Dua Kapal Dihadang Cuaca Buruk

417

Kembali ke Pelabuhan
setelah Berlayar 5 Jam

TANJUNG MAS – Setelah berlayar selama kurang lebih 5 jam, dua kapal penumpang, yakni KM Dharma Kencana III jurusan Kumai, Kalimantan Tengah dan KM Kirana I jurusan Sampit, Kalimantan Tengah terpaksa kembali ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Selasa (5/8) sekitar pukul 07.30 kemarin. Nakhoda kedua kapal tersebut memilih tak melanjutkan perjalanan lantaran terkendala cuaca buruk dengan ketinggian ombak 3 meter dan kecepatan angin 35 knot.
Manajer PT Dharma Lautan Utama Cabang Semarang, Herman Fajar, menjelaskan, dua kapal itu mengangkut masing-masing 300 penumpang untuk KM Dharma Kencana III dan 220 penumpang untuk KM Kirana I.
Herman mengatakan, kedua kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Tanjung Emas Senin (4/8) pukul 21.00 dan 22.00. Tapi, sesampainya di Tanjung Jati wilayah Jepara, kondisi cuaca buruk, sehingga nakhoda memutuskan kembali ke Pelabuhan Tanjung Emas.
”Keputusan nakhoda sudah tepat, karena kalau diteruskan, tidak ada lagi tempat bersandar. Kejadiannya sebelum masuk Laut Jawa, sehingga bisa kembali ke pelabuhan. Sebab, kalau diteruskan bisa membahayakan keselamatan penumpang,” katanya.
Herman menambahkan, sesuai daftar manifes penumpang, selain membawa 300 penumpang, KM Dharma Kencana III juga mengangkut 16 sepeda motor, 7 mobil pribadi dan 2 truk. Sedangkan KM Kirana I, selain membawa penumpang 220 orang, juga 4 mobil pribadi, 10 sepeda motor, dan satu truk. ”Semuanya kembali ke Pelabuhan Tanjung Emas Semarang sebelum sampai ke tujuan,” ujarnya.
Atas pembatalan itu, pihak PT Dharma Lautan Utama mengembalikan uang tiket penuh tanpa ada pemotongan. ”Tiketnya dikembalikan secara penuh,” tegas Herman Fajar.
Kepala Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Emas, Muntasir, mengatakan, kedua kapal itu tiba kembali di pelabuhan sekitar pukul 07.30. Ia kembali menegaskan, jika perjalanan kedua kapal itu terhalang cuaca buruk, sehingga harus kembali ke Pelabuhan Tanjung Emas. ”Kedua kapal itu berangkat pukul 22.00, dan kembali lagi ke Tanjung Emas sekitar pukul 03.00 karena ombak tinggi. Kapal sampai di pelabuhan pukul 07.30,” jelasnya.
Salah seorang penumpang KM Dharma Kencana III, Tri Susani, asal Klaten yang hendak ke Kumai mengaku, kapal yang ditumpanginya berangkat pukul 22.00. Tetapi karena ada ombak tinggi, harus kembali ke Pelabuhan Tanjung Emas. ”Saat berangkat kondisi laut tenang, tetapi di tengah perjalanannya ternyata ombaknya tinggi, sehingga diputuskan kembali ke pelabuhan,” katanya.
Rencananya, Tri Susani akan berganti KM Sirimau yang berangkat tujuan Kumai Selasa (5/8) pukul 22.00 tadi malam. Meski demikian, ia belum bisa memastikan apakah KM Siramau akan berangkat, mengingat ombak di Laut Jawa masih tinggi.
”Penumpang kapal yang gagal berangkat memang ada yang memilih pulang. Tapi, ada juga yang masih menunggu di terminal penumpang. Saya sendiri memilih menunggu saja. Soalnya, kalau pulang harus keluar ongkos yang tidak sedikit,” ujarnya.

Hingga 7 Agustus
Terpisah, Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Semarang, Retno Widyaningsih menyatakan, berdasar data hasil pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Maritim Semarang, gelombang air laut di wilayah pantai utara (pantura) Pulau Jawa mencapai ketinggian maksimum 3-5 meter masih akan berlangsung hingga Kamis (7/8) besok.
”Untuk hari ini (kemarin) tinggi gelombang pantura maksimum 3 meter, besok (hari ini) bertambah tinggi menjadi 3,5 meter. Sedangkan di Karimunjawa dan bagian tengah mencapai 5 meter. Itu ketinggian maksimum yang berpeluang dalam waktu 24 jam,” jelas Retno kepada Radar Semarang, kemarin (5/8).
Kondisi gelombang diprediksi mulai berangsur turun mulai 7 Agustus. Dari ketinggian 3,5 meter menjadi 3 meter. Pada 8 Agustus (Jumat) juga menurun dengan ketinggian maksimum 2,5 meter. ”Kemudian tanggal 9 Agustus (Sabtu) ketinggian maksimumnya 2 meter. Memang puncaknya pada tanggal 6 Agustus (Rabu hari ini),” ujarnya.
Retno menjelaskan, tingginya gelombang disebabkan adanya angin dari Australia, namun lebih pastinya pihak BMKG Maritim masih mencari tahu. ”Untuk penyebab pastinya gelombang tinggi beberapa hari terakhir ini dan nanti kami masih mencari tahu, yang pasti ada angin dari Australia. Berbeda dengan gelombang tinggi kemarin yang lebih dikarenakan ada badai tropis halong di sekitar Filipina,” jelasnya.
Apakah kondisi gelombang tinggi tersebut dapat mengganggu pelayaran atau para nelayan saat mencari ikan? ”Kita cuma ngasih warning kepada instansi terkait. Untuk berbahaya atau tidaknya tergantung kondisi kapal. Dan yang berhak melarang berlayar itu Adpel (administratur pelabuhan). Kalau nelayan biasanya jika gelombang mencapai 2 meter lebih mereka sudah antisipasi,” tandasnya.
Sementara itu dari data BMKG pusat prediksi gelombang tinggi mulai 4-6 Agustus 2014 hingga pukul 19.00 menyebutkan, tinggi gelombang 2-3 meter berpeluang terjadi di laut Jawa bagian barat. Sedangkan gelombang tinggi 3-4 meter berpeluang terjadi di perairan Kalimantan Tengah. Tinggi gelombang 4 meter sampai 6 meter berpeluang di laut Jawa bagian tengah dan timur. (hid/zal/aro/ce1)