Pabrik Rokok Ilegal Digerebek

323

Rugikan Negara Rp 92,61 Miliar

SEMARANG BARAT – Sebuah pabrik rokok ilegal di Kawasan Industri Candi Blok 19 Semarang digerebek petugas Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean Tanjung Emas dibantu petugas Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jawa Tengah-DI Jogjakarta.
Dalam penggerebekan, petugas mengamankan pemilik pabrik berinisial GW, 35, warga Semarang. Saat ini, GW sudah ditahan dan dititipkan di Lapas Kedungpane, Semarang. Selain itu, turut diamankan 38 karyawan yang memproduksi rokok di pabrik tersebut.
Penggerebekan pabrik rokok ilegal itu dilakukan Selasa (24/6) lalu. Terbongkarnya kasus ini, setelah petugas mendapatkan informasi adanya pabrik rokok ilegal di kawasan Industri Candi yang tidak bercukai. Berbekal informasi itu, petugas melakukan penyelidikan lebih mendalam dengan terjun ke lapangan.
”Setelah lama dilidik, ternyata benar. Ada produksi rokok ilegal,” kata Kepala KPPBC TMP Tanjung Emas, Ardiyanto saat gelar perkara di Kantor DJBC Wilayah Jateng-DI Jogjakarta di Jalan Arteri Yos Sudarso, Semarang, Jumat (4/7).
Sebelum penggerebekan, petugas sempat mengikuti sebuah mobil Daihatsu Luxio bernopol H 8864 NH yang keluar dari gudang menuju rumah kosong di daerah Ngaliyan. Mobil yang mencurigakan ini merupakan moda transportasi yang digunakan mengangkut rokok ilegal tersebut. Petugas berusaha menyergap, tapi sopir berhasil kabur dengan menabrakkan kendaraan yang dibawanya ke mobil petugas.
”Mobil itu langsung tancap gas. Petugas terus mengikuti, hingga akhirnya mobil masuk di sebuah gudang di kawasan Industri Candi,” jelasnya.
Setelah yakin gudang itu merupakan pabrik rokok ilegal, petugas langsung melakukan penggerebekan. Belasan petugas merangsek masuk ke dalam gudang. Saat dilakukan penggerebekan, petugas berhasil mengamankan pemilik pabrik GW. Selain itu, setidaknya 38 karyawan berhasil diamankan untuk dimintai keterangan. Ke-38 karyawan tersebut diamankan petugas setelah sempat dikunci oleh GW dalam sebuah ruang rahasia yang juga tempat mesin pembuat rokok tersebut.
”Tersangka GW berhasil kami tangkap, dan sekarang dititipkan di Lapas Kedungpane. Sedangkan untuk para karyawan statusnya masih sebagai saksi,” katanya.
Dari pengakuan GW, pabrik rokok ilegal di Kawasan Industri Candi itu ternyata sudah beroperasi sejak 1,5 tahun lalu. Dalam jangka waktu itu, setidaknya 378 juta batang rokok sudah diproduksi. Kerugian yang dialami KPPBC TMP Tanjung Emas akibat produksi rokok ilegal ini mencapai Rp 92,61 miliar. ”Itu hitungan dengan tarif cukai yang harus dipungut sebesar Rp 245 per batang rokok,” ujarnya.
Untuk pemasaran, rokok ilegal ini didistribusikan ke sejumlah kota di pulau Jawa dan Sumatera. Biasanya, pemesan akan menyediakan tembakau yang sudah dicampur, dan dikirim ke pabrik. Di pabrik inilah, baru akan diproses menjadi rokok batangan. Setelah sudah jadi, rokok dikirim kepada pemesan. Sebagian bermerek Palma dan Fir. ”Jadi untuk mereknya menyesuaikan dari pemesan. Pabrik hanya memproduksi saja,” katanya.
Pabrik ini sangat tertutup dan tidak semua orang boleh masuk. Di dalam gudang, didesain berbagai ruangan dengan kondisi tertutup. Bahkan, di depan kantor rokok ilegal ini dipasang kamera CCTV di sejumlah titik yang disamarkan menggunakan lampu.
”Sehingga ketika ada yang datang, pegawai bisa me-monitoring langsung berbagai aktivitas di luar pabrik. Bahkan ketika masuk, hanya terlihat pabrik kosong, karena mesin disembunyikan di ruang sendiri,” jelas Kasi Pencegahan dan Penindakan (P2) DJBS Jawa Tengah-DI Jogjakarta, Tutut Basuki.
Ia menambahkan, dalam penggerebekan itu, diamankan berbagai barang bukti. Di antaranya 4 mesin rokok dengan kapasitas produksi sekitar 1.200 batang per menit; 1 Daihatsu Luxio bernopol H 8864 NH; bahan baku cigaret, rokok, dan lem; 99 karyon rokok batangan sekitar 1.584.00 batang, serta seperangkat kamera CCTV. Pabrik ilegal itu melanggar pasal 50 UU No 39 tahun 2007 tentang perubahan atas UU No 11 tahun 1995.
”Siapa yang tanpa izin menjalankan pabrik, tempat penyimpanan, atau mengimpor barang kena cukai dengan maksud menghindari pembayaran cukai terancam hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda sepuluh kali nilai yang harus dibayar,” bebernya.
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Jateng-DI Jogjakarta akan terus berkomitmen untuk menindak tegas pelanggaran UU di bidang Kepabean dan Cukai. Sejauh ini, penindakan terus dilakukan. Namun, diakui, cukup sulit untuk membongkar seperti pabrik ilegal, karena mereka bermain sangat rapi dan profesional. ”Harga rokok yang dipasarkan ini lebih murah dibandingkan dengan rokok bercukai. Kami masih terus mengembangkan kasus ini,” katanya. (fth/aro/ce1)