Banyak Latihan Soal, Sehari 2 Jam Main Game

307

Tak semua siswa berprestasi memiliki jam belajar yang tinggi. Ada pula yang belajarnya biasa-biasa saja. Contohnya Michael Agung, yang baru saja meraih medali emas di ajang Korea International Mathematics Competition 2014.

EKO WAHYU BUDIYANTO, Kaligawe
BAGI sebagian siswa, matematika dianggap sebagai momok dan pelajaran yang sulit dan menakutkan. Tidak sedikit pula yang beranggapan matematika merupakan pelajaran yang membosankan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Michael Agung. Siswa SMP Karangturi ini justru sangat menyukai pelajaran ini.
Saat ditemui Radar Semarang, Selasa (12/8) kemarin, Michael Agung menceritakan kecintaannya kepada mata pelajaran tersebut, hingga dirinya mampu meraih medali emas di ajang Korea International Mathematics Competition 2014 yang digelar akhir Juli lalu.
Dalam kompetisi mapel matematika tingkat dunia itu, Michael –sapaan akrab Michael Agung— mampu mengalahkan peserta dari puluhan negara. Keikutsertaannya dalam kompetisi tersebut lantaran ia mampu menyisihkan pesaing-pesaingnya dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2014. Dalam kompetisi yang digelar setahun sekali tersebut, Michael meraih medali emas, Piala Champion serta first runner up.
Michael mengungkapkan, prestasi tersebut merupakan kelanjutan dari lomba OSN 2014 yang diikuti sebelumnya. ”Sebelumnya saya meraih juara dalam OSN 2014 bidang matematika tingkat nasional yang berlangsung di Padang, Sumatera Barat,” paparnya.
Dari kejuaraan tersebut, diambil lima peraih emas dan tiga peraih perak tertinggi untuk diikutsertakan dalam International Mathematics Competition yang berlangsung di Korea.
”Jadi ada 8 orang yang mewakili Indonesia. Terbagi dua kelompok masing-masing empat anggota,” papar bocah kelahiran Semarang, 11 September 2000 tersebut.
Meski bertanding di tingkat internasional, siswa kelas 9 tersebut tidak merasa minder dan takut. ”Persaingannya cukup ketat, untuk soal, jika dibandingkan dengan soal OSN memang lebih sulit, tapi itu tidak menjadi kendala,” katanya sembari menyebut peserta dari Tiongkok dan Bulgaria sebagai lawan terberat.
Saat ditanya tip dalam mempelajari matematika, Michael mengaku semuanya mengalir saja. ”Sewaktu mengikuti lomba memang latihannya lebih banyak, tapi kalau dalam sehari-hari mengalir saja. Seperti teman-teman pada umumnya, waktu belajar ya belajar, kalau mau bermain ya bermain,” akunya.
Ia mengungkapkan, jika dirinya hanya memahami setiap materi yang diberikan oleh guru di kelas. Setelah di rumah, ia baru latihan soal sendiri. ”Matematika itu intinya kita harus banyak latihan,” ujar pencinta game online ini.
Siswa yang bertempat tinggal di Jalan Tlogosari Raya I No 104 ini mengaku teknik belajarnya seperti siswa pada umumnya, yakni belajar saat ada ulangan harian dan saat ada ujian semester. ”Di rumah malah jarang belajar. Orang tua juga tidak menuntut harus belajar terus,” kata putra pasangan Tjiptono Nugroho dan Lilyana Inneke ini. Yang menarik, setiap hari, agar tidak suntuk, Michael selalu ada jadwal khusus untuk bermain game maksimal selama 2 jam. (*/aro/ce1)