Pukuli Pedagang, Dibayar Rp 70 Ribu

367

PEKALONGAN-Lima terdakwa dalam kasus pengeroyokan terhadap pedagang pasar, mengungkap alasan tindak kekerasan. Selain karena solidaritas teman yang pernah dipukuli oleh pedagang pasar, mereka juga mendapatkan bayaran antara Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu.
Hal tersebut terungkap dalam sidang ketiga di Pengadilan Negeri (PN) Kota Pekalongan, Selasa (8/7) kemarin. Dengan agenda pemeriksaan terhadap 5 orang terdakwa, yakni Ahmad Syarifudin, 25; Sakwan, 34; Moh Subkhan, 33; Hadi, 43; dan Mahfudin, 19.
Lima terdakwa itu menjelaskan secara rinci peranan yang dilakukan ketika terjadi bentrok antara Satpol PP Kota Pekalongan dengan pedagang pasar tiban, Minggu sore, 18 Mei lalu.
Hadi, 43, terdakwa pertama yang ditanya Ketua Majelis yang juga Ketua PN Pekalongan, Akhmad Rosidin mengungkapkan bahwa aksi pengeroyokan yang dilakukan oleh 5 terdakwa, bermula dari adanya rapat yang dilakukan pejabat Pemkot Pekalongan di Kelurahan Keraton Kidul dengan dirinya dan beberapa teman lainnya.
“Dalam rapat tersebut, saya dimintai tolong oleh Kepala Satpol PP untuk membantu mengamankan pedagang pasar tiban, jika terjadi bentrok antara Satpol PP dengan pedagang pasar tiban,” ungkap Hadi.
Hadi juga mengatakan, dirinya mau membantu Satpol PP, karena ada temannya yang bertugas di kantor Satpol PP yang sebelumnya telah dipukuli oleh pedagang pasar tiban. Karena itulah, dirinya membantu Satpol PP, karena rasa solidaritas teman saja.
“Akhirnya saya mengajak Ahmad Syarifudin untuk membantu. Saat kejadian 18 Mei tersebut, saya memukuli Aiptu Ardi Sulistyo dan Ahmad Syarifudin ikut menendang anggota Polresta tersebut,” kata Hadi.
Subkhan, terdakwa warga Kulurahan Kuripan, Kecamatan Pekalongan Selatan menandaskan bahwa dirinya dan 4 teman lainnya disuruh ikut membantu Satpol PP dalam mengamankan kericuhan pedagang pasar tiban, atas perintah seseorang yang bernama Sopan. Menurutnya, Sopan yang memerintah 5 terdakwa lainnya dalam kericuhan pedagang pasar tiban di Jalan Vetaran dan Stadion Kraton tersebut. “Kami berlima dijanjikan uang Rp 100 ribu dan Rp 70 ribu dari Sopan. Bahkan, uangnya belum kami terima. Sopan itu warga Kelurahan Kuripan Kidul,” tandas Subkhan.
Hakim Akhmad Rosidin menegaskan bahwa Sopan harusnya dihadirkan dalam persidangan untuk menjadi saksi, agar para terdakwa tidak terkesan membuat cerita fiktif. ”Para terdakwa harusnya berpikir dua kali sebelum melakukan apa yang diperintah Sopan. Kalau sudah seperti ini, siapa yang menanggung hidup istri dan anak saudara,” kata Hakim Rosidin.
Jaksa Penuntut Umum, Kejari Pekalongan, Ida Nurliana menyatakan bahwa para terdakwa mengakui bersalah dan menyesal telah melakukan pengeroyokan. Sidang pun dilanjutkan Selasa depan dengan agenda pembacaan tuntutan.
Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Pekalongan, Yos Sudarso, saat dikonfirmasi adanya rapat di Kelurahan Kraton Kidul tidak bersedia memberikan keterangan. Namun, Kepala Bidang Ketertiban Umum, Satpol PP, Sudarno, membenarkan adanya rapat tersebut. “Rapat tersebut memang dihadiri Hadi. Tapi kalau hasil rapatnya seperti apa, saya tidak tahu, karena tidak ikut rapat,” tandas Sudarno. (thd/ida)