, Endang mengakui siapa dirinya yang sebenarnya. Menurutnya, karena bersikap jujur, Sultan Mataram menyuruh Endang pulang ke desanya dan menghadiahi uang supaya meneruskan usaha orang tuanya berjualan serabi di Desa Kalibeluk.
“Serabi Kalibeluk dikait-kaitkan dengan legenda Putri Kejujuran di masa Kerajaan Mataram. Serabi daerah tersebut, kini menjadi salah satu makanan khas dari Batang dan selalu diburu saat bulan Ramadan seperti saat ini,” kata Suprayitno. (*/ida)