Satpol PP Sita Dagangan PKL Bandel

362

BALAI KOTA – Pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di kawasan larangan sepertinya menganggap enteng tindakan penertiban yang dilakukan Satpol PP Linmas selaku penegak perda (perda) Kota Semarang. Sudah berulang kali dirazia, namun para pedagang tetap ngeyel. Ancaman sita barang dagangan juga tidak membuat para PKL jera. Setiap kali usai dirazia, ketika petugas pergi pedagang kembali membuka dasar di tempat larangan tersebut.

Seperti keberadaan PKL di tiga kawasan larangan yang dirazia petugas Satpol PP Linmas, Senin (11/8) kemarin. Yakni di Jalan Agus Salim, tepatnya di depan gedung Johar Shopping Center (JSC), kawasan Kokrosono, dan Jalan Patimura. Geram dengan sikap pedagang yang tidak mengindahkan sosialisasi dan teguran petugas, maka satpol PP kemarin bersikap tegas dengan menyita sejumlah barang dan fasilitas berdagang milik pedagang. ”Barang kita angkut dan kita bawa ke kantor, barang tersita tidak boleh diambil lagi. Kita tidak akan mengembalikannya,” terang Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat Satpol PP Linmas Kota, Aniceto Magno Da Silva usai menggelar razia PKL di tigal lokasi.

Tindakan tegas itu dilakukan lantaran selama ini usaha satpol PP memberikan sosialisasi dan peringatan kepada pedagang tidak dihiraukan. Janji tertib dan tidak akan kembali lagi hanya sebatas di mulut saja. Aniceto mengklaim, dari sekitar 100 pedagang yang dirazia, ada sekitar 50 dagangan yang disita. ”Yang kita amankan tadi tenda jualan, dan sejumlah barang dagangan seperti ember, kursi, dan lain sebagainya. Meski mereka datang ke kantor dan membuat surat pernyataan tidak mengulangi lagi, kita tetap tidak akan memberikan barang dagangan mereka,” tegas Aniceto.

Selain menyita sarpras dagang PKL di Jalan Agus Salim, petugas juga mengamankan sejumlah barang dagangan milik PKL Kokrosono. Menurut Aniceto, kawasan Kokrosono nantinya akan dijadikan sebagai area promosi Kota Semarang. ”Kami minta pedagang tidak kembali lagi, karena tempat itu nantinya akan kita gunakan sebagai area promosi, seperti memasang MMT hasil pembangunan dan tempat-tempat wisata yang ada di Kota Semarang,” ujar Aniceto.

Dalam razia kemarin, pedagang terlihat kalang kabut ketika para petugas penegak perda datang menggunakan mobil operasi dan truk. Sejumlah pedagang yang tahu kedatangan petugas langsung refleks membereskan barang dagangannya dan langsung membawanya pergi menggunakan becak. Namun ada beberapa pedagang tidak sempat menghindar dan mengamankan barang dagangannya. Alhasil petugas pun menyita barang dagangan mereka. Para pedagang hanya bisa pasrah saat petugas mengangkut ke dalam truk. ”Sudah jelas dan sering saya katakana, keberadaan PKL ini melanggar Perda Nomor 11 Tahun 2000 tentang ketentuan PKL. Mereka membuat pemandangan kota menjadi semrawut dan mengganggu arus lalu lintas,” tandas Aniceto.

Selain PKL, parkir liar di kawasan Jalan Agus Salim juga tak luput dari razia yang dilakukan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) di waktu yang sama. Sepeda motor yang terparkir di kawasan larangan langsung digembosi bannya oleh petuas. Sementara juru parkir (jukir) yang menarik uang parkir di kawasan larangan tersebut juga turut diamankan. (zal/ce1)