Daging Celeng Dipasok dari Sumatera

324

UNGARAN – Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Jateng telah melakukan pantauan dan pengawasan peredaran bahan asal hewan (BAH). Peredaran daging sapi gelonggongan berasal dari Kabupaten Boyolali dan Sragen. Sementara daging celeng masuk melalui jalur darat dari Sumatera.
Kepala Disnakeswan Provinsi Jawa Tengah, Whitono, mengatakan, pemantauan dan pengawasan BAH di sejumlah pasar dan rumah pemotongan hewan (RPH) rutin dilaksanakan. Khusus untuk bulan Ramadan dan hari besar lebih diintensifkan. Sebab, ada peningkatan jumlah penjualan dan dikhawatirkan ada pedagang nakal yang mencampur daging.
”Ada tim gabungan dengan masing-masing tim di kabupaten/kota untuk melakukan pengawasan. Untuk Ramadan, pengawasan lebih ditingkatkan lagi. Di samping itu kita juga punya laboratorium veteriner yakni untuk melakukan pemeriksaan sampel daging, apakah memenuhi persyaratan atau tidak. Jika ditemukan daging tak layak, maka akan disampaikan ke kabupaten/kota terkait untuk memberikan pembinaan,” tutur Whitono, kemarin.
Whitono memetakan, untuk peredaran daging sapi gelonggongan masih banyak dijumpai. Daging-daging sapi tersebut berasal dari wilayah Boyolali dan Sragen. Dari dua wilayah tersebut daging sapi gelonggongan tersebut diedarkan di daerah sekitar seperti Kabupaten Semarang, Grobogan, dan daerah sekitar lainnya. Jika ditemukan ada pedagang nakal, biasa tim yang menemukan akan mengambil daging tersebut dan digantung sampai airnya menetes habis.
”Tetapi untuk saat ini jumlahnya lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk sementara memang baru pada tahap pembinaan jika ditemukan ada pedagang nakal yang menjual daging oplosan dengan daging gelonggongan. Kalau kita temukan daging gelonggongan biasanya kita ambil dan digantung, nanti sekitar jam 10-11 siang kita serahkan lagi. Mereka pasti kapok karena dagingnya tidak laku dijual,” tuturnya.
Selain itu, Disnakeswan juga mengimbau agar masyarakat mewaspadai peredaran daging ayam bangkai atau sering disebut ayam mati kemarin (tiren). Tidak hanya ayam bangkai, Disnakeswan juga mengawasi masuknya daging celeng ke Jawa Tengah dari Sumatera.
Menurut Whitono, daging celeng yang didatangkan dari Sumatera alasannya untuk konsumsi hewan di kebun binatang. Tetapi, dikhawatirkan juga diedarkan di pasar-pasar. ”Kita tetap waspadai dan mengawasi. Ya, namanya manusia, ada juga yang ingin cari keuntungan dengan cara-cara yang tidak baik. Tidak menutup kemungkinan disalahgunakan bukan untuk pakan hewan, tetapi untuk campuran daging sapi dan dijual di pasar. Sehingga kita melakukan pemeriksaan aktif,” tutur Whitono.
Kabid Kesehatan dan Veteriner Disnakeswan Provinsi Jateng, Saiful Latif, menambahkan, hasil pemeriksaan di lapangan sampai Juni 2014 ini hanya sedikit saja ditemukan daging sapi oplosan celeng. Temuan tersebut ada di daerah Wonogiri, Banyumas dan Rembang. ”Memang daging celeng dengan sapi sulit membedakan bagi masyarakat awam, untuk itu kami perketat pengawasan,” ujarnya.
Saiful juga mengingatkan pada masyarakat tentang ciri-ciri daging gelonggongan, yakni warna daging merah pucat, karena banyak air dan teksturnya menjadi lembek. Permukaan daging basah. Biasanya dijual dengan tidak digantung. Selain itu harganya juga lebih murah dari harga daging sapi normalnya. (tyo/aro/ce1)