Nelayan Kecil Tak Bisa Melaut

421

Sejak Solar Subsidi Dikurangi Pemerintah
BATANG–Sejak adanya pengurangan alokasi solar bersubsidi untuk Lembaga Penyalur Nelayan (SPBB/SPBN/SPDN/APMS) mulai Senin (4/8) kemarin, ribuan nelayan di Kabupaten Batang tak bisa melaut. Pasalnya, untuk bisa mendapatkan solar bersubsidi terpaksa harus antre lama Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBB).
Antrean nelayan yang hendak membeli solar terlihat di SPBB 47.512.04 Ngupoyo Mino, Tempat Pelelanga Ikan (TPI), Desa Klidang Lor, Kecamatan/Kabupaten Batang pada Selasa (5/7) siang kemarin. Para nelayan, sudah mengantre sejak pagi hari. Bahkan, puluhan jerigen sudah berjajar di depan SPBB. Bahkan, petugas SPBB sempat kewalahan mengatur puluhan jerigen milik para nelayan tersebut.
Mastur, 52, warga Desa Klidang Lor, Kecamatan Batang mengungkapkan bahwa sejak sepekan terakhir, antrean panjang jerigen para nelayan kapal kecil mulai mengular hingga 100 meter. Namun setiap kali ada pengiriman solar bersubsidi datang, langsung habis diborong beberapa nelayan besar.
“Mestinya nelayan dengan kapal kecil didahulukan oleh pengelola SPBB, jangan solar langsung dijual kepada nelayan besar,” ungkap Mastur, pemilik kapal dengan kapasitas 10 gross ton (GT).
Mastur juga mengatakan bahwa kebijakan pemerintah mengurangi solar bersubsidi saat ini tidak tepat. Pasalnya, usai libur panjang Lebaran, sebagian besar nelayan mulai melaut secara bersamaan. Bahkan, konsumsi solar nelayan di bawah 30 GT justru meningkat hingga 40 persen dari biasanya. Sehingga, tingginya permintaan yang dibarengi adanya pengurangan solar bersubsidi tersebut, membuat nelayan semakin terpuruk.
“Solar bersubsidi boleh dikurangi, tapi jangan saat ini. Jangan di saat semua nelayan melaut secara bersamaan usai libur Lebaran. Harusnya pengurangan solar bersubsidi di bulan November atau Desember, di saat nelayan mulai banyak yang tidak melaut, karena cuaca kurang bagus,” kata Mastur.
Pengelola SPBB 47.512.04 Ngupoyo Mino, TPI Desa Klidang Lor, Kecamatan/Kabupaten Batang, Hadi Erwansyah membenarkan adanya pengurangan pasokan solar bersubsidi mulai awal Agustus lalu sebesar 20 persen. “Kini dari 20 pengiriman solar bersubsidi setiap bulannya, kini tinggal 16 kali pengiriman dalam sebulan,” katanya.
Sebelum ada aturan baru, imbuhnya, setiap kali dikirim solar bersubsidi sebanyak 3200 liter untuk setiap pengiriman. Sekarang, hanya dikirim 2560 setiap pengiriman. “Itupun tidak lagi 20 pengiriman dalam sebulan, namun hanya 16 kali. Makanya solar bersubsidi mulai sulit dicari, karena setiap kali datang langsung habis,” jelas Hadi.
Sementara itu, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Kabupaten Batang, Warnoto, menegaskan jika kondisi pengurangan solar bersubsidi masih terus dilanjutkan, nelayan akan ramai-ramai protes.
“Saat ini, nelayan belum komplian akan adanya pengurangan solar bersubsidi. Namun, jika solar mulai sulit dicari dan nelayan tak bisa melaut seperti biasa, pasti akan banyak nelayan yang komplain,” tegas Warnoto. (thd/ida)
Solar Diborong Pemilik Kapal Besar