Miras Sumber Kemungkaran

302

RANDUSARI – Musyarawah Pimpinan Daerah (Muspida) Kota Semarang kembali menggelar tarawih keliling. Kamis (3/7) malam, tarling berlangsung di Masjid Al Hidayah kompleks Polrestabes Kota Semarang. Salat Isya dilanjutkan dengan tarawih berjamaah dihadiri Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan seluruh unsur Muspida Kota Semarang.
Kapolrestabes Semarang Kombespol Djihartono selaku sohibul bait, menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada wali kota yang telah memprogramkan dan hadir dalam pelaksanaan tarawih keliling ini. ”Wujud kebersamaan ini menjadi modal mewujudkan kenyamanan dan keamanan di Kota Semarang,” kata Djihartono yang mengklaim kondisi Kota Semarang tercatat aman.
Menurutnya, keamanan dan kenyamanan tak bisa ditawar lagi. Perlu terus diciptakan dan dijaga selama pelaksanaan pilpres hingga perayaan Idul Fitri mendatang. ”Komitmen Polrestabes Semarang dalam mewujudkan keamanan dan kondusivitas tentu membutuhkan dukungan dan kerja sama seluruh pihak termasuk masyarakat Kota Semarang,” ujar Djihartono dalam sambutannya.
Sementara penceramah, Dzikron Abdulloh dari Pondok Pesanten Ad-Dain Nuriah Pedurungan menyampaikan bahwa dalam mewujudkan keamanan dan kenyamanan salah satunya dengan menghindarkan diri dari hal yang mendatangkan kemungkaran. Khamr atau minuman yang memabukkan merupakan sumber kemungkaran. Minuman yang dilarang keras dalam agama Islam tersebut dapat menyebabkan mabuk dan membuat peminumnya melakukan dosa-dosa besar lainnya seperti merampok, membunuh, dan lainnya.
”Oleh karenanya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk menghindari perbuatan yang dekat dengan kemungkaran. Nabi Muhamad SAW pun melarang meminum meskipun sedikit dari minuman yang memabukkan. Mabuk dan judi merupakan perbuatan keji yang oleh karenanya diminta untuk dijauhi agar menjadi hamba yang beruntung,” ujarnya.
Dalam melawan kemungkaran, lanjutnya, Islam menganjurkan untuk menggunakan kekuatan, lisan dan hatinya. ”Dalam melawan kemungkaran gunakanlah kekuatan. Jika tidak mampu gunakanlah lisan dan bila tak mampu lagi gunakan hati,” ungkap Dzikron. (zal/ton/ce1)