Diduga Harta Tersangka Masih Ada

401

Korupsi BJB Cabang Semarang

PLEBURAN – Kejaksaaan Tinggi (Kejati) Jateng menyatakan bahwa penyidikan terhadap perkara dugaan korupsi kredit fiktif Bank Jabar Banten (BJB) Cabang Semarang memasuki tahap akhir. Saat ini, pihak penyidik tengah menelusuri aset kekayaan Direktur PT Indonesia Antique Wahyu Hanggono (WH) yang merupakan satu dari dua tersangka yang ditetapkan Kejati 10 Maret 2014 lalu.
Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Jateng Masyhudi membeberkan, pihak penyidik mencurigai masih adanya harta WH yang disembunyikan. Pasalnya, belakangan diketahui bahwa WH tidak hanya melakukan pembobolan di BJB, tetapi juga meminjam uang ke sejumlah pihak termasuk bank swasta. ”Jumlah harta dengan total kredit yang ia terima tidak sebanding. Hal ini mengindikasikan bahwa masih ada aset yang belum terlacak. Kami akan telusuri asal uang tersebut,” ungkapnya kepada wartawan, Jumat (4/7).
Masyhudi menambahkan, saat ini pihaknya juga masih mengembangkan kasus tersebut. Namun ia belum bisa menjabarkan lebih lanjut mengenai pengembangan tersebut. ”Nanti usai pilpres (pemilihan presiden) kita beberkan semua,” katanya.
Selain WH, Kejati juga telah menetapkan mantan Kepala Cabang BJB Cabang Semarang, Hadi Mulyawan (HM) sebagai tersangka. Kini keduanya telah ditahan di Lapas Kelas 1A Kedungpane, Semarang. Sebelum ditahan HM sempat mangkir dari pemeriksaan. Penahanan tersebut dilakukan untuk kepentingan penyidikan.
Seperti diketahui, baik HM dan WH dijerat dugaan perkara tindak pidana korupsi pemberian kredit fiktif Bank Jabar Banten (BJB) cabang Semarang. Modus kasus ini adalah memanipulasi proses kredit kepada perusahaan.
Kejati Jateng awalnya mendapat laporan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional IV Semarang. Dalam laporan tersebut, sedikitnya 33 perusahaan mendapatkan kredit dari BJB. Total dana mencapai Rp 24 miliar.
Diduga prosedur pengajuan kreditnya menyimpang. Nilai jaminan yang diberikan berbeda dari kenyataannya. Selain itu, nama debitur diduga hanya karyawan perusahaan-perusahaan tersebut. Debitur mengajukan kredit untuk pengembangan usaha. Ternyata untuk membayar utang yang telah ada sebelumnya. Ada perusahaan besar yang memiliki perusahaan kecil sebagai plasma. Perusahaan plasma ini mengajukan kredit memakai nama karyawannya. (fai/ric/ce1)